Besar dan Panjang itu Nikmat (?)

oleh
Mak Erot

Empat orang gadis yang sedang kelaparan itu mengunjungi bazaar. Mereka langsung menyerbu stan makanan. Kepincut akan bau harum dan renyah pisang bakar, mereka segera merubung salah satu stannya.

“Wih, coba lihat, pisangnya besar-besar!” pekik salah seorang diantaranya. “Aku mau disini saja!”

“Hmm…” temannya masih agak ragu, matanya mengawasi sang ibu penjual yang sedang sibuk memilih-milih pisang-pisang yang memang besar dan panjang itu. “Apa iya enak ya?”

“Ya pastilah!” sahut temannya tadi. “Pisang tuh kalau besar dan panjang juga akan muat lebih banyak mentega dan selai dan susu,” celotehnya. “Dijamin kita yang makan pasti puas.”

“Mmmm, iya juga ya,” si teman yang masih ragu tadi membayangkan rasanya mengunyah potongan pisang besar dengan lumuran mentega dan susu kental. “Ayo, deh, kita makan disini saja.”

Langsung keduanya mengambil posisi di antrian pembeli. Tapi, lho, kok kedua temannya yang lain masih tegak mematung?

“Bentar dulu,” kata salah seorang dari keduanya, sebut saja namanya si Ica. “Ya iya sih besar dan panjang, tapi kok rasanya masih terlalu muda ya?”.

“Ya, bukan masalah terlalu mudanya, sih,” timpal temannya, sebut saja namanya si Uli. “Tapi coba lihat, tempat ini banyak lalatnya! Bisa-bisa aku makan pisang campur lalat”.

“Ah, lebay lu,” sahut salah seorang yang sudah duduk tadi. “Ayo duduklah, kita pesan segera, keburu abis diserobot orang lain”.

“Nah, itu juga,” kata si Ica sambil matanya menatap antrian yang mengular. “Terlalu banyak orang disini! Gak nyaman!”

Akhirnya, si Ica dan si Uli batal makan di stan itu. Mereka lanjut menuju ke stan pisang bakar lainnya.

Sampailah mereka ke stan paling ujung. Nyaris sepi, hanya ada si penjual dan dua orang pembeli. Ica menatap Uli: “Disini?”

“Ya, kayaknya begitu. Ingat, kita kan hanya mau makan pisang bakar” (walaupun kelaparan, ceritanya ini mereka lagi diet supaya bisa menjadi Queen Ma Chung).

Mereka melongok ke dalam stan dan melihat pisang-pisang yang sedang dibakar. Kecil kecil, beberapa malah bisa dikatakan mini.

“Ayo, mbak, pisangnya, boleh dicoba!” sapa sang ibu penjual dengan ramah. “Ini lho mumpung masih anget-anget.”

Masih dengan agak ragu kedua gadis itu akhirnya duduk di stan itu. Mereka memesan dua potong, satu untuk seorang. “Gak kurang tah?” tanya sang penjual.

“Nggak, satu cukup,” jawab si Uli.

“O ya, gak papa. Nanti kalau kurang bisa tambah, ya” kata sang penjual.

Hampir satu jam berlalu. Uli dan Ica jadi keterusan menghabiskan pisang demi pisang yang kecil-kecil tapi hangat, manis dan renyah itu. Ditambah dengan suasana stan yang tidak ramai, tanpa gangguan lalat atau bau timbunan sampah, diselingi dengan obrolan bersama sang Ibu penjual yang memang ramah dan kadang lucu itu, mereka jadi makin kerasan.

“Makan pisang itu yang penting bukan besar dan panjangnya, Mbak,” si Ibu berkata. “Pisang kecil pun, kalau diolah dengan baik, ditambah dengan tempat yang bersih dan servis yang hangat, juga akan terasa nikmat!”.

2 Comments

Leave a Reply