Campur-campur

hmmm…apa ya?? bingung mau nulis apaan,cuma mau ngisi waktu sambil cari tugas. setelah sekian lama bersama anak-anak curcuminoid keakraban antar anggota mulai nampak, tiap anggota mulai menampakkan suaranya tidak hanya pak patris dan co-mentor serta saya (saya mah cuma asbun doang biasanya, biar mancing yang lain ikut ngomong) tapi tadi ada perkembangan, hampir semua angkat bicara meskipun dengan sedikit pancingan lagi kecuali merrie yang masalahnya ga mau diangkat ke permukaan. katanya sieh malu (malu knapa mer??). yahh….seperti biasa si Ronny mengeluarkan kata-kata banyol entah disengaja atau enggak tapi sanggat saya nikmati meski cuma beberapa celetukan. kalo pamela tadi mulai menampakkan wujud aslinya(emang dlu keliatan kayak kebo??), dia mulai banyak bicara dan banyak commentar tentang dosen (sayangnya saya ga jelas denger omongan dia dengan bahasa jawa + cadel…jangan marah bozz). Barry dan Ian masih sibuk dengan kegiatan masing-masing, tapi ga apa-apa yang penting tetep fokus dengan pembicaraan pak patris (apa iya??). buat Lili dan Andreas, kalian nampak sangat pas ketika sudah mulai bercanda saling gampar dan pukul, ga peduli yang lain lagi ngomong apa yang penting dunia milik berdua…hahahaha. dan kelihatannya kalian cocok kok (mak comblang dari bali). kalo buat steven (kalo malam Stefany) dan Gidoen (kalo malam Dian), koleksi nilai NOL kita sebaiknya segera di Lelang di MLG, siapa tau ada yang berminat…(menghibur diri sendiri).

mungkin bener atau enggak, td beberapa kali pak patris nggak melanjutkan pembicaraan dan meneruskan dengan kegiatan yang disebut “diam” dan terkadang yang lain kurang peka dalam kode ini. seperti yang pak patris bilang sebelumnya “saya bukan tipe dosen yang suka marah, tapi jika saya sudah diam itu artinya kondisi kelas sudah mulai tidak terkontrol”. (ampun pak…..kita ribut mungkin karena udah kangen…hahahaa)

nah….ini yang berbeda, biasanya para co-mentor kita selama ini selalu memberi petuah bijak namun sepertinya sedang diliputi keresahan, kegelisahan, hati yang gundah (ciieeehhhh….). entah kenapa saya sendiri aja ngga ngerti. beda dengan mentor kita yang selalu bisa menutupi masalah dengan sangat rapi, atau mungkin sudah mempunyai konselor khusus yang bisa menyelesaikan masalah beliau atau mungkin itu hanya sebuah tuntutan profesi seorang mentor yang pantang menunjukkan masalahnya kepada para mentee. apa semua mentor seperti itu?? (ga usah dijawab). kalo menurut saya lebih condong ke alasan kedua, karena mungkin beliau berfikir kalau mentornya bermasalah gimana mau menyelesaikan masalah mentee nya??. selain itu saya juga mau minta maaf kepada bapak patris kalau akhir-akhir ini saya terlalu “menunjukan siapa diri saya sebenarnya”. saya sadar kalo itu semua diatas kewajaran seorang mahasiswa dengan dosen, untuk itu saya mulai mengendalikan diri saya sehingga jadi lebih baik dan ga terlalu gendheng. tapi kalau dibandingkan saya dengan yang dlu semasih SMA, saya merasa ada perubahan. dari yang dulu parah banget jg agak mendingan.

sekarang misi saya berjuang gimanapun caranya kalo baca bahan IT yang pake bahasa inggris harus bisa ngerti. karena sekarang kalo baca materi IT, sangat susah bagi saya untuk mencari main idea nya. pokok’e beribet dan muter-muter. saya rasa ini perlu sesuatu yang dinamakan “rasa percaya bahwa saya bisa” dan lebih dalam lagi yaitu “pembiasaan”. semoga apa yang saya targetkan bisa mencapai tujuan yang diharapkan dan itu semua ngga semata-mata untuk mencari nilai tapi sebagai investasi kedepan.

Oh ya, kalo untuk masalah kaos sieh kurang menarik buat dibahas karena masih belum ada perkembangan yang signifikan. jadi tunggu aja kelanjutannya setelah saya pulang dari bali…..

Matur Suksma,

Agung

4 Comments

  1. Wah, terus terang waktu mbaca posting ini dari awal, saya nyangka ini pasti Bio atau Merry atau siapalah yang nulis, yang pasti bukan Agung. “Kalau Agung mah nggak se waras ini, ha ha ha” pikir saya. Tapi setelah sampai ke tengah baru saya sadar bahwa ini tulisan Agung. Wah, hebat! Kok tumben kamu gak gendheng kayak biasanya, ha ha ha! Iya, thanks untuk observasinya yang jeli ttg ke”diam” an saya; memang sebenarnya ketika diam itu saya memberi kesempatan teman-teman supaya lebih tenang; dan kalau nggak tenang juga, sebenarnya sy sedang diam-diam mau mengeluarkan ular yg sudah saya simpan di kantong dan saya lemparin ke para mentee yang lagi berisik itu, biar tau rasa, ha ha ha! Jadi diamnya itu benar-benar diam “berbisa”.

    Ok, Gung, thanks sudah banyak meramaikan blog ini dengan celotehanmu dan kegendhenganmu yang sebenarnya adalah bumbu penyedap di machungaiwo ini. Good luck untuk teks Inggrisnya; ya memang sulit, tapi percayalah bahwa upayamu tidak akan sia-sia; mbok ya Bio itu sekali-sekali diminta tolong mengecek pekerjaanmu yang bhs Inggris, kan dia anak Inggris.

    Curr,
    Patrisius

  2. buat temen2, kalo ada kumpul lagi jangan ribut…soalnya bisa di lempari “ular” nya pak patris…lha, khan gawat tuhhh….tapi g papa sih, khan cuma bisa diliat pake kaca pembesar…hahahhahahaha

Leave a Reply