apakah ada waktu yang tepat?

hujan rintik-rintik, udara lembab dan dingin. jaket krem saya basah karena air hujan yang menetes dari ujung-ujung rambut panjang hitam saya. desember yang hujan.. hujan tak berhenti. seperti kasih di hati. kasih seseorang di hati saya.

saya pulang larut malam itu. Ibu saya masih terjaga. saya cukup terhenyak ketika mengetahuinya masih belum pulas di bawah selimut kesayangannya. “kok belum tidur, ma?” tanya saya begitu membuka pintu ruang tamu. saya melihat beliau sedang asyik di depan komputer sembari berenang-renang dalam asap rokoknya. “airmu udah mateng tuh, mandi dulu biar gak masuk angin.” katanya tanpa menjawab pertanyaan saya.

saya bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh saya yang lekat dekat hujan malam itu. uap mengepul, membumbung dan memenuhi ruang. mata saya terpejam saya teringat beberapa tahun silam, ketika beliau memandikan saya pagi-pagi karena saya harus berangkat sekolah padahal mata saya masih setengah tertutup. saya masih kelas 1 SD waktu itu. uap yang sama yang saya ingat, lengkap dengan raut wajahnya tidak berubah walau sekarang terdapat kerutan-kerutan panjang di sekitar dahi dan matanya, pertanda kehidupan yang telah dilaluinya.

uap memudar, saya dalam keadaan bersih sekarang. secangkir susu putih kesukaan saya telah siap di meja, tinggal sruput kemudian tidur. saya punya kebiasaan sebelum minum susu, saya suka hirup dlaam-dalam aromanya yang gurih. dari situ saya tahu, bahwa ini susu racikan tangan Ibu saya atau bukan. dan malam itu, saya tahu beliau yang meraciknya untuk saya. saya tidak bisa dibohongi sola rasa masakan atau segala sesuatu yang buatan aseli Ibu saya. saya tahu dan hapal betul. saya selalu ingat seperti saya ingat berapa jari yang terdapat di tangan saya.

namun malam itu tidak sehening malam yang sebelumnya. saya bertengkar cukup hebat karena masalah sepele. Ibu saya merasa bahwa saya tidak punya waktu untuk berada di rumah, sekedar berbincang dengannya atau membuatkannya secangkir kopi seperti dulu. saya memang paling mahir membuat kopi untuk Ibu saya. saya tahu berapa takaran untuk kopi dan gulanya. namun saat itu, saya merasa sudah bukan waktunya saya melakukan hal itu terus. ada banyak hal lain yang harus saya lakukan, mengejar impian saya, meraih masa depan saya, berkenalan dengan orang baru, mewujudkan keinginan-keinginan terpendam bahkan menghabiskan hampir 3/4 waktu saya di depan komputer. toh apa yang saya lakukan juga untuk beliau. saya juga yang harus bayar keperluan rumah tangga, saya juga yang harus bayar listrik, air dan biaya internet saya sendiri, bahkan uang taxi saya salam sebulan. saya ini sudah besar, bisa berdiri di atas kaki saya sendiri. jangan larang saya untuk tidak melakukan apa yang saya mau.

pintu dibanting. prek! saya gak punya waktu untuk berdebat, lebih baik saya tidur. ada banyak pekerjaan yang harus saya lakukan besok.

pagi-pagi saya bangun dan segera bersiap untuk kegiatan pagi itu. saya harus kesini kesitu, ketemu sini situ, menyelesaikan ini itu. saya melesat pergi tanpa pamit.
dalam perjalanan menuju tempat aktivitas, saya melihat seorang Ibu dengan wajah pucat mendekap erat anaknya. sang anak menggigil, karena pagi itu luar biasa dingin memang. sang ibu juga menggigil, ia telah menanggalkan beberapa lapis bajunya untuk menghangatkan buah hatinya. tapi tidak sesederhana itu sepertinya. betul saja, sang anak sedang demam tinggi. Ibu tersebut harus berjuang melawan dingin untuk membawa sang anak ke rumah berobat terdekat. tiba-tiba saya melihat wajah sang anak. saya terkejut hebat. saya pucat. ia adalah saya.

