Shocking but . . .

by Patrisius

“Kuncinya adalah sesuatu yang shocking, dan harus bisa menarik perhatian banyak orang”.

Itu adalah resep di bidang revolutionary marketing jaman sekarang. Lihatlah grup band “Kuburan”, Mbah Surip dengan “Tak Gendong”nya, atau Changcuters. Semuanya rata-rata mengejutkan publik dengan penampilan yang nyentrik, tidak pernah diduga sebelumnya, tapi nyentriknya membuat orang terpikat.

Kalau hanya sekedar shocking sebenarnya kan gampang. Datang kuliah telanjang bulat juga pasti akan shocking. Hanya bedanya, ada dua jenis konsekuensi yang harus siap dihadapi. Shocking yang pertama seperti para selebritis itu mendatangkan sukses, sementara shocking yang kedua mendatangkan pihak berwajib atau bahkan dokter ahli jiwa.

Jadi pertanyaannya tentu bagaimana menggoyang dunia atau minimal komunitas Ma Chung dengan sesuatu yang unik, beda, shocking, tapi bisa membuat komunitas itu terperangah dan akhirnya kasih aplaus panjang.

Nulis buku? Itu mah nggak shocking; itu respectable dan serius . .

Bikin web site? Sama aja, jaman sekarang udah banyak yang kayak gini. Kurang, ah, kurang shocking . . .

Main gitar dan nyanyi di depan Bhakti Persada, atau di kantin antara jam 12 – 1 siang? Ah, . . . ini, baru ini, bolehlah . . .

Masang tali di puncak gedung Rektorat terus bungee jumping? Hmm, ya, boleh, boleh . . .

Masang mimbar di depan Balai Pertiwi kemudian menampilkan orasi yang memikat? Aduuh, . . . menggetarkan! Tapi boleh dicoba tuh.

Apa lagi?

Gak tahu. Kalian kan mahasiswa. Terserah pada kreativitas Anda sekalian. Bikin Ma Chung TV a la Huang Shi Ru? Atau diskusi buku a la Hans Sivano? Up to you, the possibility is endless . . .

Leave a Reply