Nineteen eighty six vs two double o eight

What would you like to be in 2028?

What would you like to be in 2028?

Tahun 1986, dua puluh dua tahun yang lalu saya memulai babak baru sebagai mahasiswa. Usia saya masih 20 tahun. Perasaan saya mungkin juga sama seperti para mentee saya dan teman-temannya sesama maharu di Ma Chung. Bedanya, sebagai mahasiswa saya tidak punya mentor. Yang ada hanya dosen PA, itupun tidak dekat. Belum ada blog, jadi kalau suntuk dan mau curhat ya hanya bisa di buku harian, atau dipendam sendiri sampai lupa karepe dewe. Tidak ada sarana untuk orang suntuk yang sedikit narsis kayak blog atau Friendster sekarang.

Dua puluh dua tahun yang lalu dunia jelas berbeda banyak dari sekarang. Tantangan dan harapan anak-anak mudanya juga pasti tidak sama dengan tantangan mahasiswa sekarang. Jaman dulu saya dan teman-teman tidak punya ponsel, yang namanya laptop nggak kleleran seperti sekarang, bahkan desktop pun masih jarang. Dunia nampaknya masih aman-aman saja.

Tahun 2008, karakteristik dan tantangan para mentee saya sudah sangat lain. Global warming, mentalitas instan, erosi nasionalisme, neoliberalisme, semakin ketatnya persaingan di dunia kerja, kecakapan interpersonal, soft skills, adalah beberapa dari kata-kata kunci yang menjadi bagian hidup dari generasi Y sekarang ini.

Saya kadang-kadang merenung: dua puluh tahun dari sekarang, 2028, akan menjadi manusia seperti apa para mentee saya ini? Pada saat itu saya sudah siap-siap mau pensiun, atau bahkan sudah mati, kalau ramalan/harapan Ibu saya benar (lihat posting berjudul “My Mother” di patrisiusdjiwandono.blogspot.com ). Akankah mereka menjadi generasi hilang, tersapu oleh dampak pemanasan global yang mencairkan es di kedua kutub bumi dan menenggelamkan dunia? Ataukah mereka menjadi zombie, yang hidup, bernafas, makan, tapi sudah jarang berpikir kritis dan hanya ikut arus budaya dominan saja? Atau mereka justru menjadi pionir dunia baru di bidangnya masing-masing, generasi yang benar-benar menerapkan “Thinking Out of the Box” sampai tuntas? Yang membuka dan menjalani bidang lintas ilmu yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh para mentornya saat ini?

Saya tidak tahu. Yang bisa saya lakukan hanya menjalankan fungsi mentoring saya sebaik-baiknya. Hoping for the best and preparing for the worst.

Ini jaman edan. Undoubtedly. Persis seperti film “Millenium” yang saya sangat suka: manusia-manusia yang sekilas normal, tapi ternyata membusuk di dalamnya, atau meratap kesepian, atau melolong kesakitan. Nilai-nilai sedang berubah sedemikian cepatnya, dan manusia mulai merasa kram otak menghadapinya. Hanya, karena harus jaim, apalagi kalau Anda seorang mentor, Anda akan berupaya mati-matian untuk tidak memperlihatkannya. Mati-matian, sebelum akhirnya mati beneran.

Apapun yang nanti akan terjadi di 2028, saya hanya bisa berharap saya telah menyumbangkan sedikit warna dalam lukisan kehidupan para mentee. Apapun yang mereka lakukan, entah jadi dosen, pengusaha sukses, penjaga toko, pemusik indie, karyawan biasa, makelar tanah, pelawak, badut ulang tahun, artis, penguras septic tank, penggali kubur, analis keuangan, atau ibu rumah tangga, semoga mereka bisa menikmatinya dan mensyukurinya.

