My Mentees’ Best Moments

oleh Patrisius

Saya suka mengajar, saya suka bertemu dan berinteraksi dengan mahasiswa di kampus, tapi pada akhir semester seperti ini saya sedang mencapai titik BOSAN. Yah, manusiawi dan wajar lah saya pikir. Interaksi semenarik apapun pasti harus dihentikan sesaat. Ada kala dimana kita harus rehat sejenak, kembali ke sangkar masing-masing; sang dosen bisa seharian kerja di kantor tanpa memikirkan mengajar, dan si mahasiswapun bisa sedikit bersantai tanpa harus dikejar-kejar deadline tugas kuliah.

Seperti biasanya, seorang Pisces seperti saya suka membuka kembali puncak-puncak pengalaman dengan para mahasiswa dan mentee saya di semester genap 2008/2009:

Agung’s best moment:
… adalah ketika dia mengatakan dengan rendah hati: “Oh, poster CB 2 ini kami selesaikan secara bersama-sama, kok”. Padahal saya tahu dia jadi motor utama di tiga hari yang menentukan itu: ya sutradara, ya aktor, ya kameraman, ya pengatur lay out. Ya, tentunya semua mentee saya juga pasti menyumbang sedikit porsi partisipasi, tapi sulit disangkal bahwa Agung punya peran dominan disitu. Makanya, saya bisa mengerti kekecewaaannya ketika poster Curcungers “hanya” meraih runner-up. Tapi muramnya hanya dalam hitungan hari. Kemarin dengan wajah berseri-seri dia mengabarkan: “Pak, tulisan saya bakal dimuat di Malang Post”. Woo-hoeeyy!

Pamela’s best moment:
… adalah ketika dengan sabarnya dia menerima sanggahan agak keras dari seorang mentee lain dalam satu sesi diskusi mentoring CB 2. Kelihatan sekali kendali dirinya di momen itu, satu hal yang patut dipupuk dan dikembangkan di era soft skills ini. Kemudian, best moment yang serupa dia tunjukkan ketika dia memimpin sesi diskusi mentoring terakhir. Sekalipun saya masih melihat kesan kurang pe-de darinya, saya suka sekali melihat dia menerima ‘tantangan’ itu.
Tapi tentu Pamela’s best of the best moment adalah ketika saya mendapati dirinya meliuk-liuk dengan mobil Ferrari di sirkuit Monaco di ponselnya. Jiaaaah, Pamelaaaa, tancaaaaappp!!

BTW, saya rasa apa yang dikatakan seseorang di FB nya Pamela tentang matanya adalah sangat benar. . . .

Bio’s best moment:
… adalah ketika dia dengan tekun dan tenang menyimak kuliah saya di kelas Writing I. Lengkap dengan kaca mata dan notebooknya, dia benar-benar mengesankan seorang mahasiswi yang alim, rajin dan tekun, jauh berbeda dari gambaran yang saya tangkap waktu curhat di kantor atau foto-fotonya di Facebook. “Saya harus rajin supaya IPK saya bagus, karena saya tahu saya dibiayai orang tua tidak sedikit”, demikian dia pernah mengatakan kepada saya. Yah, baguslah. Sekalipun prestasinya belum sebagus top classmatesnya, sikapnya di kelas “ndemena’ ke ati” (bs. Jawa, artinya “menyenangkan hati”) . Bio, ableeeeeehhhh…!!

Grace’s best moment:
… saya tidak bisa menulis apapun untuk Grace. Dia sudah terlalu bagus untuk dikomentari. Salah satu kekurangannya, yang juga sebenarnya bukan kesalahannya, adalah karena dia harus sit out the Final Test karena jumlah absensinya kelewat lebay. Yah, karena dia harus mewakili Jawa Timur sebagai ratu lebah. Yah, semoga sebagai ratu lebah dia masih bisa menyengat dengan prestasi akademiknya. BTW, saya suka sekali melihatnya memakai anting-anting bundar besar itu . . .

Masih ada Lili, Ade, Didi, Ian, Rony, Andreas, Gideon, Steven, Merrie, dan Barry. Mereka juga pasti punya best moments. Tenang saja, masih ada tiga tahun bersama dengan mereka. Saya masih bisa mengenal mereka lebih jauh dan menulis lagi tentang their best moments . . .

4 Comments

  1. ya…saya juga merasa semester ini saya mengalami suatu titik klimaks…..
    tapi dengan sekuat tenaga saya selalu berusaha melwan keadaan itu….
    saya berjuang habis – habisan utk kuis besar semester ini dan hasil nya sanagat memuaskan…tinggal di poles dengan nilai UAS yang rapi….

    saya ingat saya pernah mengucapkan Oh, poster CB 2 ini kami selesaikan secara bersama-sama, kok”,….tapi saya lupa dengan siapa dan kapan saya bilangnya……hahahaa….lupakan lah…..

  2. my best moment adalah..ketika saya membaca postingan ini, sedikit terdiam.. lalu kemudian tersenyum kecil. kita lihat saja nanti semester depan, pak..

    kata chipon, “0 atau 100 ??”

    apakah secangkir kopi bisa mewakili ucapan terima kasih saya untuk Anda? atau, satu paket tour ke Sempu?

Leave a Reply