Yogya Tour: Feichang hao!

by Patrisius

Ma Chung, 5 Des 08. Woooo-hoooeyyy!…begini rasanya terdampar di tengah anak muda sekarang. Wuuu-huiiii! Celoteh dan ungkapan riang, spontan, narsis, ngawur bahkan cabul, diselingi gelak tawa keras bahkan kadang histeris tak putus-putusnya memenuhi ruang udara di bis yang membawa kami dari Ma Chung pas jam 8.15 malam hari Jumat itu ke Yogya. Di tengah jalan Pak Handiyo bergabung duduk di sebelah saya.

Ketika malam mulai larut, keriuhan pun mereda. Ketika mampir di Ngawi tengah malam untuk istirahat, saya bilang ke Roro kita yang duduk semeja dengan saya: “Baru kali ini lihat murid-murid saya dalam keadaan ngantuk, tanpa polesan, setengah awut-awutan. Tadi ketemu si C, saya lihatin aja, ‘ini siapa ya? Kok ikut di rombongan Ma Chung?’. Eh, gak taunya mahasiswi saya dewe, he he he. . . !”

Pas jam 5 pagi tiba di penginapan Apartemen Sejahtera. Kejutan pertama: ternyata karena kekurangpahaman, pengaturan kamar yangsudah rapi direncanakan dari Malang tidak bisa diberlakukan. Akibatnya, saya ‘terpaksa’ berbagi satu blok dengan beberapa mahasisiwi. Yah, celaka tiga belas, apa kata duniaaaa?? Tapi kami semua Ma Chungers, jadi mah udah terlatih yang kayak beginian. Seperti seolah sudah sepakat, sekalipun harus berbagi kamar mandi, toliet, dan sedikit ruang privasi, saya yang dosen pria dan para mahasiswi itu lancar aja keluar masuk melakukan kegiatan rutin tanpa ada masalah.

Ready to visit Sanata Dharma

Ready to visit Sanata Dharma

Jam 8 pagi setelah sarapan kami jalan kaki ke Univ. Sanata Dharma yang letaknya hanya sekitar 100 an meter dari situ. Disambut dengan hangat oleh Ketua Jurusan dan beberapa puluh mahasiswa berjas krem. Ketika giliran memperkenalkan rombongan para dosen Tionghoa dari UMC, saya akhirnya sukses mengucapkan “These are our Zhongwen lao shi. . . . . Xie xie!”. Semua pada tepuk tangan, salut karena mungkin gak nyangka saya bisa ngomong Mandarin dengan baik dan benar walau hanya sepenggal.

Acara selanjutnya naik turun tangga diantar oleh mbak dan mas mahasiswa Sadhar, berkeliling melihat berbagai fasilitas pembelajarannya: lab bahasa, workstation, SAC, perpustakaan . . . wih, lemezz juga dengkul pada akhir tur kampus Sadhar yang luas itu. Tapi seneng juga mendengar pujian untuk para mahasiswa saya: “You have great students, Sir!”. Bukan basa-basi. Memang, anak-anak saya ini dengan aktifnya tanya ini itu, sopan, antusias dan secara keseluruhan benar-benar menunjukkan kualitas mereka yang Ma Chung bangeeetzz, gitu loh.

The students touring Sanata Dharma

The students touring Sanata Dharma

Nah, acara berikutnya adalah paduan suara dan drama dari para mahasiswa dan mahasiswi Prodi Inggris UMC. Saya benar-benar dibuat takjub, tersepona (ini bukan salah cetak, memang itu kata yang menggambarkan ‘terpesona abiss’) melihat penampilan Adel, Monica, Lilian, Rendy, Reki, Ivana, Vania ketika nyanyi membawakan “Ode to My Family “ (this is one of MY FAVE SONGS of ALL TIME!) dan “I Believe”. Aduuuhh mak, ampun mbok de, uenaaak tenaaaann! Tidak berlebihan kalau para mahasiswa Sadhar jadi spontan memberikan apresiasi mereka dengan ikut-ikutan berlenggak-lenggok dan memberikan kreasi mereka sendiri di penghujung acara. “That was fantastic. You have great voice,” saya tanpa sungkan langsung memuji mereka habis-habisan begitu selesai. Feichang hao, xue sheng!

Adel Monica Lilian Vania Ivana Reki n Randy. Awesome songs!

Adel Monica Lilian Vania Ivana Reki n Randy. Awesome songs!

