32 juta. . . .

by Patrisius I. D

Tiga puluh dua juta bukan jumlah sedikit. Kalau salah satu saja dari anggota Curcuminoid mendapat hadiah 32 juta rupiah atau dollar, pastilah heboh! Soalnya dia bakal dikeroyok teman-temannya untuk nraktir, atau minimal dikompas sama mentornya . . .

Tapi kalau 32 juta itu berarti jumlah pengangguran di Indonesia, memang jadi agak merinding. Thirty two goddamned million people without jobs!

Setiap kali saya mendengar berita PHK atau rasionalisasi karyawan di berbagai pelosok di Indonesia, rasanya miris. Terbayang para mentee saya nanti setelah menggenggam ijazah, terus kerja dimana? Apa mereka bisa dapat kerja? Apakah mereka bisa melepaskan genggaman terhadap ijazah tersebut untuk mulai memegang PC atau pena atau alat kerja lainnya, ataukah terus menerus menggenggam ijazah tersebut?

Sebaliknya, kalau ketemu mantan mahasiswa yang sudah berkarir di suatu lembaga, rasanya senang betul. Kayak kemarin waktu Dies saya ketemu Yunita, mantan mahasiswi D3 Sekretaris Widya Karya yang sudah hampir sepuluh tahun menjadi karyawannya Pak Teguh Kinarto. Good!

Jaman sekarang, calon lulusan sudah harus membiasakan diri tidak mengandalkan kemampuan akademisnya di bidang ilmunya saja. Kelak kalau mereka terjun ke pasar kerja, akan kelihatan bahwa kecakapan tambahan atau bahkan hobi mereka bisa menarik minat para employer. Contohnya, saya ini kan lulusan keguruan Bahasa Inggris. Tapi karena sejak dulu suka hal berbau penelitian, di Ma Chung saya menjadi salah satu trainer untuk metodologi penelitian, bahkan dipercaya mengomandani Direktorat Quality Assurance yang juga tidak jauh dari penelitian dan statistik.

Jadi mari aku hitung punya skills tambahan apa anak-anakku di Cuur ini: broadcasting, dancing, badminton, . . . apalagi yah?

Semoga mereka cepat lulus pada waktunya dan dapat kerja, dan tidak termasuk ke 32 juta manusia kurang beruntung tadi.

2 Comments

  1. Beruntung atau tidak itu pilihan. memang seprtinya PHK dan sejenisnya itu adalah korban dari keadaan. tapi, mengapa membiarkan keadaan yang mengambil alih kerasionalitasan manusia?? itu juga keputusan.

    hidup dengan pekerjaan atau tidak, apalagi itu- itu juga pilihan.
    sekarang apa makna pekerjaan jika hanya untuk mengumpulkan harta. untuk apa orang mengumpulkan harta? untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, untuk bisa beli keinginan daging, untuk ini, untuk itu.

    sekarang apa juga yang jadi motivasi dan penyebab si Yunita itu, 10 tahun dia bersama Pak Teguh Kinarto!! goddamned!! itu bukan waktu yang singkat! namun bisa terasa sangat singkat apabila dia punya motivasi yang-entahlah-sesuai dengan hatinya.

    kemudian, apa guna juga ijiazah?? apa hanya digunakan sebagai ersayaratan mendapat pekerjaan yang layak?? oh my gosh..hampir 15 tahun saya habiskan waktu saya duduk di bangku sekolah konvensional hanya untuk itu: dianggap layak??

    entahlah. saya kok jadi mencak-mencak sendiri ya??
    karena menurut saya, bekerja itu more than earn money to fullfill our needs. dan pekerjaan itu tidak juga bisa didapat hanya dengan berbekal ijazah dan skill lainnya. tapi saya belum ketemu faktor X-nya itu apa.. nanti kalau saya udah ketemu, saya kasih tau…

    fuuhhh..

  2. Makna pekerjaan jelas bukan “hanya” mengumpulkan uang. There is much more to it than the money. Ada pride, ada nilai balas budi kepada orangtua yang sudah susah payah menyekolahkan anaknya, ada rasa atau sense of being useful persons with skills, ada kepercayaan diri untuk menyumbang sesuatu pada harkat hidup manusia lain, di samping tentu saja tujuan-tujuan yang lebih membumi dan pragmatis, seperti bisa makan, bersandang dan berpapan yang layak.

    Thanks atas commentnya, Grace. Saya akui dari sekian banyak mahasiswa saya, kamu yang paling sigap dan cerdas membalas dengan tembakan maut seperti ini. Saya suka sekali. Andai saya milyuner, akan saya habiskan delapan jam di kantor ngobrol dan berdebat sama kamu soal life issues, tentunya tak lupa dengan suguhan kaviar dan anggur Bordeaux termahal serta lalapan pecel lele, karena saya kan milyuner (berkat kerja tentunya, 🙂 ).

    Patrisius

Leave a Reply