Dijual Murah: Rasisme. Hubungi: Universitas Ma Chung

by

Patrisius

Rasisme sudah nggak laku. Mulai dari urusan bal-balan sampai panggung politik Amerika Serikat, semua mengatakan: “Say No To Racism!”. Bukan cuma nggak laku, tapi juga terkutuk. Soalnya jelas: bertentangan dengan titah Sang Pencipta ketika menciptakan dunia yang penuh dengan keberagaman ini. Keberagaman itu diberkati, merupakan bagian dari rencana Ilahi, makanya jangan malah dibunuhi tapi harus dinikmati.

 

Ma Chung sudah sejak lahir mencanangkan aspirasi Harmoni dalam Keberagaman. Judul buku antologi yang pertama adalah Harmony in Diversity; akhir semester genap lalu para mahasiswa angkatan pertama mendeklarasikan semangat toleransi dan persaudaraan dalam keberagaman. Mantap!

 

Para mentee saya pasti datang dari latar belakang yang berbeda sikap dalam hal ini. Ada yang dari sejak kecil sudah terbiasa dengan iklim plural, tapi juga pasti ada yang –tanpa sadar dan dimaui—terbiasa dengan iklim satu golongan/agama/ras/suku, bahkan juga sempat menerima wejangan (dari para ortu atau generasi terdahulu) untuk bergaul hanya dengan  golongannya saja. Yah, kalau Anda termasuk kelompok yang segregatif macam ini, saya tidak heran kalau Anda sempat kaget dengan iklim plural di Ma Chung. Tapi kagetnya sebentar aja; berikutnya Anda lah yang harus menyesuaikan diri. Mumpung masih muda; entar kalau udah keburu tua, you’d end up dying as a racist old fart!

 

Toleransi berarti menciptakan ruang bagi yang lain untuk bertumbuh bersama, menjalankan kewajiban dan menikmati haknya, tanpa harus memaksakan diri menjadi seperti dia. Saya Katolik, dan karena toleran, saya memberi kesempatan kepada para mahasiswa Muslim untuk menjalankan kewajiban sholat Jumat di tengah-tengah pelajaran Intensive Course. Tapi sampai kapanpun saya akan tetap Katolik dan tidak akan berganti menjadi Muslim.

 

Hmm, so far so good. Kalian, para mentee dan mahasiswa lain, harus merasa beruntung mendapat kesempatan untuk ditempa di lembaga yang menjunjung tinggi keberagaman seperti di Ma Chung.

 

Tapi sama seperti yang saya alami, selalu saja dalam hidup ini ada bisik-bisik yang menggoyahkan keyakinan. Beberapa komentar nyata berikut ini barangkali akan membuat Anda lebih bijaksana, lebih waspada, sekaligus menguji Anda seberapa jauh tekad Anda mengayati pluralisme:

 

“Kok anaknya tante dikasihkan ke orang Iniren sih? Eman, tante!” (dikatakan oleh seseorang dari etnis Tionghoa kepada ibu mertua saya, yang juga seorang etnis Tionghoa. Catatan: istri saya tuh etnis Tionghoa; Iniren = orang ‘pribumi’ Indonesia, kayak saya ini)

“Kalau temen elu cung kuo ren, boleh ajak ke rumah. Kalau bukan, nggak usah sampe main-main ke rumah lho!” (dikatakan seorang mama kepada anaknya yang saat itu masih kelas 3 SMA. Cung kuo ren = etnis Tionghoa).

“Pak, yang namanya rasisme itu dimana-mana ya akan tetap hidup, nggak akan pernah mati sepenuhnya biar kita mau berkoar pluralitas kayak apa juga. Yang realistis aja, Pak, memang kita sama golongan yang lain itu ya nggak bisa pas kayaknya” (dikatakan seorang rekan senior kepada saya di suatu lembaga).

“Kenapa peminat ke PTS itu turun? Karena sudah banyak dosen dan mahasiswanya yang bukan dari etnis Tionghoa! Itu pasti mempengaruhi minat calon mahasiswa yang mau masuk ke situ! (seorang rekan senior mengucapkannya kepada saya dengan penuh keyakinan, hanya sebulan setelah saya bergabung dengan Ma Chung).

“Loh, dik, ngapain masuk ke sekolah itu? Itu kan sekolahe Cino?” (dikatakan seorang saudara dekat kepada saya waktu mendengar saya masuk ke SD Santa Maria II Malang).

 

Menyedihkan, bukan? Well, itulah hidup. Kadang idealisme yang kita gagas harus berbenturan, atau setidaknya memaklumi, pendapat-pendapat kolektif di arus bawah yang tidak senantiasa selaras. Ya, sekarang terpulang kepada Anda sendiri sebagai insan berbudaya, berpendidikan tinggi, yang hidup di jagad kecil  yang menghormati keberagaman seperti di Ma Chung ini.

 

Beberapa pernyataan di atas memang kadang membuat saya tercenung. Hmm . . . gimana ya? Tapi ah, what the heck, . . .  saya sudah putuskan sikap. Jadi kalau masih mau bersikap rasis, ya, itu sangat disesalkan, tapi itu hak Anda; datang aja ke Ma Chung karena disini rasisme mah udah nggak laku, dijual murah-murah, nggak diminati lagi. Ambil aja kalau mau dan silakan bersakit-sakit dengannya.

5 Comments

  1. wah…kebetulan tuh!!! saya punya ide pak, gimana kalo bapak kerjasama dgn anak-anak entrepreneur (merrie, bio, rony,dll) buat ngejual rasisme….mumpung murah !!! siapa tau laku…..jadi untungnya bisa buat traktir saya gtu…. 🙂

  2. Ya, betul, emang mau dijual berapa? Kayaknya ditawarkan pun nggak ada yang mau. Maklum, Ma Chungers nggak rasis, kok.

    Kapan ya saya bisa nraktir kamu di kantin? Jangan lupa ajak si Merrie.

    Patrisius

Leave a Reply