Jia You!

by Patrisius

Kalau ada yang datang ke saya minta makan, saya kasih.

Kalau ada yang datang ke saya minta papernya dikoreksi, saya akan lakukan koreksi.

Kalau ada yang bingung mau nulis apa untuk refleksi iman, saya bisa memberikan pandangan dan bimbingan.

Kalau ada yang kesepian, saya akan temani.

Kalau ada yang kering cinta, saya cintai (kalau yang ini mah saya overstocked….)*.

Tapi kalau ada yang datang dan mengatakan: “Hidupku terasa hampa. Whad shud ai do? Hu hu huu!”, saya terus terang nggak akan bisa apa-apa.

Lha terus mau diapakan?

Kalau orang itu udah mati, ya udah, kita doakan, kita taruh di peti, kita kuburkan. Lha tapi kalau dia secara fisik masih hidup tapi jiwanya sudah mati, terus saya bisa apa? Kita bisa apa?

Saya prihatin. Saya heran. Masih muda tapi merasa hidupnya sudah kosong, tanpa makna, hampa . . . Kok isa see?

Lha terus apa artinya semua nafas dan detak jantung yang sepermilyar detikpun tidak pernah berhenti? Kemana gairah bertarung habis-habisan untuk mengukir prestasi gemilang? Kemana semangat mencintai dan mau ‘terbakar hidup-hidup’ dalam gejolak gairah memadu cinta? Kemana sorak histeris setiap kali melihat aksi panggung yang dahsyat? Kemana decak kagum melihat pesona alam, atau desah terpesona melihat manusia cantik atau tampan? Kemana perginya haus tak tertahankan akan ilmu pengetahuan baru dan kecakapan-kecakapan luar biasa?

Saya tidak akan memberikan nasihat untuk manusia-manusia muda yang sudah jadi zombie seperti itu. Saya hanya mengekspresikan keheranan saya yang luar biasa melihat mereka bisa mengalami kehampaan seperti itu.

Orang terakhir yang kebetulan tahu pendapat saya di atas kemudian berubah merah padam, dan mulailah mengucur pembelaaan dirinya, argumen-argumennya, rasa ketersinggungannya karena melihat seorang guru berani-berani mengguruinya.

Saya diam aja. Di akhir marahnya, saya bilang dengan pelan: “Yah, syukurlah kalau begitu, ternyata kamu masih punya semangat setidaknya untuk meladeni ‘khotbah’ dari blogger kayak saya. Yah, ternyata kamu masih punya semangat hidup…”.

Leave a Reply