Kenapa Saya Dicuekin???

by Patrisius

Posting ini dijlegerkan (dipicu; diilhami) oleh posting Agung “Dijual: Kacang Mahal” dan beberapa sesi curhat dengan mentee-mentee saya:

=============================================================================

Kalau kamu tahu-tahu nggak disapa sama teman baikmu atau cowok/cewek yang biasanya dekat sama kamu, wajar kalau kamu heran dan bertanya-tanya: “apa salah saya??”.

Begitulah manusia. Dalam dinamika interaksinya, masing-masing berpijak pada persepsi dan cara pandangnya sendiri. Manakala persepsi itu tidak selaras dan bahkan berbenturan, lahirlah prasangka, lalu kalau tidak ada upaya untuk saling mengklarifikasikan apa yang sebenarnya dipersepsikan, mengumpallah sikap diam. Yang lebih ‘sensi’/self-centered/manja/immature  umumnya akan menunjukkan sikap dingin dan cuek ketika bertemu, sementara kalau kamu termasuk yang lebih easy-going dan terbuka, kamu akan heran: “”apa salah saya??”.

Tapi apapun itu, ingat bahwa semuanya kemungkinan besar timbul hanya dari persepsi yang tidak sama akan satu hal.   Seorang teman baikmu kebetulan tidak menyapa karena pada saat itu dia lagi suntuk akan satu hal, atau sedang sibuk memperhatikan hal lain, atau benar-benar tidak melihat kamu datang. Atau bisa juga dia memang lagi nggak enak hati sama kamu. Kenapa nggak enak hati? Nah, ini dia. Itu hal yang perlu diklarifikasikan; sayangnya manusia pada umumnya sangat, sangat, sangat buruk dalam melakukan upaya klarifikasi ini. Jadilah lingkaran setan: saling diam menajamkan prasangka, prasangka melahirkan sikap diam, sikap diam menambah lagi prasangka, dan seterusnya sampai akhirnya hubungan yang semula baik itu berantakan. Jleggerr!! Perlu seorang mediator untuk membuka arus komunikasi yang membeku itu. Dan tugas seorang mentor adalah menjadi penengah seperti ini.

Itu juga yang saya alami ketika dua orang mentee datang kepada saya menjelang jam makan siang Jumat kemarin. Problemnya sama (padahal aku yakin mereka nggak janjian): “Pak, kenapa ya saya dicuekin sama si A??”, dan satunya: “Pak, kenapa ya tahu-tahu si B dan C tidak mau lagi say ‘hi’ ketika ngeliat saya?”

Sebagai mentor, nasihat saya sederhana saja: pertama, introspeksi dulu beberapa tindakan atau ucapan di beberapa hari sebelumnya yang mungkin membuat temanmu tersinggung. Kedua, kalau ternyata tidak ketemu, mulailah menyapa duluan, atau setidaknya senyum duluan ketika ketemu. Jika temanmu bukan orang autis atau sedang kesurupan, sebagai manusia biasa dia tidak akan bisa mengingkari insting sosialnya untuk balas menyapa atau tersenyum*.  Senyum dan sapaan itu bahasa paling universal untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antara manusia. Nah, kalau ternyata ini tidak berhasil, kamu harus datang ke co-mentor atau mentormu untuk curhat dan minta saran**. Curhat membuat kamu merasa lega (kalau bisa nangis lebih baik karena air matamu mempunyai fungsi penyembuh luka batin); minta saran membuat mata dan pikiranmu terbuka akan solusi-solusi yang sebelumnya tak pernah terpikir olehmu karena kau sedang heran, sedih, bahkan marah.

Kemungkinan terburuk adalah setelah curhat, dan memulai menyapa dulu, ternyata teman baikmu itu masih saja bersikap pahit sama kamu. Kalau ini terjadi, oke, nggak usah berupaya lebih keras lagi untuk membuka diri.  Tapi juga jangan kemudian membalas menunjukkan sikap bermusuhan. Jadi ya usahakan wajar saja: kalau ketemu ya menyapa sekilas, gak balik disapa ya sudah (ingat, sebagai orang yang memulai sikap baik lebih dulu, amalmu lebih besar daripada dia); kalau memang harus bicara karena tugas, ya bicaralah seperlunya.

Ingat, tidak ada seorang pun yang jauh dalam hatinya merasa nyaman mempertahankan sikap cemberut dan bermusuhan. Kita tidak dirancang oleh Sang Alam untuk  hidup dan bersuka cita dan survive dengan menumbuhkan dan merawat  sikap bermusuhan;  oleh karena itu, percaya atau tidak, teman baikmu itu juga suatu ketika akan kembali pada naluri dan kerinduan sosialnya  akan hubungan yang hangat dengan kamu sebagai teman baiknya. Dan tahu-tahu, eh, dia mulai menyapa lagi, mulai hangat lagi, mulai ngecipris lagi ketika ketemu kamu . . .  dan kamu pun tersenyum lega: welcome back, my best friend!!

Dengan kata lain, paragraf di atas bisa diringkas dengan satu kalimat yang sangat mengena: TIME IS THE BEST HEALER.

 

Saya senang ketika setelah aku jalankan fungsi mediasi yang cukup asertif tanpa harus intrusif ini, salah seorang mentee yang mengalami masalah itu akhirnya meng sms gue: “Saya rasa kami sudah berbaikan kembali. Trims ya, Pak!”.

 

Salam Cuuur,

Patrisius

===========================================================================

*Saya yakin hal ini karena mengalaminya sendiri beberapa kali. Sebagai orang yang—duluu sekali– memang sensi dan jaimnya agak  over dosis, saya langsung luluh ketika beberapa rekan/teman memulai menyapa duluan, padahal ketika itu hubungan kami sedang tidak enak. Jadi ingatlah, wahai pembaca, apa yang saya tulis di atas bukan cuma sekedar teori, tapi sudah field-tested karena berdasarkan pengalaman pribadi.

 

** Tidak berlaku untuk pembaca yang bukan dari Univ. Ma Chung. Hanya Ma Chung satu-satunya universitas di jagad raya ini  yang membekali mahasiswanya dengan mentor.

 

7 Comments

  1. yukz eneh bgt klo qt tu dicuekin…….

    tpi byasanya c krna miss communication doank……

    klo satu uda g nyapa ( g tw alasannya ttg apa mngkn g lyat to lge suntuk) yang lain jga iktan g nyapa d alhasil jdi diem2 an d….

    itu srng bgt aq alamin ………hikz T_T……

  2. Time is the best healer…. Setuju deh kayaknya.. Dan kata2 itu sepertinya menuju sebuah kata lainnya: SABAR….

    Hh… Another phlegmatis thing ahead… SEMANGAT!!!

  3. kok aku ngrasa dicuekin ya?? kok dia gak perhatian lagi ama aku sih?? aku kan seneng kalo diperhatiin kayak dulu lagi.. kenapa sih kamu?? gak suka aku diginiin!! gak suka! perhatiin aku lagi dunk…

    lah??

  4. wah…ternyata nyuekin orang itu enak!!!!gilaaa….uuueennakkk benerrrr…..sumpah deh!!!
    silahkan coba……gua udah nyobain….
    ada rasa gimana gitu…..wakakakakakaa…..

Leave a Reply