Sitinurbaya

“katakan….pada mama, cinta bukan hanya harta dan tahta….pastikan….pada semua hanya cinta yang sejukkan dunia!!”

Bener-bener ga habis pikir, dijaman modern seperti sekarang ini masi ada aja istilah perjodohan. Di saat handphone berkamera 5 mpix, laptop dengan processor quad core, dan berbagai gadget terbaru lainya (emang apa hubungannya??), kq masih aja ada sepasang pengantin yang menikah karena paksaan orang tua. Apa para orang tua merasa sangat yakin kalau itu memang yang terbaik bagi anaknya? Atau ada udang dibalik wajan…eeehhh dibalik batu maksudnya (udangnya malu ga pake baju).

Hampir setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya (ga semua lho!!), mereka tidak ingin melihat pada nantinya anak mereka menjadi menderita atau lebih buruk dari sekarang. Itu memang suatu hal yang wajar, namun apabila berlebihan maka tanpa disadari mereka telah mengubur kebebasan memilih dan mengabaikan arti pentingnya cinta. Meskipun terkadang tampang menjadi nomer sekian asalkan si calon menantu tersebut tajir atau sederajat. Hal ini tentunya menyudutkan kaum hawa yang secara terpaksa “menerima” takdir mereka demi obsesi orang tuanya, merelakan kebebasan nya dicuri. Bagi yang mempunyai prinsip ‘kacang’ mungkin akan mulai belajar mencintai pasangannya sehingga lama – lama jadi cinta beneran. Tapi bagi yang memiliki prinsip kuat maka kemungkinan besar jalan yang ditempuh adalah kabur atau jika sudah terlanjur maka sang istri akan berusaha membuat konflik dengan sengaja agar dapat segera bercerai (perkiraan saya).

Sayangnya tradisi “aneh” seperti ini masih ada(sedikit), meskipun tidah se-extreme jaman doeloe. Di keluarga besar saya yang diutamakan adalah kasta, mereka lebih memandang seseorang berdasarkan kasta dibandingkan harta (terkadang bisa terbalik sih). Di bali itu ribet banget, ga bisa dibikin enteng….misalnya kalo saya menikah dengan seseorang yang berbeda kasta maka istri saya akan diberi nama baru dan nama depan anak saya akan berbeda dengan seorang anak dari pasangan yang memiliki kasta sederajat, Itu seperti ada aturan-aturan nya. Bahkan terkadang ada diskriminasi tentang masalah diatas terutama dalam upacara pernikahan.

Untuk menghindari hal tersebut maka para orng tua mereka mencarikan jodoh (mengingat populasi orang berkasta lebih sedikit) untuk anak mereka, parahnya biasanya dinikahkan dengan saudara ( hubungannya agak jauh sih). Terkadang cara yang mereka tempuh dapat dikatakan SALAH BESAR, kenapa? Mungkin anda tidak percaya bahwa masih ada orang yang menggunakan “magic” gitu deh…..believe or not, saya liat langsung para korbannya dan medengar langsung cerita-cerita dari sumber yang bisa dipercaya. Apesnya, salah satu korban ternyata baru sadar bahwa dia di beri guna-guna ketika mereka sudah menikah. Sang wanita tentu saja langsung shock, marah, dan merasa sangat benci. Akibatnya dia ga mau mempunyai anak dan berusaha untuk “menjajah” sang suami sampai sekarang!
Gimana nasib saya??

@P.Patrisius :
nieh pak gw beri…..!!

4 Comments

  1. thankds, Gung, skrg rame deh! Ya, sial bener ya org kawin aja dijodohin. Kayak sapi. Ya u told me about your culture. Lha terus yak apa, Gung, kamu mesti nikah sama org satu kasta. Brarti gak bisa cari gebetan di UMC dong:)

    patris

  2. wah gung jangan2 ntar kmu bakal dijodohin ma ortumu lge?!?!?!!

    misalnya ya orng yang dijodohin kayak omas mw pa ga hayo?!?!?!?!?

    hwe…hwe…hwe…

    yang tabah ya bli……

  3. nah! jadi sementara belum tiba waktu penjodohan buat agung..maka sekarang saatnya buat agung untuk cari gebetan di machung.. ya gak gung?

    alamat banyak korban neh…

Leave a Reply