How Frustrating and Silly Your Love Story Can Be

by Patrisius

Suatu sore di sebuah ruang di UMC:

“Saya ini jahat kah, Guru? Saya merasa kasihan agak mengacuhkan dia dan melabuhkan perhatian pada yang lain.”

“Tidak, kamu tidak jahat. Kamu ini masih muda, ya ampuuun, baru juga ulang tahun ke 18! Sangat wajar manusia seusiamu masih banyak menimbang-nimbang, mengumpulkan banyak kawan, dan, y’know, go easy with them tanpa harus terburu-buru memutuskan harus jadian dengan si X, atau si Y, atau si V. “

“Iya, tapi banyak yang bilang saya kok tidak seperti dulu lagi ke dia? Banyak yang bilang saya jahat karena tidak bersikap perhatian sama dia seperti dulu”.

“Lho, lha emang kamu sama dia apa sudah jadian? Sudah pacaran?”

“Belum”.

“Lha, makanya! Lha wong sejak dulu juga masih HTS (hubungan tanpa status) kecuali teman biasa, kok bisa-bisanya kamu merasa seolah-olah sudah terikat hubungan ‘tertentu’ dengan dia dan sekarang merasa bersalah. “

“Iya, tapi teman-teman dan juga ada Guru lain bilang saya kok jadi gitu sih?”

“Listen, girl. Kamu ini sudah delapan belas; sudah saatnya untuk bisa berpikir mandiri tanpa harus terlalu terpengaruh omongan teman-teman. Use your mind. Think clearly. Kalau kamu mengacuhkan dia dan terang-terangan menghindari dia, ya itu namanya jahat. Tapi kalau kamu ketemu dan menyapa dia dan omong sekedar tanya kabar dan sebagainya, itu namanya wajar. Tidak jahat. Dari dulu waktu ketemu pertama kali juga begitu kan? Sama teman-teman pria yang lain juga begitu kan? Apanya yang salah? Kamu harus yakin bahwa kamu tidak jahat, tidak sedang melukainya.”

“Tapi gimana ya kalau dia merasa ditolak?”

“Ditolak, diterima, jatuh bangun dalam masalah asmara itu biasa buat pria. Itu satu tahap yang harus dilalui setiap pria, bahkan setiap manusia. Itu biasa. Itu namanya growing pains, sakit yang memang harus sakit karena sedang bertumbuh menjadi lebih matang. Kamu tahu, waktu seusia dia, saya nih naksir lima kali ditolak enam kali, bayangkan, mesakno tenan tow? Tapi tahap itu sudah berlalu; sudah dan harus saya lalui, dan setelah lepas usia itu jadi oke-oke saja tuw, malah sebaliknya hew hew hew”.

. . . [merenung]

“Ok, ya? Saya mesti kembali ke kantor nih. Entar hujan lagi; tadi gak bawa payung, soale kapok waktu mbawa malah kamu nunut; begitu kembali eh dinunuti kakak kelasmu, haw haw haw!”

Leave a Reply