Mentee Saya On Fire

by Patrisius

Sudah dua kali sesi diskusi di CB 2 saya menyerahkan kendali diskusi kepada kedua mentee saya. Saya lakukan ini karena merasa bahwa sudah saatnya mereka dibiarkan mengelola sendiri suatu lalu-lintas diskusi. Saya tidak suka mentee-mentee saya cuma duduk bengong memandangi mentornya ‘nggedabrus’ tentang iman, agama, dan hal-hal serius lainnya di depan kelas. Saya ingin mereka lambat laun menentukan sendiri irama diskusinya, mengendalikan pembicaraan, termasuk juga mengadopsi gaya moderasi yang luwes, santai, tapi tetap fokus, dan percaya diri.

Ada beberapa hal yang membuat mereka terbentur-bentur ketika memoderasi diskusi. Gaya percaya diri dan fokus terhadap topik utama menjadi dua isu yang penting. Ya sudah, biar saja mereka belajar lewat jatuh bangun seperti itu. Saya lebih banyak diam, dan baru kalau situasi benar-benar sudah gak ketulungan saya akan menengahi.

Hal serupa juga saya lakukan di kelas Prodi Inggris. Dengan berkedok debat dan memancing mereka dengan tantangan yang sangat menusuk hati (“ngapain generasi muda sekarang baca fiksi kayak Twilight? Itu khayal, gak ada gunanya!”), saya kemudian bisa melihat true colors mereka. Langsung kelihatan mana yang impulsif, mana yang apatis, pesimis, lesu, mana yang kelihatan diam tapi sebenarnya mikir keras, mana yang cerdas tapi emosional, mana yang logis dan runtut. Sesi debat itu terpaksa saya hentikan setelah seorang peserta tidak bisa menahan emosinya dan melempar lawan debatnya dengan spidol. Plethakk! Adaw! Wis, wis, buyar, buyar, gak seneng aku lek koyok ngene!

Ma Chung rocks!!

Leave a Reply