Ma Chung tuh Macho ATAU Feminin, Bukan Banci. . .

by Patrisius

Saya prihatin melihat beberapa “komedian” kita di TV yang jelas sekali mengeksploitasi kebancian sebagai sarana penggelitik tawa. Nurut saya, yang kayak gituan nggak lucu blas. Malah menyedihkan, pathetic, dan jelas-jelas menunjukkan mentalitas sakit jiwa berat.

Apanya sih yang lucu dari banci? Mereka itu malang, tidak beruntung menjadi perempuan menempati badan yang salah. Makanya reaksi yang benar adalah simpati kepada mereka, bukannya malah menjadikan kecacatannya sebagai amunisi banyolan!

“Lho kalau nggak mbanci nggak lucu, Pak?” Aaah, . . . siapa bilang? Lihat aja komedian kelas dunia seperti Charlie Chaplin atau Mr. Bean atau The Three Stoges, apa iya pernah menunjukkan lagak kebanci-bancian untuk memancing tawa? Suka nonton Conan O’Brien atau Jay Leno? Mana pernah mbanyol dengan gaya banci?? Toh tetap laku keras!

Makanya, kalian nih kan punya segudang potensi, termasuk melawak. Siapa tahu di masa depan ada yang kecebur dan menikmati basahnya dunia perlawakan atau minimal host yang mbanyol. Oke, deh, itu bagus, tapi camkan kata-kata saya: jangan berbanci-banci hanya supaya orang lain menganggap kamu lucu!
Tawarkan humor dan lelucon yang jauh lebih cerdas, sedikit nakal tapi tajam, dan tetap mampu mengundang gelak tawa.

Wokeee??? Okeee . . . !!

3 Comments

  1. Que Siera Siera (bener g ya… ^^;) Whatever will be will be..

    Mungkin karakter banci di Indonesia tuh uda jadi trademark yg menjual, pak. Ada pelawak cowok, ada pelawak cewek, kok g bisa ada pelawak banci..
    Banci juga manusia toh, jadi mereka juga punya hak untuk memilih profesi mereka, toh masyarakat kita bisa menerima. Hehehe

    Menurut saya penerimaan mereka ini adalah simbol pengakuan tersendiri, dan saya rasa mereka ndak akan keberatan. Hehehe

    Tapi memang, menertawakan kekurangan org lain adalah lawakan yg sama sekali tidak profesional menurut saya. Baik itu dilakukan pada banci, cowok, cewek, atau org cacat lainnya.

    So, I think qta memang seharusnya tidak memungkiri keberadaan waria. Hehehehe. Mereka punya hak dan kewajiban yg sama dengan manusia lainnya.
    Itu pendapat lhooooo 😛

    Eniwe, I think I’d always say NO to “homo” and “lesbian”. Hehehe. Kok kesannya jauh ya sama statement yg tadi. Hehehehe..

  2. Adel, iya, saya tidak mengutuk kehadiran banci di bumi ini. Memang ya itu suatu penderitaan, sama seperti orang cacat lainnya. Kita mesti simpati dan sedikit banyak menghargai mereka juga. Yang saya kutuk adalah pelawak-pelawak ‘normal’ yang membanci-bancikan gayanya supaya kelihatan lucu.

    Patrisius

Leave a Reply