Debu nan Dahsyat . . .

by Patrisius

“Alam semesta ini maha luas. Luar biasa besarnya. Dan kita manusia hanyalah setitik debu di alam yang luar biasa dahsyat ini.”

Hanya setitik debu . . . . ck ck ck!

Saya sudah mendengarkan ungkapan yang sama dilontarkan oleh banyak sekali orang. Dan setiap kali saya senantiasa tak habis pikir. . .

Mari kita buat perbandingan antara manusia dengan isi alam semesta. Manusia rata-rata tingginya hanya 1.70 meter, beratnya rata-rata 72 kilogram, suhu tubuhnya hanya 37.5 derajad Celcius, dan lebar tubuhnya hanya tiga atau empat jengkal.

Matahari di seluruh alam semesta rata-rata punya berat milyaran ton, dengan diameter puluhan juta mil, suhu di intinya ratusan juta derajad Celcius; planet-planet yang mengitarinya berdiamater puluhan ribu kilometer, dengan massa dan bobot puluhan juta ton; asteroid yang melayang-layang di ruang angkasa bisa berukuran seperempat pulau Jawa, dengan kecepatan lesat puluhan ribu kilometer per detik. . . .

Oke, oke, tapi sampai disini saya punya pertanyaan sederhana namuan jleebzz:

“Siapa di antara kedua benda yang saya sebut di atas—manusia dan benda-benda alam semesta—yang bisa BERPIKIR, berKONTEMPLASI tentang makna hidup, berAKAL BUDI, berDAYA CIPTA, dan mampu menjalin RELASI dengan sang MAHA PENCIPTA?”

“Siapa yang mampu menciptakan sarana KOMUNIKASI antar sesamanya, membangun perangkat luar biasa efisien dalam ukuran nano, memerikan susunan DNA, bahkan membuat teknologi kloning?”

“Siapa yang punya alat hanya seukuran batok kelapa di tubuhnya tapi dengan mekanisme kerja yang RRRRRRUAR BIASA untuk membantunya terbang, menyelam dalam dan menjelajah luasnya alam dengan alat-alat canggih buatan tangannya?”

“Siapa yang diciptakan sesuai DENGAN CITRA ALLAH sendiri? Siapa yang punya tiga unsur utama, yaitu SOUL-BODY-MIND, terpadu dengan kompaknya dalam ukuran yang ‘hanya’ rata-rata 1.70 meter tadi?”

Jawabannya jelas: MANUSIA, dan bukan matahari, planet, asteroid, super nova atau black hole atau apalah namanya itu yang ukurannya sa’hohah* di luar sana.

Nah, dengan kemampuan sebegitu istimewa, masihkah kita merasa “hanya setitik debu” di alam maha luas ini????

Oke, got my point? Mengertikah sekarang Anda betapa menyesatkannya ungkapan yang seolah rendah hati tersebut: “kita hanyalah setitik debu di alam ini”?

Selamat berkarya, selamat berpikir, selamat mencipta, selamat berbesar hati, sebab Anda sekalian ternyata bukan cuma “debu” di alam semesta ini!**

Da Dust rocks!!

* Sa’ hohah = buuuueesssssaaaarrrrrr sekaleeeeee!
** Saya harap semua mentee Curcuminoid kelak kalau sudah dewasa dan menjadi ‘orang’, masih mengingat posting saya ini dan mampu meluruskan ‘logika bengkok’ orang-orang di sekitarnya—entah itu murid, keluarga, umat, kolega, kekasih– yang masih merasa bahwa manusia hanya setitik debu di alam ini.

Leave a Reply