Rooster Game

Gideon lawan Andreas dalam Rooster Fight. Gdubraak!!

Gideon lawan Andreas dalam Rooster Fight. Gdubraak!!

Wah wah wah ^^ jadi malu sndiri nih ^^;… pertama kali nulis disini.. Permios yah… ;P

Begini, para pembaca dan khususnya mentee2 serta mentor yang sangat saya cintai (opo iyo… hehehehe, pake istilah Pak Budiono), tadi kan di kelas curcuminoid, kalian sempat bermain “Rooster” game, dan Pak Patrisius juga telah sharing tentang filosofi2 yang bisa kita dapat dari permainan ini. Diantaranya ada filosofi tentang kemamuan kita dalam bertahan dan berjuang terus, PANTANG MENYERAH!!! Yeah! Smangat!!

nah, setelah beberapa saat saya berpikir tentang permainan itu, (maaf.. baru disampein sekarang, tadi saya mikirnya kelamaan.. hehehehe)
ternyata, ada salah satu karakter dari 12 karakter Ma Chung yang bisa kita kembangkan dari permainan itu, yaitu DINAMIS.

Mengapa begitu? (ceile..)

Agung vs Barry in a rooster fight

Agung vs Barry in a rooster fight

Saya tadi menyadari fenomena yang menarik: ketika bermain dan berusaha bertahan, tidak ada pemain yang diam di tempat. Mereka semua berloncatan kesana kemari, demi menjaga keimbangan dan berusaha agar tidak jatuh. Lalu lalu lalu, bagaimana ya? Berusaha biar gak jatuh tapi kok malah jadinya kayak nari2 gitu? Gini, menurut buku yang saya baca (wehehehe, gak kok), maksudnya, menurut pengamatan saya, mereka yang jadinya kayak nari2 itu, sedang berusaha mengikuti alur permainan lawannya. Mereka maju mundur, goyang kanan goyang kiri, tarik ulur (kayak org PDKT aja…), seru deh, tapi itu bukan buat efek dramatis doang, tapi berusaha menerima kekuatan lawan, iya toh? (biar gak main, saya bisa tetep mbayangin lho.. whehehehehe). Nevertheless, ada yang berdiri begitu tangguh dan kuat, kemudian berusaha mendominasi permainan, langsung saja kita sambutnya… Gideon!! Salut deh buat mentee satu itu, dia sangat percaya diri sama kekuatannya. Tapi salut juga sama Didi, walopun akhirnya kalah, tapi menurut saya, dia selalu jadi pemenang, terutama dalam hal mengalahkan dirinya sendiri dan keraguan orang lain. Saluutt!!!

Bio mati-matian berusaha menjatuhkan Grace . . . Tough mentees!

Bio mati-matian berusaha menjatuhkan Grace . . . Tough mentees!

Nah, kembali ke topic, dinamis. Dari permainan ini, kita jadi tahu, bahwa menjadi kuat itu bukan hal yang utama. Menjadi kokoh, teguh, keras, memang itu sepertinya cara paling klasik untuk bertahan. Tapi ada cara lain yang bisa kita gunakan untuk bukan sekedar bertahan, tetapi juga menang. Mari kita bicara tentang arena permainan di mana kita sekarang berada, yaitu “kehidupan”. Menjadi kuat, powerful, berkuasa, apa pun lah itu namanya… ternyata bukan cara yang cerdas. Ada terobosan baru, yg sebenernya gak baru2 amat, untuk bertahan dan berjuang, yaitu menggunakan fleksibilitas.

Ada contoh lain, ketika ada badai, topan, angin, kentut (eh! yg ini gak kok… hehehehe), berita yang di tipi2 itu kan selalu berbunyi: beberapa pohon besar tumbang diterpa angin puting berilung.. beliung”. Mereka ndak bilang: “rumput2 dan ilalang ditemukan patah keesokan harinya” Itu artinya, menjadi keras itu sebenernya tidak perlu. Jadi, ketika kita punya tujuan atau keinginan, jangan pernah menyerah, tapi juga jangan paksakan keadaan.

Sementara itu dulu, any comment?

by: Adelia

3 Comments

  1. Adel, thanks ya postingnya! Mengena sekali, memang itu yang kita ingin tanamkan kepada para mentee: sikap gigih, pantang nyerah, tapi juga luwes dan dinamis. Kamu berbakat jadi mentor Adel! Kemarin sebenarnya saya mau rooster fight lawan kamu, tapi saya sungkan soal e kemungkinan saya pasti akan ndlosor lagi kayak di Balai Pertiwi hari Selasa:)

    Patrisius

  2. Woooooww… menarik…!!!!
    Tapi sayang sekaleee saya ga ikutan……!!!!!
    Saya kemaren mengunjungi kelas curcuminoid tetapi jam sudah menunjukkan pukul 12.30 artinya tinggal setengah jam lagi Anda melakukan mentoring….. buat apa coba…
    saya melihat ada Ibu co mentor yang satu ini
    Saya kaget setengah medet tau gitu saya dateng dari awal sebelum ngurus KRS……..

    Tapi saluuut deh….
    klo liat fotox seru bgt deh yang cewe kaya nari
    yang cowo kaya gladiator gitu…
    Hohohoh
    tapi Pak Patris kok ga ikutan se…
    Pasti Hebooohhh…
    laen kali saya bakal tanding ama Pak Patris deh…..
    hehehehheheheehhehehehehehe
    Becanda ding…..^^

  3. Ika, ya, setuju, dari kemarin saya nggak mau turun gelanggang krn belum nemu lawan yang sepadan (kalau cowok terlalu tinggi, kalau cewek, saya sungkan, ha ha ha haaa!); nah, ternyata lawan yang pas adalah kamoe! 🙂

    Patrisius

Leave a Reply