November Rain

Wet Drops from the Heaven . . .

Wet Drops from the Heaven . . .

by

Patrisius

 

Hujan turun lagi. Mak bres, begitu saja. Saya sengaja berdiri di balkon rumah di lantai atas,  membiarkan tempiasan hujan dari tepian atap memerciki wajah dan leher. Ketika hujan turun makin lebat, bukannya masuk, saya malah memajukan badan sedikit ke depan, dan untuk pertama kalinya sejak saya berhujan-hujan pada usia  sekitar 7 tahun, saya berhujan-hujan lagi.  . .

November Rain. Sambil merasakan tebasan air di kepala saya yang sudah tambah botak sambil sedikit memicingkan mata karena aliran air, saya membiarkan kelebatan memori yang membuat bulan November sebagai bulan penuh kenangan, selain bulan basah. . .

November 14, 21 tahun yang lalu untuk pertama kalinya saya berkencan dengan istri saya, yang waktu itu masih mahasisiwi polos usia 17 tahun, di kampus IKIP Malang (sekarang sudah berganti jadi Universitas Negeri Malang).

November tanggal 16 adalah hari ulang tahun seorang mantan mahasiswi yang pernah menjadi bagian dari sepenggal sejarah  ‘dahsyat’ hidup saya. . . . tahun ini tentunya dia merayakan hari jadinya yang ke 37, . . . Happy birthday, S*****y.

November ternyata juga bulan dimana para mentee saya berulang tahun: Andreas, Merrie, dan Bio. Begitu saya tanya usia mereka, saya terhenyak mendengar jawabannya. Wih, mentee-mentee saya ini ternyata masih “bayi” (soalnya saya dulu juga dikatain begitu sama teman ketika merayakan HUT ke 25). Happy birthday to you all!

November 1 sampai 3, lima tahun yang lalu saya pertama kalinya menyajikan paper saya di luar negeri. Videonya masih saya simpan, dan sampai sekarang baru saya lihat setengah kali. Ternyata saya tidak cukup kuat melihat penampilan diri sendiri di depan khalayak  ramai . . .

November 4, setidaknya setiap 4 tahun sekali merupakan penentu pemimpin AS, yang sedikit banyak juga mengimbas pada nasib banyak negara berkembang seperti Indonesia. Dan Obama pun jadi Presiden! (lihat posting tentang Obama di blog ini).

November ternyata juga bulan penuh tantangan. Saya mulai kewalahan menghadapi sebagian mentee yang mulai dirundung masalah. Sebagian beres lewat makan bersama di kantin atau curhat via YM, tapi sebagian malah mengatakan: “Leave me alone . . .!”.  Aduh, mak  . . .

November, dua ribu delapan, untuk pertama kalinya saya sadar sesadar-sadarnya betapa saya telah menapaki satu babak baru dalam hidup dan karir saya di Universitas Ma Chung. Sembilan bulan di Ma Chung rasanya seperti sembilan abad, dan saya telah bermetamorfosa  entah untuk ke berapa kalinya di universitas SIALAN* ini . . .  

November .  .  .,

selebihnya adalah kenangan basah,

bau bumi merambat naik dari tanah yang basah,

 hawa sejuk merasuki kantor yang gerah,

postingan blog mentor ‘gendheng’ yang membuat jiwa tambah gelisah,  

seberkas doa untuk membuat hati jadi tabah,

basahnya bumi adalah basahnya wajahmu menengadah memohon berkah . . .

 

SIALAN = akronim dari “Semangat, Indah, Aman, Luar Biasa, Alim, Narsis”.

 

 

 

 

 

Leave a Reply