Temaaaann . . .

by Patrisius

Ada beberapa posting di FB dan di blog lain tentang teman. Sekarang mah udah gak jaman teman tapi mesra, soalnya buat orang sekarang kalau mau mesra ya mesra aja, ngapain pakai mengelabui dunia dengan teman-teman segala.

Tapi ini lain. Teman yang ini adalah teman yang disebut sahabat, nyata tapi maya, elusive istilah Inggrisnya. Dibilang sahabat, ternyata buntut-buntutnya mengecewakan, menyakitkan, dan membuat sedih. Dibilang sahabat tapi kok hubungannya tegang melulu? Dibilang teman, tapi kenapa salah satunya tak kunjung henti menahan perasaan, kemudian curhat ke orang lain atau ke blog dan FB notes? Dulu teman akrab, pergi kemana-mana berdua, tapi sekarang satunya bilang bahwa satunya berubah jadi mengerikan. . . and on and on and on.

Saya bukan orang pintar berteman. Saya introvert abis, dan seorang introvert tidak pernah merasa kesepian karena dalam kesendiriannya dia asyik bersahabat dengan pikiran dan dirinya sendiri. Namun, se autis autisnya saya, saya bisa merasakan orang-orang (baca: mahasiswa) yang mengeluh tentang betapa sulitnya membina hubungan pertemanan yang awet. Betapa sulitnya bersahabat.

Resep persahabatan yang menyenangkan itu sebenarnya simpel saja: you laugh over the same matter, in the same way, and you grieve over the same matter, in the same way, too.

Maksudnya: teman kau dan dirimu itu harus sama-sama menaruh perhatian pada hal yang sama, dan mengekspresikan perasaan dengan cara yang relatif sama. Kalau teman kau sangat perduli dengan global warming dan polusi udara, sementara kau justru kentut sembarangan, itu jelas bukan hubungan pertemanan yang enak. Sebaliknya, kalau kau tertawa terbahak-bahak melihat Tawa Sutra XL di ANTV sementara temanmu hanya tersenyum kuda, itupun bukan pertemanan yang menyenangkan.

Karena, kalau dirunut-runut, ternyata hubungan persahabatan menjadi tidak seimbang manakala yang satu mengatakan “ah, hubungan baik kita kok jadi begini?? Aku kecewa”, sementara yang satunya merasa: “loh, begini gimana? dari dulu juga begini dan aku tetap merasa oke-oke saja”.

Manusia berubah. Teman kau pun juga berubah, dan kau pula pastilah berubah. Yang dulu suka mobil-mobilan, setelah SMA suka baca komik, setelah mahasiswa suka main musik dan outbound, setelah dewasa jadi aktivis lingkungan hidup. Kalau sahabat kita berubah mengikuti dinamika yang kurang lebih sama dengan kita, pertemanan itu akan awet. Tapi jika ternyata tidak, ya mungkin sudah saatnya mengucapkan “Adios amigo my friend!”

* Posting ini ditulis untuk Merrieling (bukan kenapa-kenapa, soalnya tau-tau ingat dia aja . . .)

2 Comments

  1. dadi piye pak maksudé??
    tenggang rasa, toleransi dan harga-menghargai antar sesama manusia ngono yo intine?? oke juga UUD kita, membahas semuanya, sampai hubungan perteman juga tercantum di dalamnya!
    viva Pancasila!

  2. Ha iyolah, Grace, yo koyo ngono kuwi, kurang lebihe . . .

    Hmm, kok dadi mblehar adoh banget ke Pancasila ya? Tapi ya gak papa lah, yang penting ada komentar di posting saya, dan itu tentunya sesuai dengan 12 karakter Ma Chung (walah, tambah mblehar iki …)

Leave a Reply