Zai Jian, Sadhar. Tujuan selanjutnya: UGM, setelah makan siang super kilat di atas bis. Sambutan disini tidak semeriah di Sadhar, karena banyak mahasiswanya yang sedang pengabdian masyarakat. Tapi toh kami tetap dihibur dengan Taikodrummingnya mbak Maya, orang asli Amerika yang fasih sekali bicara bahasa Indonesia bahkan Jawa, kemudian oleh penampilan komikal Grace, Sagita, Bio, Barda di Miss MO-ORE. Di tengah acara Taikodrumming, Thomas tergopoh-gopoh mendekati saya, “ Pak, minta tolong diterjemahkan ke Bahasa Inggris untuk para lao shi, krn mereka gak ngerti apa-apa!” Saya setengah tergesa mendekati dua orang lao shi yang kelihatan agak be-te, dan mulai menerjemahkan ucapan-ucapan dari panggung. Di akhir sesi, saya terhenyak, “loh, bukankah Thomas itu murid saya di kelas Translation and Interpreting; lha kan dia sendiri benernya bisa menerjemahkan untuk kedua xiao jie ini?” Wah, pinter bener si Thomas, dosen Translationnya malah dikasih kerjaan interpretation kilat! Tapi gak papa lah, berkat ulah si Thomas saya jadi tahu nama-nama para lao shi kita itu (setelah dengan setengah malu-malu menanyakan “sorry, ni jiao shenme mingzi?”). Jujur, saya sendiri benar-benar belum tahu nama mereka satu persatu walaupun mereka udah ngajar di Ma Chung hampir satu semester.

Kuesseell, langsung mak gedumbrang membentur bed di hotel dan pulas. Bangun menjelang jam 6, mandi, langsung tancap lagi ke pusat pia, lalu Malioboro. Beli pia, gula kacang, kripik ketela, dan guyon-guyon sama Grace, Bio, Teddy (agak lebay sih guyonnya, sampe pada pose tertentu ketika Bio dan Teddy mengapit saya, saya mengingatkan, “eh, jangan, . . . ntar saya dan Pak Teddy kena SP lho!” Hua ha ha haaaaa! ‘Dua manajer di Ma Chung bisa langsung ilang,” kata Teddy, disambut tawa kesurupan oleh yang lain termasuk saya).

Makan malam di Gudeg Ahmad. Uenak, Cuma ya itu, masakan Jateng cenderung manis dan kurang pedas. Tapi Wang Kun Yu Xian Sheng suka tuh. Nasi gudegnya tandas, kecuali kreceknya. “Ini apa sih?,” tanyanya. “Rasanya aneh . . .”. Waktu saya jelaskan, wajah herannya langsung berubah ‘tewas’ , mungkin kuaget bener bahwa dia barusan mencoba makan kulit sapi!

Terus ke Malioboro. Dijatah belanja satu jam! Wuih, saya ikut blusukan sama Peng Jie dan Wang Kun Yu, cari segala hasil kreasi batik. Saya yang pada dasarnya tipe nggak suka ribet milih dan nawar langsung dapat 4 biji untuk orang-orang di rumah. Peng Jie nampak terkesan sekali waktu tahu bahwa saya cari oleh-oleh untuk istri, anak-anak, dan ibu mertua. “So good husband, so kind Daddy!” pujinya, looking straight into my eyes with her crushing smile. Menit berikutnya, dia pas-paskan dua celana pendek di pinggangnya, dan bertanya ke saya, “Ini mana yang paling pas buat gue?”. Dhiengngng!! Saya tunjuk satu setelah secepat kilat membayangkan tampangnya memakai yang itu. Dia letakkan satunya, memandang ke pilihan saya di pinggangnya, kemudian menatap saya lagi, “Masak ya yang ini bagus buat gue??”. Gedumbrangng!! Ampuun, Xiao Jie, wis embuhlah, ha ha ha! Ni jin tian hen piao liang aja deh, whichever shorts you choose.

Wang Kun Yu belanja dengan antusias, tapi setiap kali dia dapat barang bagus, dia bilang ke saya, “please, bargain for me!”. Alamaak, mampus deh, saya tuh tipe pria gak suka nawar; kalau belanja di toko istri saya jauh lebih lihai menawar. Tapi karena harus ja-im sebagai host, saya pura-pura fasih menawar. Yah, lumayanlah, Wang lao shi bisa dapat beberapa barang dengan harga cukup miring.

Kembali ke hotel hanya dua jam menjelang tengah malam. Langsung pulas setelah tukar kamar dengan Grace dkk. Wo men hen lei.

Hari kedua hujan rinai. Makan pagi dan check out jam 8,langsung melesat ke Kasongan, terus ke pusat kerajinan perak. Perasaan gue, para mahasiswa lebih banyak berpose daripada membeli barang, deh. Ya, taktik bagus di jaman hampir resesi kayak gini. Terus ke Kraton Sultan. Di tengah hujan cukup deras, saya jadi guide amatiran untuk Wang Kun Yu. Seneng juga sih melihat warisan sejarah leluhur saya, dan juga tempat kakek saya mengabdi jaman dulu (kakek saya adalah seorang abdi dalem Kraton di masa kolonial Belanda dulu).

