Tegarnya Curcuminoid Kids . . .

oleh Patrisius

Seorang mentee saya datang untuk curhat: “Tidak adil! Saya bekerja sendiri, tidak pernah nyontek, tapi ada teman saya yang jelas-jelas cuma copy paste dari kerjaan teman-temannya malah dapat nilai lebih bagus! This is not fair!”

Dia begitu kecewa dan marah sampai menenggelamkan wajahnya di meja kantor saya. . . .Jeddugg!

Apa yang saya lakukan sebagai mentor adalah mendengarkan curhatnya dengan sabar dan atentif. Kemudian saya katakan kepadanya: “yang penting kamu sudah berteguh untuk tidak berlaku curang. Itu saja sudah suatu kualitas diri yang sangat bagus. Bahwa kamu akhirnya dapat jelek, ya, pakailah itu sebagai cermin diri untuk berupaya lebih keras di ujian mendatang. Nilai kurang dari dosen menandakan bahwa kamu belum berupaya cukup keras, atau mungkin belum menemukan cara belajar yang pas”.

Lha terus perkara teman-teman yang nyontek tapi hasilnya malah lebih baik tadi bagaimana?

Sayang saya tidak sempat mengutarakan hal ini kepadanya, karena keburu disela oleh tugas. Tapi seandainya masih sempat, akan saya katakan bahwa dunia memang kadang-kadang nampak sangat tidak fair. Kadang-kadang juga kita memang terlalu lemah atau terlalu sibuk untuk melawan ketidakadilan itu. Tapi mengapa juga kita harus sangat terusik oleh ketidakadilan itu? Saran saya: daripada terus-menerus berkeluh kesah tentang situasi yang tidak fair itu, kenapa tidak berkonsentrasi pada upaya meningkatkan kualitas diri sehingga bisa tampil jauh lebih baik, dengan upaya sendiri?

Teman-teman yang kerjanya hanya nyontek kemudian secara kebetulan dapat nilai bagus itu juga pasti akan menuai sendiri hukuman setimpal untuk perbuatannya. Ya iyaaalaaaaah, kan kita percaya pada “apa yang kamu tabur, akan kamu tuai?”. Kelak kalau sudah lulus, mahasiswa-mahasiswa macam ini hanya akan jadi pecundang, karena apalah yang mau diunggulkan dari pribadi yang suka ambil jalan pintas yang haram? Dunia luar pun pasti juga tidak akan menghargai mereka.

So, kalau kamu melihat ketidakadilan seperti itu di sekitarmu, jangan terlalu cemas. Menggerutu dan marah bolehlah, tapi sebentar saja; setelah itu, ingat dua hal: pertama, berbanggalah karena kamu sudah punya keteguhan sikap untuk tampil dengan karya mandiri; kedua, berusahalah terus-menerus meningkatkan kinerja.

Tidak pernah ada ruginya kalau kalian mengambil kedua sikap itu.

2 Comments

Leave a Reply