(bersambung, entah kapan . . . )

13 Comments

  1. Wah…

    Well, I guess U should have know about this: I prefer see positively…

    Beberapa hari ini saya sedang… kalut..? Apalah namanya ^^ hehehe

    tapi saya selalu mencoba untuk menghindari semua masalah dengan… berpikir positif. Atau kalu sudah susah cari kemungkinan positif… Saya akan ‘jalan sambil merem’.. Hehehee ^^

    But, after I’ve read this posting… I feel down.. again… Huheheh ^^

    Just want to say that… Jangan kuatir pak, semua akan jadi orang sukses. Sukses sesuai pilihan mereka ^^

    SMANGAT!!

  2. wah pak g pernah tu saya bayangin be2rapa thn lgi qt smw akan gmn. pokokna yang pasti (entah ntarnya nih tpi y jangan terjadi d….). qta bakal melakukan yang terbaik kali ini,saat ini dan detik ini.
    pokoknya ntar klo qta(para mentee2) dah lulus (amennnn) kita g akan prnh mw ngelupain mentor kita yang paling ciamiiik ini. orang yang bikin kita semw bisa kuat ada di lingkungan bru ni…. ntar sya bakal crita ma ank2 sya klo mentor jaman sya kuliah d ma chung tuh mantan ketua redaksi metro tv lw….(bangga dunkzzz…he…he…he…)

  3. pak…
    waktu di radio saya pegang acara cintanya anak – anak remaja…
    waktu di tv, saya juga pegang acara curhat – curhat…
    sama temen – temen… juga jadi tempat curhat…
    mungkin…
    intuisi saya lebih tajam terhadap perasaan orang…
    dan sejujurnya pak..
    saya merasa bapak bimbang…
    atau mungkin gelisah..

    ya mungkin saya nggak bisa membantu bapak (bukan mungkin sih… tapi pasti…)
    tapi keliatan low pak…
    keliatan dari sinar wajah bapak.. (wadoh… kayak bikin puisi ini…)
    ya… intinya terlihat dari sikap dan raut wajah bapak…

    anyway…
    hukum alam… semua berganti.. smua berputar…
    tapi impian dan cita – cita dan harapan kalo dari hati nggak pernah berubah pak…
    jadi tenang ajah… kita pasti berusaha semaksimal mungkin untuk jadi sukses..
    apalagi saya… (bapak tau tow… cita – cita saya…)
    kalau pun ada halangan…
    ya pasti kita solve lah pak… dengan semaksimal mungkin…
    kalo mentok…
    kan ada bapak… yang bisa memberi saran… (hwee…hwee…)
    kalo mentok… ya… kembali pada hati dan tuhan..

    tapi baca tulisan bapak ituw..
    saya jadi merinding-disko de pqak…
    kayak apa ya next time saya…

  4. Ade dan Bio, makasih untuk komentarnya. Ade betul, lakukan yang terbaik untuk saat ini, dan seterusnya terserah Sang Nasib. Makanya kan ada semboyan Bekerja Sambil Berdoa, maksudnya kita wajib berupaya tapi tetap saja Tuhan yang menentukan. Eh, tapi kapan sy pernah jadi redaksi Metro TV, wa ha haha ! Enggak, saya mah editor beberapa jurnal aja.

    Bio, postingmu selalu bikin heboh at least for me. Kok tau kalau saya sdg gelisah atau bimbang? Padahal tadi waktu mentoring di kantin kamu memilih duduk sama group lain to? Hayoo, kok tau hayoo?

    Ya, sebagai mentor saya mesti bisa kasih saran atau model, jadi enggaklah kalau saya bimbang. Tadi itu kelihatan bimbang soale mikir mau makan lagi apa enggak? Ha ha ha! Udah makan, tapi liat Pamela nyantap spageti sy jd kepingin:)

    Next time kamu kayak apa? Well, you determine, Bio.