Me and Wang Kun Yu at Kraton Yogya

Me and Wang Kun Yu at Kraton Yogya

Lepas Kraton, bis dipenuhi dengan nyanyian para dosen, staf, dan mahasiswa. Bintangnya tentu saja Pak Daniel, dengan gitar di tangan dia lantunkan lagu-lagu yang mengalir renyah begitu saja. You rock, man! Nggak kalah serunya adalah Pak Teddy, yang dengan ‘garang’ meminta semua harus mau nyanyi. Bahkan Wang Kung Yu pun tidak luput diancamnya: “If you don’t sing you must down!” (maksudnya, kalau kau tak nyanyi, tak turunkan kau di tengah jalan). You must down, ha ha ha ha! Tapi begitu semua pada rame-rame meminta dia nyanyi (“Ko Ted-dy! Ko Ted-dy! Ko Ted-dy!” begitu gegap gempita mereka), Teddy jadi salah tingkah dewe, pura-pura gak dengar, pura-pura tidur, sampe akhirnya dia nyerah: “Ya wis nanti aku tak turun di Borobudur aja!”, disambut ketawa dan sorak sorai seisi bis.

Jam berikutnya adalah jam-jam menahan lapar, karena restonya masih jauh di Magelang, menjelang Borobudur. Baru nyampe disana jam 3 sore. Sepanjang jalan sunyi senyap, sampai saya tanya pak Daniel: “Murid-murid kita di belakang ni apa masih hidup ya??”.

Begitu selesai makan siang, bis jadi riuh rendah lagi penuh tawa, celetukan, nyanyian hooligan dan guyonan kacau abis. Kembali saya komentar ke Pak Daniel: “Persis kayak manuk habis dikasih makan kroto, ya? Langsung berkicau!”.

Borobudur makin mistis menjelang jam tutup dan gelayut awan mendung menebar gerimis. Gak tahu gimana, saya terdampar lagi di salah satu stupa sama Peng Jie. Dengan sopannya, dia mendekati saya dan minta saya memotret dia di dekat stupa, karena batere kameranya habis (untung dah batere elo abis, kalau kagak, mana sempat minta difoto Patris).

Me and A Stupa at Borobudur

Me and A Stupa at Borobudur

Lagi enak-enaknya mengagumi stupa, ada tawa dari atas. Ternyata Bio dan Grace diam-diam memotret saya. Grace menunjukkan salah satu hasil jepretannya ke teman-temannya, dan mereka tertawa ngakak. Kampret! “Mentee Bapak ini kurang ajar,” kata salah satu. “Iya, “ saya jawab sambil ketawa juga. “Kalau nggak kurang ajar mah bukan mentee saya namanya.” Yah, siapa dulu mentornya. Glodak!

Mentee Super Jahil

Bio n Grace: Mentee Super Jahil

Menuju jalan pulang, Grace masih bisa aja membuat saya terpingkal-pingkal dengan aksi gilanya. Lha masak mas-mas dan mbak-mbak penjual suvenir dia bikin mati kutu karena dipotretnya satu-satu ketika tengah gencar menawarkan jualannya. “Nih, lihat, ciyeee, malu-malu juga nih dianya!” kata Roro Sableng ini memamerkan hasil jepretannya, berupa seorang mas yang kelincutan ketika dia potret.

Berikutnya adalah perjalanan panjang ke Malang, diselingi makan malam di daerah Ngawi, dan pidato kesan dan pesan dari saya dalam keadaan setengah tertidur (krn benar-benar lagi pulazz ketika disodori mikropon). Para lao shi dan staf juga dapat kesempatan melontarkan kesan pesan singkatnya. Intinya, semua senang dapat kesempatan tur kayak gini, karena menambah pengetahuan, refreshing dan menambah keakraban antara rekan, mahasiswa dan dosen.

Jam 4 pagi Ma Chung Da Xue menyambut kami kembali dengan selamat, walau ngantuk dan penat. Thanks God for this blisfull blessing. Yogya trip is definitely one of the highlights of my life story in Ma Chung 2008.

Salut buat Pak Daniel Ginting. Benar-benar tour leader yang patut dapat bintang: senantiasa energetik, antusias, penuh perhatian dan sabar sama anak buahnya yang tingkah dan maunya kadang macam-macam, belum lagi genjrengan gitar dan suaranya ketika menyanyi memeriahkan suasana. You rock, man!

4 Comments

  1. Mantap tenan nih…blog ini saya copy dan dipresentasikan di hadapan anak Inggris semester 3…mereka senang dan terpingkal-pingkal dengan gaya Pak Patris yang kocak. Ok trims Pak

  2. wakakakakakakkkk..saya ngempet2 ketawa di perpus waktu baca post ini..untung saya masih sadar kalo ini bukan di bus, tapi di perpus..

    wah! jogja..oke deh..mungkin bukan jogjanya yang oke, tapi perjalanannya dan peristiwa2 sepanjang 3 hari itu..

    mungkin kalo tahun depan ke bandung ato bali ato singapore, gak bisa seprti jogja pengalamannya..tapi lebih! wekekekekekkk

    Pak, masa study tour sekali selama 4 tahun si???

  3. wah pak..fotonya mini sekali !! saya aa belum sempat ngepost….ingatan saya kabur..glodak.. keren pak blog nya..membuat mmemory saya mengingat cerita lalu ^^ in smoking area we sang like insane people.. bener pak kalo dikasi makan baru bunyi lagi ^^ hahahaa…. bener2 mnyentuh hati ^^

Leave a Reply