Generasi Lola? (Loading Lambat)

oleh Patrisius

Hari Rabu 2 minggu yang lalu, di sesi CB 2, Pak Budiono menanyakan kepada beberapa orang mahasiswa tentang arti komunikasi. Saya terhenyak melihat betapa sulitnya para mahasiswa itu mendefinisikan kata “komunikasi”.

Ada apa ya dengan generasi muda jaman sekarang? Mereka tumbuh lebih tinggi, gizinya jauh lebih baik daripada generasi terdahulu, sarana belajarnya juga jauh lebih canggih, tapi kenapa begitu sulitnya mengartikan kata sederhana itu? Apa sulitnya mengatakan “komunikasi adalah kegiatan bertukar gagasan antara dua manusia lewat perantaraan bahasa.”

Di sesi diskusi mentoring, saya sering harus menyederhanakan kalimat-kalimat dalam panduan diskusi, karena kalau tidak, mahasiswa-mahasiswa saya ini sulit mengerti maksudnya. Aneh, aneh sekali. Bayangkan, kalimat semudah ini mereka tidak dapat mencernanya:

“apa hubungannya tuntutan menahan dan mengendalikan diri dengan tuntutan hidup sebagai seorang beriman?”

Kalimat ‘serumit’ itu harus saya pilah setidaknya jadi dua: “apakah kamu pernah harus menahan atau mengendalikan diri?” dan “apa hubungannya dengan iman yang kamu anut?”.

Rupanya benar kata seorang pakar edukasi bahwa anak muda jaman sekarang (kelahiran 1980 – 1995) terbiasa multi-tasking: banyak mengakses semua informasi, mulai dari laptop sampai telpon genggam sampai kamus online, tapi miskin kedalaman. Mereka trampil copy paste dari sana-sini, tapi meranggas manakala diminta memberikan uraian yang sedikit lebih kontemplatif. Sebaliknya, generasi saya dan ayah saya cenderung gaptek, tapi kami bisa menelaah suatu masalah dengan sudut pandang yang kaya dan dalam.

Begitu?

5 Comments

  1. waduuuhh….
    saya g terima ini…..X(

    gile aje d bilang generasi Lola….
    kami khan generasi Loly pop!!!!

    klo bapak g bisa jawab pertanyaan saya yg satu ini berarti bapak jg generasi LOLA….

    pertanyaannya :
    benda apa yg ada d dalam celana, punya batang 1, biji 2 dan hanya pria yang punya….(jawabannya bukan barag jorok!!!!!!)

  2. pak, saia tertohok lhooooooo…..hohoho
    soalna saia ya merasa gitu. kebanyakan yang dikerjain, kebanyakan mikir, tapi akirna sensitivitas saia berkurang. kemampuan untuk fokus dan mendalami satu masalah bener2 gak saia rasakan lagi. that’s baaaaaaaaaaaadddddddddddddddd >.< saia jadi kaiak robot yang ngerjakan tugas ‘apa adanya’ aja… kehilangan gairah untuk memberikan ‘yang terbaik’ karena terlalu banyak yang harus dikerjakan. sebetulnya itu nggak baik. aduh taun depan aq mau pensiuuuuuuunnnnnnn!!!!!!!!!!!!

    @ Agung
    rokok, bukan?

  3. waaahhhh…
    saya nggak terima….

    nggak terimaaaaaa!!!!!

    dilihat dari sudut pandang “kami”..
    pembelaan ini adalah…

    justru karena kami tahu berbagai informasi kami mempertanyakan maksud yang sebenernya, bukankah sekarang banyak hal – hal yang bersifat ambigu????
    banyak yang bersifat general, dan juga banayk yang mempunyai lebih dari 1 maksud….
    dalam konteks apa ato mau diarahkan kemana “something” itu????

Leave a Reply