Temani Saya Menangis . . .

by PID

Lama sekali saya merenungi status-status Facebook di layar PC saya. Ada sesuatu yang mengusik pikiran. Kebanyakan status itu ternyata menguarkan isi hati yang sebenarnya sedang bersembunyi nun jauh di kedalaman hati penulisnya. Dengan kata lain, apa yang menjadi ranah pribadi banyak kali diseret setengah telanjang begitu saja ke ranah publik yang rentan sekali dibaca orang lain. Isi hati pribadi itu ibaratnya Anda yang baru saja memakai pakaian dalam, kemudian tahu-tahu jendela, pintu dan tembok terbuka dan semua tetangga pada menoleh ke arah Anda yang langsung gelagapan setengah mati karena malu.

Kenapa Facebook bisa menjadi ajang pamer isi hati seperti itu? Jaman saya kecil dulu, ada yang namanya buku diary, atau buku harian. Sebagian orang memilikinya untuk menumpahkan semua isi hatinya, tapi sepanjang yang bisa saya ingat, kok nggak ada ya salah satu dari mereka yang kemudian memajang buku hariannya di tembok kantin sekolah atau di halte bis supaya dibaca orang lain?

Tapi di jaman millenium kedua ini, coba lihat apa yang dipamerkan begitu saja di media Facebook: ungkapan kekecewaan, ungkapan putus asa, kejengkelan, caci maki, jatuh hati, nafsu berahi, impian bunuh diri, frustrasi, pikiran-pikiran cabul, bahkan sampai kegiatan di kakus pun terbual begitu saja di status-statusnya. Hiiiihhh!

Setelah lama merenung, saya pelan-pelan mulai memahami jawabannya. Orang-orang modern ini butuh manusia lain. Iya, sekilas mereka memang manusia-manusia acuh, hanya bergumul dengan gadget elektroniknya dan peduli setan orang lain mau mencret atau njungkel di sebelahnya. Tapi ternyata tidak. Lewat gadget itu mereka mencurahkan seluruh isi hatinya, seluruh duka dan geramnya, seluruh suka dan kesuksesannya, supaya manusia lain membacanya dan merasa bersimpati kepadanya, atau mengaguminya, atau mungkin iri hati kepadanya.

Ya, Facebook hanya lah media. Sejatinya, di balik itu semua adalah manusia-manusia yang rindu akan pengakuan orang lain, akan empati dan simpati orang lain, dan akan apresiasi orang lain.

Di balik wajah cuek yang sekilas tidak konek dengan dunia sekitarnya, saya bisa melihat hati yang sedang meronta dan berteriak-teriak: “Ayo, temani aku menangis!”

atau “Lihat, lihat sini ke aku! Aku sedang jatuh hati! Ayo ikut rasakan senangnya jatuh cinta!’

atau “kalian semua bangsat! Hanya pintar omong kelakuan minus! Rasakan kemarahan ini, nih!”

atau “sudah tak ada harapan lagi. Aku lebih baik mati. Ayo lihat kesini biar kau tahu aku mati, dan tolong sampaikan ke dia bahwa cinta ini telah membunuhku!”.

Good night!

4 Comments

  1. hahahah guess you pointed them out so exactly XD

    These people, are too constrained that they can’t say anything in real life and instead “scream” through writings.

    Maybe loh, saya bukannya tau bgt tp saya pikir gitu.

    Soalnya apa? Temen2 saya dari Balikpapan HAMPIR ga pernah muncul status2 kaya gitu tuh, semuax dari org Malang loh.
    Org Balikpapan sih mw ngmg apa lgsg ngmg jd kayax ga butuh gituan terlalu banyak hehe

    Maybe~

  2. Feli, mungkin itu benar. Budaya Jawa memang menjaga harmonisasi di permukaan, tapi dalamnya bergolak. Nah, pergolakannya dimuntahkan di FB. Kalo org Balikpapan mungkin lebih spontan dan ekspresif, jadi gak perlu FB an.

  3. It seems to be so.. Sadly..
    Org Bpp bukanx ga perlu FB, cuma status2nya jarang yg kaya “mentah2 curahan hati”, biasax bukan hal spt itu.

Leave a Reply