seketika saya berada dalam lorong waktu yang tidak asing dalam ingatan saya. saya melihat betapa Ibu saya berusaha melindungi saya ketika saya harus koma untuk beberapa hari dengan selang infus dimana-mana. saya melihat bagaimana Ibu saya berdoa tangah malam untuk keselamatan anak-anaknya. saya melihat bagaimana Ibu saya pergi meninggalkan saya karena rapat yang tidak bisa ditinggal. saya melihat bagaimana Ibu saya harus lari-lari mengejar saya karena takut saya bolos lagi. saya melihat bagaimana Ibu saya bersikeras untuk mengambil saya dari Ayah saya. saya melihat bagaimana Ibu saya menahan pedih karena pengkhianatan. saya melihat bagaimana Ibu saya menjadi keras karena kehidupan yang seolah tak berpihak kepadanya. saya melihat bagaimana Ibu saya tetap berjalan tegak diantara fitnahan. saya melihat bagaimana Ibu saya mengaduk-aduk adonan kue dengan tangannya yang kasar untuk kemudian hasilnya dijual. saya melihat bagaimana kantung mata Ibu saya semakin hari semakin tebal karena kurang tidur. saya melihat bagaimana tetes air mata Ibu saya ketika mengetahui kakak saya hamil diluar nikah. saya melihat bagaimana Ibu saya menatap saya dan berbicara lewat udara bahwa ia tidak akan membiarkan saya pergi. saya melihat bagaimana Ibu saya lelah akan kehidupannya. namun pada saat yang bersamaan, saya melihat bagaimana Ibu saya tetap berdiri dengan kaki ringkih untuk melihat saya berhasil. saya tidak menyadari air mata saya sudah merelung-relung di wajah. saya berhenti seketika itu juga. dan berlari kembali ke rumah.

saya berdiri di depan pintu. Ibu saya sedang berusaha memakai syal sebagai pelindung lehernya. Ia menatap heran kepada saya. saya hanya ingin berkata “maafkan aku. aku sangat mencintaimu,ma..maafkan aku.” tapi kata-kata itu terhenti terhambat sesaknya udara di sekitar saya. Ia mendekati saya,”kok balik? ada yang ketinggalan?”. saya diam. “aku pergi ngajar ya.. tuh ada makanan di meja, belum sarapan kamu.” saya semakin diam, sementara Ibu saya berlalu pergi. saya mendengar bunyi pagar ditutup dan suara langkahnya menjauh. saya lemas. saya tersedu-sedu.

kapan saya bisa mengatakannya? saya tahu kalau perbuatan lebih penting daripada kata-kata. tapi kata-kata punya kekuatan tersembunyi yang luar biasa dahsayat yang bisa mengubah kehidupan. saya terlalu gengsi untuk mengatakannya dan saya terlalu malu untuk mengakuinya. saya ingin sekali mengalahkan ego saya, memang benar, mengalahkan diri sendiri adalah hal yang luar biasa sulit. saya tak ingin menunggu sampai tanggal 22 desember. saya takut hari itu tidak akan pernah datang. saya takut saya tidak akan pernah bisa mengatakannya. saya takut kehilangannya…

jadi, kapan saya harus mengatakannya?

Graceforevah.

One Comment

  1. Tulisan yang menyentuh di Senin pagi. Good food for thought. Aku kira hampir semua anak pernah merasakan hal ini: ditimang-timang ketika kecil, dirawat ketika sakit, dan ketika sudah besar mengatakan dengan lantang kepada tangan seorang Ibu yang telah membesarkannya: “Please, let me have my own life. I gotta things to do, ambitions to reach, dreams to realize”.

    Saya masih seorang anak, tapi juga sudah seorang ayah. Kelak mungkin putra atau putri saya akan melakukan hal yang sama kepada saya. Tapi apakah mereka akan kembali seperti Grace? Atau keep going on with their lives?

    I’m speechless. Tapi saya suka sekali membaca postingan ini. Khas Grace. Walaupun tulisannya tidak mengenal huruf besar di awal kalimat, tapi caranya berkisah sungguh memikat. Feichang hao!

    Patrisius

Leave a Reply