Duka Cita dan Hubungan Antar Mentee

Patrisius Brooding . . .

Patrisius Brooding . . .

by 

 

 

Patrisius

 

Selasa, 28 Oktober 2008. Hari ini suasana hati agak kelabu. Walaupun jam pertama ketika mengajar Grammar  saya masih bisa guyon edan-edanan dengan mahasiswa Prodi Inggris, setelah itu yang terbayang adalah Ian, salah satu mentoo saya yang ayahnya meninggal mendadak kemarin. Saya, Agung, Steven dan Rony melayat ke rumah duka di Gotong Royong, dan kami terenyuh melihat Ian dan mamanya masih menangis terus di depan jenazah ayahnya. Pasti berat ditinggal seorang suami dan Papa secara sangat mendadak seperti itu. Baru 49 tahun. Wih, hanya selisih 8 tahun dengan saya . . .

Saya hanya bisa mengucapkan “tabah ya, Ian” kepada mentoo saya tersebut. Ya semoga dia dan keluarganya diberi kekuatan dan ketabahan dan kasih sayang Tuhan. Masa depannya masih jauh. Semester pertama di Ma Chung saja baru jalan separo. . . .

 

Kemarin saya meminta para mentee dan mentoo membuat peta sosiometri, yaitu bagaimana mereka memandang hubungan antar mereka sendiri di kelompok ini: garis lurus untuk hubungan dekat, garis lurus beranak panah untuk hubungan sangat dekat, dan garis putus-putus untuk hubungan biasa-biasa saja.  Saya mendapat tiga garis putus-putus, sisanya garis lurus dan tiga garis lurus beranak panah. Sudah saya duga. Tepat dengan perkiraan saya. Ya, gak papa, introspeksi buat saya, saya harus lebih mendekatkan diri pada ketiga mentee yang membuat garis putus-putus itu.

 

Para mentee saya kayaknya excited membaca bagaimana mereka di persepsi oleh teman-temannya sesama mentee.  Buktinya, setelah saya kembali ke kantor, mentee saya yang namanya Tokyo Mew Mew meng YM saya: “Pak, saya memang gak populer deh. Buktinya, hampir semua teman mentee memberi saya garis putus-putus . . .”

 

Terus mente saya yang lain, sebut saja namanya Shrek, juga ikutan meng YM saya: “Asem! Saya kasih dia garis lurus, eh, dianya hanya memberi saya garis putus-putus!”.

 

Untuk Tokyo Mew Mew, saya paham sekali perasaan dia. Seandainya dia membaca ini, saya ingin mengatakan hal ini kepada dia: “Jangan kecil hati. Saya sendiri juga bukan tipe dosen populer;  bahkan di kalangan dosen dan staf Ma Chung pun, saya sama sekali bukan yang populer.  Cenderung diemohi dan dijauhi, entah karena apa. Yang jelas, ada satu keyakinan saya: asal saya bekerja dengan baik, mengajar dengan sepenuh hati, menyelesaikan semua tugas, mencoba untuk selalu bersikap membantu, responsif dan tidak menjahati orang/kolega saya, saya tidak merasa terusik dengan “ketidakpopuleran” saya itu. Ya memang barangkali udah dari sononya saya dikasih aura yang membuat orang lain segan atau enggan atau bahkan gak nyaman, ya udah, tidak mengapa. Ada beberapa hal dari diri kita yang sulit sekali kita ubah, ya sudahlah, kita terima; tapi di sisi lain kita harus memaksimalkan apa yang menjadi kelebihan kita sehingga menjadi berkah bagi orang lain. Itu saja”.

 

Si Tokyo Mew Mew ini masih sangat muda; dan saya lihat dia juga punya sisi-sisi yang bisa menjadi kelebihannya kalau dia tidak terlalu tenggelam dalam perasaan nglangut karena ketidakpopulerannya di kalangan teman-temannya: sekalipun pendiam, sapaan dan senyumnya tidak pernah absen setiap kali saya ketemu dia di sudut manapun di Ma Chung, dalam situasi seramai apapun. Ramah sekali.

 

Nah, kalau untuk si Shrek, ya yak apa yaaaa? Saya tahu dia ini lagi dalam hubungan ala roller coaster  dengan mentee saya yang lain, sebut saja namanya Naruto.  Dua-duanya sama-sama emosional, reaktif, spontan, agak complicated * tapi juga saya lihat dari bahasa tubuh mereka, mereka ini sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain.  Ya, mungkin karena  kedua-duanya juga kebetulan good looking*, jadi mungkin ada sedikit sikap  “acuh tapi butuh”  ha haha!

 

Curcuminoid punya anggota baru. Perempuan, jadi sebutannya adalah “mentee”. Mentee saya yang baru ini kelihatan sedikit lebih matang dari yang lain, mungkin juga karena usianya sedikit lebih di atas para mentee lain. Tapi bukti bahwa dia tipe mature adalah ketika saya membaca sms nya: “Saya tidak mau duduk dengan orang yang sama, karena kalau gitu, kapan saya bisa kenal sama mentee yang lain”. Hmm, ini sikap dewasa yang patut ditiru nih!

 

* Salah satu bukti bahwa si Naruto ini complicated adalah ketika dia komentar di FS saya: “Pak, saya bingung mau kasih komen apa, ha ha ha!”. Tuh, kan?

 

5 Comments

  1. salah pak …..saya bilangnya “asem!! saya kasi garis putus pake panah tapi di bales garis putus2……”(lebih kejam!!)

    cuchok bgt namanya Tokyo mew mew……emng kayak kucing uh anak!!!wakkakakakaaaa…….

  2. pak.,.
    saya salut sama bapak.,
    tapi juga bingung.,
    bapak mau menyamarkan tapi gak isa.,
    atau memang sengaja membuka,.
    hmmmmmm.,.,
    sory deh.,
    emang naruto serba salah.,
    salah terus.,
    dari awal juga naruto yang salah kan.,
    trimna kasih.,

  3. Naruto,

    Saya cuma mau cerita, peduli amat efeknya gimana. Dan satu hal yang harus kamu camkan: kamu nggak salah, cuam sedikti terburu-buru dan terlalu ekspresif aja. Nggak ada yang salah, and i certainly dont want to hear anything anymore from you about being wrong or right. What matters is a little self-restraint itu azaaaaa koook.

    K’marin makan apa? Enak ya? 🙂

    Patrisius

Leave a Reply