Seks, Uang, atau . . .atau . . . Apa Dooongng??!!

by Patrisius

 

Suatu sore di Yahoo Messenger chatting:

“Bapak, saya ingin married pada usia muda”.

“Kenapa?”

“Ya, supaya waktu anak saya udah besar, dia masih bisa melihat mamanya muda, he he he . . .”

“Hm-mm. Eh, coba kamu pilih salah satu dari antara keempat alasan menikah muda berikut ini: (1) status sosial, (2) proteksi, (3) seks, (4) jaminan finansial; (5) kebersamaan dengan seseorang yang dicintai. Yang mana yang pas buat kamu?”

Hmm . . . sebentar . . . . . . . status sosial? Mmm . . . enggak tuh . . . nggak pernah kepikiran kesitu, married cuma untuk meningkatkan status sosial.”

“Hm-mm. Terus, proteksi?”

“Mmmm . . . enggak juga ya. Saya nikah bukan untuk cari proteksi; saya udah gede, udah dewasa, dan saya bisa melindungi diri sendiri; so, bukan, bukan proteksi yang saya cari”

“Okay. . . . Seks?”

“Seks? Mm, nggak, nggak pernah kepikiran yang begituan.”

“Lha kalau gitu . . . yang mana? Jaminan finansial?”

“Wah, ini lagi, tambah gak abiss. Saya tuh bisa nyari uang dewek; lha makanya saya sekolah tinggi biar bisa cari nafkah sendiri, gak ngandalin suami”.

“Mmm, good. Jadi kalau gitu, yang terakhir? Kebersamaan dengan seorang yang dicintai?”

“Ya,. . . mm, . . . iya, ini kayaknya yang pas buat saya. Married supaya bisa menjalani kebersamaan dengan seseorang yang saya cintai”

 

“Hmm . . . . Eh, kamu tau nggak bahwa kamu sudah saya jebak?”

“Heeh? Kok isa?”

“Iya. Dengan mengatakan bahwa kamu ingin nikah supaya bisa menjalani kebersamaan dengan seseorang yang kamu cintai itu berarti kamu juga menginginkan 4 pilihan yang sebelumnya: seks, jaminan finansial, proteksi, dan status sosial”

Haah? Masa iya?”

“Ya iyaalaah. Lha apa mungkin kamu hidup bersama dengan suamimu kelak tanpa menikmati kehidupan seks, tanpa ada jaminan dana yang cukup, tanpa mendapatkan proteksi dari suami, dan tanpa perduli dengan status sosialmu di mata umum??”

“Hmm . . . (sambil memaki “kurang ajar aku dijebak”). Benar juga ya? Benar juga! Iya, emang gitu sih, Pak”.

“Ha ha ha. Gotcha! Kena kau!”

“Woooo . . . ternyata benar apa yang Guru Pamong saya katakan: Bapak ini pinter sekali memancing orang! Kali ini saya yang kena! Duh, . . . . AWAS YAA!”

===================================================================

[********* * is now offline]

[*** is  now offline]

Sekelebat bayangan melesat turun dari lantai 2 BakPer. Sementara itu, sebuah pintu di Rektorat lantai 1 menjublak terbuka; sang penghuni tergesa-gesa berjalan keluar seolah takut dikejar bayangan tadi. Belok kiri, langsung amblas di Balai Pertiwi main badminton sama lao shi dan dosen TI sampai malam . . .

 

5 Comments

  1. hihihi..
    jadi keinget cerita syeh puji dan ulfa… tuingtuingtuing..

    kira2 apa kemungkinan alasan terbesar dan terlogis ulfa untuk mau menikahi syeh ya???

  2. he..he..
    bapak…
    berapa banyak korban dari jebakan bapak itu??
    dan kayaknya bapak bangga banget yah bisa menjebak…
    HO…HO…
    it’s make me think again kok pak…
    sperti yang saya bilang d ym..
    manusia itu EGOIS!!!!!
    smoga isa lbh dewasa yah pak… saya..

    nyambung punya grace…
    iyo..yoh…
    kira2 alasan apah itu…
    wedeew…

  3. Iya, Bio, sometimes when talking to you I really feel you are soo young and inexperienced and temperamental . . . you need to experience more and listen to experienced people like your lecturers. You need to fall and cry and hurt badly sometimes, but you are not out coz soon you’ll rise again and be a better Bio.

    Patrisius

  4. emang saya maseh muda kan pak…
    bapak ajah,. yang ngomongnya terlalu tua…
    ha,,,ha,,,
    ngak lah pah..
    that’s trully me..

    Yah iyah…
    saya masih butuh banyak…banyak…banged experience..
    dan so far bapak menjalnkan peran bapak sebagai sosok seorang mentor,sosok seorang dosen dan sosok seorang bapak… dengan sangat baik.
    Terim kasih pak.

Leave a Reply