    Cheers,
    Patrisius

  5. Terima kasih Pak Patris atas tema tulisan yang menggugah nurani kita untuk sejenak merenung esensi hidup ini. Tulisan Bapak menggiring saya kepada pandangan Darwin mengenai “the survival of the fittest” yang mau tidak mau merupakan fenomena hidup yg sungguh terjadi, dalam pengertian, hanya MANUSIA KUATlah yang mampu bertahan dalam seleksi alam untuk terus bertahan hidup di lingkungan yang sungguh-sungguh super edan ini. Tentu kualitas ketahanan hidup yang diharapkan menurut saya pribadi bukanlah hidup untuk makan, namun makan hanyalah sebagian dari kehidupan itu sebagai jembatan untuk berkreasi dan berkarya secara kontributif dan siknifikan.
    Persoalan ini jelas menjadi tantangan kita semua karena cikal bakal kemandirian dan segala sikap yang diperlukan dalam seleksi alam tersebut sebagian besar di ‘mulai’ dari apa yang kita lakukan di lembaga Machungaiwo ini.
    Ada beberapa distorsi mentalitas yang ‘likely’ terjadi menurut hemat saya dalam situasi ini. Pertama dari pihak mahasiswa, seringkali pengajaran tertentu dr dosen dianggap sebagai sesuatu yang sulit, membosankan, tidak berguna dan sebagainya. Paremeter yang digunakan adalah instant, fun, yang serba ‘pragmatis’ di mana sesuatu harus serba langsung, enak dan kelihatan hasilnya.
    Di pihak dosen distorsi mentalitas juga kerap muncul. Bernard Shaw dengan karya drama “Pygmalion”nya merupakan contoh konkrit tentang “kebandelan, kesombongan’ seorang guru untuk menilai, membentuk dan menjadikan muridnya seperti dirinya. So murid jadi benda yang tidak memiliki ruang untuk menyatrakan dirinya.

    Well, Pak. Saya teringat akan proses bagaimana mutiara itu dibentuk. Mutiara yang begitu mahal ini ternyata dihasilkan oleh suatu proses yang menyakitkan. Binatang tiram di laut karena pergerakannya yang sulit di sela-sela karang untuk mencari makan, tanpa dihindarkan terluka oleh gesekan benda di sekelilingnya. Jelas pedih dan sakit. Untuk kesembuhan lukanya tiram ini mengeluarkan cairan untuk menyembuhkan dirinya dan secara akumulasi cairan ini akhirnya membentuk mutiara.

    “Kepedihan, kesulitan dan kesakitan yang dialami ternyata tidak selamanya buruk sebaliknya itu menjadi mutiara yang mahal yang menjadi bekal bagi kemandirian, kemampuan untuk bertana dalam seleksi alam yang semakin super edan ini”.

    To My Collegue

  6. 2028 ya Pak…. kepikirannya malah 2036 tuh Pak……

    Pada tahun 2018 pemakaian senyawa nano sebagai penyusun semua alat yang dipakai manusia semakin meningkat. Semua manusia memiliki ketergantungan terhadap nano technology yang sangat besar. Semua orang sangat tergantung dan tidak bisa melepaskan diri dari nano technology. Pengobatan bahkan menggunakan nanite sebagai robot-robot kecil yang dapat memperbaiki tubuh. Manusia tidak lagi mengalami penuaan. Bersama dengan itu, mereka memperbaiki kembali habitat dengan cara mereka. Manusia menjadi raja atas dunia.

    Pada tahun 2026, manusia tidak lagi mengalami kematian sel. Manusia mampu mengatasi tahap kematian dengan menggunakan nanocryogenic. Setiap sel yang mati diperbaiki kembali dan dapat dihidupkan. Kepandaian nanite mencapai tahap tertinggi. Artificial intelligence yang didengungkan, menjadi artificial life yang tidak dapat dihindari oleh manusia. Manusia terdesak oleh nanite…. manusia melarikan diri mereka ke beberapa pulau yang terisolasi…. sebagian besar dari populasi manusia dikuasai oleh nanites dan mereka menjadi sumber energi yang tak pernah habis bagi nanites…. Tubuh mereka menjadi baterai hidup bagi nanites.

