Atheist vs Agamis

by Patrisius
(ditulis untuk para menteenya menyambut mata kuliah Character Building 2):

Pernah ada perdebatan antara seorang agamis melawan seorang atheis. Sang agamis yang gerah melihat betapa kukuhnya si atheis tentang ketidakpercayaannya pada Tuhan langsung menohok: “Kamu tahu nggak, manusia kayak kamu itu sama sekali tidak pantas masuk surga setelah kamu mati nanti.”

Atheis: “Ya, memang. Jangankan surga, wong Tuhan aja aku nggak percaya kok.”

Agamis: “Kok bisa ya kamu dengan lantangnya menyerukan bahwa Tuhan itu tidak ada?? Bagaimana mungkin kamu mengingkari Penciptamu sendiri?”

Atheis: “Sebentar, kawan. Sebelum menguliti betapa celaka nasibku karena tidak percaya Tuhan, coba kamu lihat apa kamu sendiri tidak pernah mengingkari Tuhan?”

Agamis: “Haaah?? Ya jelas tidak pernah dong. Tak pernah sedetikpun aku mengingkari keberadaan Tuhan. Aku beribadah secara teratur, aku selalu berdoa, aku ikut perkumpulan umat di lingkunganku—“

Atheis: “Masa? Coba lihat, pernahkah kamu berbohong?”

Agamis: “Yah, . . . kalau itu sih, setiap orang juga pernah berbohong.”

Atheis: “Ok, itu berarti kamu pernah. Bahkan kamu melakukannya secara sadar. Tahu nggak, pada saat kamu lakukan itu, kamu sedang mengingkari Tuhanmu?”

Agamis: “Hmm . . . “

Atheis: “Kemarin aku lihat sendiri kamu menyetir mobilmu sepulang beribadah, dan membunyikan klakson keras-keras ke seorang pengendara sepeda motor yang mendadak berjalan melambat, sehingga dia kaget dan hampir jatuh.”

Agamis: “Ya, itu salahnya sendiri, dong, kenapa dia melambat”

Atheis: “Pas! Itu bukti kamu memang dengan sangat sadar sedang mengingkari Tuhan dengan tindakan yang senantiasa kau lakukan dengan justifikasi sempit dari sudut pandangmu sendiri. Bagaimana kalau dia melambat karena motornya memang tiba-tiba rusak?”

Agamis: “Ya, tapi aku tetap percaya bahwa Tuhan itu ada!”

Atheis: “Mudah untuk mengatakannya. Coba periksa lagi, pernahkah kamu memaksakan kehendakmu kepada bawahan-bawahanmu supaya ambisi pribadimu tercapai?”

Agamis: “Ok, aku tidak berbohong sekarang. Kuakui aku pernah sekali dua melakukannya, tapi—“

Atheis: Persis! Tahukah kamu, ketika egomu memaksa sedemikian keras supaya kau bisa menang, kamu sedang mengingkari sabda Tuhan yang kau percayai itu?”

Agamis: “Tunggu, kawan, kenapa sekarang jadi aku yang terpojok? Bukankah kamu yang dengan sangat sadar membuat pernyataan bahwa kamu ini atheis, tidak percaya Tuhan? Bukankah dengan begitu sudah jelas siapa diantara kita yang atheis?”

Atheis: “Betul! Aku memang menyatakan dengan lantang bahwa aku tidak percaya Tuhan. Tapi coba kita lihat dirimu dan kawan-kawanmu yang menyatakan dengan lantang pula bahwa kamu percaya Tuhan: ternyata banyak perbuatan kalian yang jelas-jelas menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada! Para koruptor itu semuanya percaya Tuhan; para diktator di kantor-kantor semuanya juga percaya Tuhan; para dokter yang mengaborsi bayi juga percaya Tuhan. Kalian percaya Tuhan, tapi bertindak seolah-olah tidak ada Tuhan. Kalian tuh senantiasa cerdas mencari pembenaran diri untuk semua tindakan buruk kalian; dan semakin kalian merasa pembenaran itu masuk akal, semakin keras pula sebenarnya kalian sedang mengingkari Tuhan.”

Agamis: . . . . . . (ngiiikzzz)

Atheis: Jadi sebenarnya kita itu sama-sama atheis, kawan. Bedanya, aku ini atheis polos dan lugu. Aku berkata: aku tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, titik! Sementara kalian, kalian memaklumatkan kepercayaan akan Tuhan tapi banyak tingkah lakumu yang menyangkal adanya Tuhan.”

