Tahu Rasa!

by Patrisius

“I have feelings, too.”

“Saya juga punya perasaan, Pak”.

Astagafirullah . . . saya terhenyak mendengar en membaca beberapa ungkapan dari beberapa orang di jejaring sosial maya saya. Perasaan. . . .

Rasanya sudah lama sekali saya mematikan tombol “ON” untuk perasaan ketika melakukan banyak interaksi dengan berbagai orang yang sempat singgah di hidup dan karir saya. Rasanya selama ini saya berinteraksi dengan mengandalkan logika doang, pikiran analitis, dan cara pandang “IF THIS THEN THAT”, “IF you take this you will get that”, “If you don’t do this you won’t get that”.

Sangat logis. Tapi kering perasaan.

Saya merenung, menghadirkan kembali beberapa orang yang saya kenal dan sempat melakukan kerja sama atau berinteraksi. Kolega, rekan kerja, para mahasiswa, dan para mentee, diantaranya. Iya, ya, kayaknya memang selama ini saya sangat logis. Nah, karena terlalu logis, saya lupa ada sisi perasaan yang sangat “tidak logis” yang dalam banyak kasus malah sangat dominan.

Sekarang saya tahu mengapa saya kadang nyaris frustrasi dan tidak habis pikir melihat cara pikir beberapa orang yang sempat berinteraksi dengan saya. Ternyata kuncinya bukan memahami cara pikir mereka, tapi merasai bagaimana mereka merasa. Dalam banyak masalah yang melibatkan bukan sekedar logika, nampaknya saya harus belajar membedah masalah dengan sikap “coba saya rasakan apa yang kamu rasakan”, dan bukan “coba saya runtuti secara logis apa yang kamu pikirkan”. Lha ya pantas saya nyaris frustrasi, karena “cara pikir” dan “perasaan” memang sulit untuk selaras. Yang pertama bisa dilakukan dengan cepat karena hanya mengandalkan kajian premis mayor dan minor, atau if-then, sementara yang kedua memerlukan empati, kesabaran, dan kadang-kadang juga sikap diam/sabar, serta tindakan yang “tidak masuk akal/logika sehat” namun sering sekali justru memecahkan kebuntuan masalah.

Hmmm . . . . mmm . . . . Perasaan . . . Feee-liiing . . .

Jadi kalau suatu ketika ada mentee atau mentoo saya yang bermasalah dan curhat ke saya, mungkin dia akan kaget melihat saya diaaaaamm saja.

“Pak, kok diam aja??”

“Huss, tenanglah kau. Saya sedang berupaya keras merasakan apa yang sedang kamu rasakan”.

FEELING ROCKS!

5 Comments

  1. nah! ternyata perkiraan saya selama ini tidak salah!
    saya berpikir bahwa, pikiran itu logis, dan seringkali kelogisan itu jadi “jahat”, aha! mungkin karena itulah Tuhan menciptakan perasaan dalam diri manusia.

    pikiran butuh penyeimbangnya, dan untuk itulah perasaan ada.

    sesuatu yang terlihat kadang-kadang tidak bisa dirasakan. tapi sesuatu yang tidak terlihat biasanya bisa terlihat ketika dirasakan.

  2. Grace, memang benar. Tapi, eits, tunggu dulu. Apa hubungannya dengan laki-laki dan perempuan?

    Good comment, Grace. A+ 🙂

    Patrisius

  3. hubungannya adalah, laki-laki identik dengan pikiran, dan perempuan identik dengan perasaan…

    jadi?

    laki-laki memang tak bisa hidup tanpa perempuan..gak ada penyeimbangnyaaaaa…wakakakkaakakkkkkkk

    makanya, laki-laki…
    jangan macem-macem sama perempuan…
    you can’t live without us! ;))

  4. Sama kok, Grace, wanita juga nggak bisa hidup tanpa pria. Coba, kalau nggak ada pria blas di muka bumi, apa iya masih bergairah fitness, make up, fashion, hair do segala macam? Wa ka kaks!

    “Woman! Without her, man is nothing”

    “Woman, without her man, is nothing”

    Ayoo, pilih sing mana hayoooo??

    Patrisius

Leave a Reply