    Pada tahun 2036. Manusia kembali memegang peranan. The third wave sudah dimulai. Dengan itu pula Tuhan merekonstruksi semuanya kembali. Apophis, asteroid yang ditengarai tidak akan menabrak bumi tertarik oleh lintasan orbit bumi dan menabrak bumi di perairan pasifik. manusia dan nanites musnah…. Tidak ada lagi kehidupan…

    lalu apa yang terjadi pada tahun 2028….???

    Seorang scientist bernama Havier Kruschenkof menemukan the nanites virus yang bisa digunakan untuk melawan nanites…. 2028 adalah tahun dimulainya suatu pengharapan… diakhiri dengan kehancuran bumi pada tahun 2036….

    he he he he he, wakakakakakak…. maaf Pak, lagi banyak masalah di hatiku makanya udah gak lancar nulis Blog dan seringkali jadi males nulis Blog dan ngelantur….. But i love apocaliptic story…. dan yang diatas itu cuma rekaan aja….

    tau gak Pak…. ternyata di bandara soekarno hatta ada 3 bukunya karen armstrong, yang termasuk di alamnya history of God, Battle of God dan satune lagi lupa…. hiks…. 160 000 each, asli lagi…. kayanya besok aku bakalan ke borneo cari ini buku…… pengen…. ada lagi…. God delusion juga ada….. gak adilllll….. malahan di times book store ada juga the nostradamus prophecy………………….. parah… buku benar2 membunuh kantong saya….. ha ha ha ha ha…..

  7. waduuhhh…percakapan antar dosen yang benar-benar heavy…..
    pusing bacanya…setara dengan materi RPL atau ALPRO mungkin.
    yang pasti sangat sulit dicerna, terutama cerita dari Mr. Hari yang udah ngelantur Abizzz dengan khayalan tingkat tinggingnya…(sekalian dibikin novel aja pak!!)
    hahaaahaha……

  8. wakakakak………. tuh side storynya Gung………..liat aja main storynya…. pasti lebih jauh lagi…. wakakakakak…

    MARI KITA SUKSESKAN PEMBANGUNAN INDONESIA INDAH 2028!!! BERSAMA oRKES MELAYU KEN AROK DAN TEMAN – TEMAN…… WAKAKAKAKAK

  9. oh yaa???? ga kebayang dah main cerita nya….(bisa bikin muntaber)

    saya mau tanya tentang kalimat terakhir tentang orkes melayu ken arok dan teman-teman itu maksudnya apa????
    sekarang saya udah ketularan lemot nya bio……..

  10. orkes melayu ken arok tuh Bli, orkes dangdut paling populer di salatiga, tempat tinggal saya… demikian penjelasan saya…terimakasih atas kepeduliannya!!!

  11. saya khan sangat peduli dengan anda…..
    peduli dengan masalh anda, keluarga anda, lingkungan anda, perasaan anda, rumah tangga anda, mobil anda, rumah anda, dompet anda, uang anda, dan segala hal yang berkaitan dengan anda….
    karena saya……Asuransi Jiwa yang tepat buat anda… 🙂

  12. Havier, I was awed by the future you create. Ok, let us deconstruct our present God and renew It; I believe the future’s development will enable us to create a new God.

    Ha ha ha, kebablasen ya! Gawat kalau sempat kebaca mentee nih:(

    PID

  13. Glodhak…. Mr. PID, please jangan dibahas …. he he he he, nanti topiknya jadi bedah buku “Thus Spoke Zarathustra” neeh, ha ha ha ha… btw, it is an interesting topic’s….. we’ll discuss it sometimes… too bad Forkomil doen’t have this kind of Philology and Philosophy forum… Hiks… T_T

Leave a Reply