Agamis: “Eits, tunggu! Sebaiknya kita definisikan dulu Tuhan itu apa!”

Atheis: “Ah, aku sih nggak mau repot mendefinisikan sesuatu yang aku tidak pernah percaya. Kalau mau, silakan ikut saja Character Building 2 di Universitas Ma Chung untuk memahami siapa itu entitas yang kamu sebut Tuhan!”

Dialog tamat sampai disini.

Si Atheis berlalu, tetap seratus persen atheis. Si Agamis termangu-mangu; mau mendebat sesuatu lidahnya kelu. . . Benar juga saran si Atheis: dia akan ikut kuliah Character Building 2 di Ma Chung untuk membantunya memahami bagaimana sebaiknya berelasi dengan Tuhan. Sesudahnya, dia akan kembali kepada si Atheis dan melanjutkan debat yang barusan itu tadi untuk memenangkannya!

5 Comments

  1. hai, manusia itu juga bisa bersalah, walaupun orang yang taat beragama pastinya juga bisa BERSALAH, toh, mereka juga manusia….

    tetapi yg mebedakan org atheis dan agamis itu adalah

    org atheis, krn mereka tdk percaya pada tuhan maka mereka tidak pernah k tempat ibadah… nah, d situ yg membedakan. d tempat ibadah kita bisa tahu bagaiman aturan2 yg benar mengenai hidup ini… saya yakin setiap agama memiliki nilai2 yang selalu positif dan mempunyai tujuan yang baik untuk para pemeluk agama tersebut.

    sedangkan org agamis itu sebenarnya mereka tahu mana yg benar n mana yg salah tetapi manusia bisa berbuat salah, kesempurnaan itu bukan milik manusia, tetapi hanyalah milik TUHAN…

    saya ingin berpendapat, bahwa tak semua manusia yg tiap hari atau tipa minggu pergi k tempat ibadahnya masing itu pasti masuk surga… d kitab manapun tak ada statement bahwa PENGUNJUNG RUTIN TEMPAT IBADAH PASTI MASUK SURGA.

    semua itu tergantung bagaimana manusia itu jalani hidupnya…

    menurut agama yg saya percayai, manusia memang bisa bersalah, tetapi TUHAN selalu memberi pengampunan kepada yang meminta ampun.

    sekian dari saya….

  2. saya akui kalau saya adalah sosok agamis versi cerita d atas…..
    saya percaya Tuhan, saya marasa Tuhan itu selalu ada dalam setiap jejak langkah saya……

    tapi klo ditanya tentang agama secara mendalam, dipastikan saya angkat tangan………
    saya tidak hapal ajaran2 agama…..
    saya tidak begitu paham makna2 upacara….
    saya masih sering mendahulukan kepentingan lain dibandingkan beribadah…..

    ketika saya meragukan keberadaannya, Tuhan selalu mampu menunjukan kuasanya kepada saya…..membuat saya kembali percaya bahwa Tuhan itu ADA dan sangat menyayangi umatnya…..

    ingin sekali rasanya bertemu dengan Om Jro Putu dan Om Samudra seorang yang menjadi manusia special yang jarang dimiliki orang lain dan bisa saya ajak diskusi tentang agama……dengan Om Jro Putu yang membuka pikiran saya, berdiskusi dang sharing tentang semua agama…..tanpa adanya diskriminasi atau menjelekkan satu sama lain…….

    beliau berdua tahu bagaimana keadaan saya sekarang meskipun saya tidak pernah berkomunikasi secra langsung dan saya yakin mereka berdua pasti selalu mendoakan untuk kebaikan dan kesuksesan saya!!!!!!!

  3. Didi, saya senang saya bisa ‘memancing’ kamu untuk berkomentar. Ok, pendapat yang bagus dari Didi untuk menyanggah si atheis. Dan Agung, well, as always, selalu kontemplatif. Bekal bagus untuk nulis artikle tentang iman di media massa. Go for it, guys!

    Patrisius

  4. klo misalkan tuhan itu ada dan katanya tuhan selalu menciptkan segala sesuatu baik adanya, kenapa dia mrnciptakan virus brbahaya, cnthnya aja H1N1, sars, H5N1??
    khan kta nya apapun yg dciptkannya baek?? ko ada yg ky gtuan??
    hm??
    brti tuhan tu boonk donk

Leave a Reply