Tolong Jangan Nulis “Jancuk!”

by Patrisius

Banyak mahasiswa dan kenalan saya di Ma Chung ini. Banyak yang (nampak) good-looking, sopan, berpendidikan, bahkan classy.

Tapi saya sering patah hati kalau melihat entah itu shout out atau posting blog atau ungkapan tertulis lain yang mengandung kata-kata kasar. Yang “fuck” lah, yang “shit”, yang “jancuk” lah dan kawan-kawan sejenisnya. Rasanya masygul, mak jlebz! Kontras benar antara pembawaan mereka yang menyilaukan (entah karena kemulusan kulitnya, rambut panjangnya, hidung bangirnya, atau prestasinya, bahkan gelar pendidikannya)

Pernah, tuh, ada mahasiswa saya yang . . . aduuh, . . . cakep banget. Cakep dan halus, dan layaknya anak dari keluarga berada, nampak classy dan kinclong. Tapi suatu kali saya mak gedumbrang melihat tulisannya yang mengandung kata “taek”! Aduh, sayang, anak secantik kamu, nak, nulis seperti itu. . . Nggak tahu ya, mungkin buat orang lain nggak ngefek, tapi saya termasuk orang yang menilai orang lain dari kata-kata yang dia ujarkan. Semakin tinggi kualitas kontrol dirinya, biasanya semakin terjaga kata-katanya. Sayang orang seperti ini kok makin jarang ya? Orang cakep banyak, enak dilihat mata, tapi orang cakep dengan tutur kata bagus makin lama makin jarang.

Hmm, mungkin juga saya kurang tepat menilai. Mungkin orang akan bilang: “Kami bebas menuangkan apa saja di blog atau shout out kami; termasuk makian dan kata-kata paling kasar sekalipun kalau kami sedang be-te”. Iya, betul juga, sih . . . tapi tetap saja tidak ada yang bisa mencegah saya membuat penilaian sendiri akan orang-orang yang ‘sangat ekspresif’ ini.

Makanya ikutlah yoga, kayak Prita, rekan saya sekantor itu. Ini sudah bukan lagi jaman religius, ini adalah jaman spiritualis, jaman dimana orang mendapatkan ketenangan batin dari olah spiritual. Hmm, tulisan ini jadi makin GJ, tapi you know my point lah.

8 Comments

  1. ini lagi trend di machung.. kata-kata yang begitu dianggap tidak kasar..atau mungkin sekarang gaya guyon sedang mengalami pergeseran ke arah sinisme dan sarkas..soalnya yang begitu biasanya dianggap lucu. selain itu, kata-kata itu juga kadang-kadang dipakai untuk memuji orang lain. bukan hanya mewakili perasaan yang memang sedang sebal atau apa.

    saya sempat menegur seorang teman di kelas karena guyonnya yang kelewat sarkas [menurut saya]. dan dia terdiam. tapi saya gak tau, diemnya gara2 ngerti, trus mak jleb buat dia, atau.. gak denger saya bilang apa, atau.. entahlah.

    tapi saya sering juga bilang ama agung dan temen2..: jangan pake yeekk..yeekk-an aaa.. gak baik lho itu.. hu uh! tapi gak ngefek..dia masih sering pake kata2 itu.

  2. Grace, wah, memprihatinkan sekali kalau itu benar. Kok jadinya budaya kita tambah terkesan kasar.

    Anyway, thanks untuk komentarnya. Dari sejak kamu gabung Curcuminoid saya sudah merasa kamu memang paling dewasa, dan sy tidak heran komentar / postingmu selalu mengguratkan kesan matang dan dalam.

    Salam teramat hangat,
    Patrisius

  3. ok…saya termasuk orang yang belakangan ini sering ngomong gitu….

    soalnya baru dapet vocab baru (bahasa jawa) yang “lucu-lucu” dari richard…..

    tapi saya merasa sih ga masalah klo ada yang berbicara seperti itu. karena saya lebih sering menggunakan “kata” itu untuk mengungkapkan sesuatau yang luar biasa. ya kalo d bahasa indonesia mungkin jadi seperti kata ” GILAaaa”….

    gila khan skr bukan hanya dipakai untuk menyatakan gangguan kejiwaan……

  4. Agung, kamu benar. Kalau fungsinya seperti itu sih no harm will be done; yang saya maksud adalah mereka yang benar-benar menulis/mengatakan kata itu untuk memaki atau meluapkan kejengkelan.

    Mentor

  5. heheheheheh…
    kena nih…
    tp memang kalo mau menghilangkan kebiasan buruk adalah jangan pernah memulainya…

    jadi, bio sudah tidak memulainya lagi pakk……

  6. Kok saya merasa tertohok sekali?
    LOL
    Apa yang Bapak tulis maknanya dalam dan mengandung banyak kebenaran.
    Tapi ada 1 hal yang kayanya Bapak lupa, orang yang swear belum tentu karakternya tidak baik secara overall.

    Dia boleh tampak sopan, dia boleh cakep, dia boleh pinter, seperti yang Bapak bilang.
    Tapi humans juga punya limit dan flaws.
    Mungkin kekurangan dia sekarang ini ya kurangnya control dalam berkata-kata ketika “kesal” atau sejenisnya tadi.
    Maybe, just maybe…
    There are many possibilities.

    Saya tau sekali haha

  7. Tertohok, Feli? Ouch, maaf, saya memang sengaja, ha ha ha!

    Iya, tepat sekali yang kamu bilang: “Mereka punya limit dan flaws, dan kurang control”. Nah, supaya kelak mereka jadi panutan, mereka harus bisa mengatasi limit dan flaws itu, dan memperkokoh controlnya.

    Thanks, anyway, for commenting.

    Patrisius

  8. Yup, I will correct them haha
    Makanya like I said, “Mungkin kekurangan dia sekarang ini”
    Sekarang… People can get better =P

Leave a Reply