Sayang tapi Hilang

Tanpa sengaja, di posting tentang Anna dan Gugun saya menulis “sayang tapi tidak kangen”. Selintas ngawur, tapi sekarang saya tahu mengapa saya menulisnya. Rupanya itu pengalaman yang sudah lama diendapkan di alam bawah sadar.

Entah darimana datangnya, tiba-tiba kenangan itu menyeruak kembali memenuhi pikiran. Saya mengucapkan kata-kata perpisahan. “Saya sudah tidak bisa lagi berada disini. Saya harus pindah, ke kota tempat kelahiran saya. Selamat tinggal . . .”

Dia terdiam sejenak. Kemudian dia menunduk dan meraih tisu di atas meja. Dalam hening dia menangis, mengusap matanya yang dipenuhi butir-butir bening air mata . . .

Saya hanya bisa diam. Seperti orang-orangan sawah di tengah malam. Waktu berhenti berdetak . . .

Waktu pun berjalan, bahkan berlari. Tiga tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu. Tak ada yang abadi. Waktu dan tempat jugalah yang memisahkan. Kontak pun makin lama makin jarang, sampai akhirnya berhenti sama sekali.

Di tengah kesibukan yang sekalipun sengsara tapi saya nikmati, di tengah orang-orang baru yang masuk dalam dunia saya, kadang-kadang muncul begitu saja pertanyaan yang saya sendiri tidak tahu jawabnya: “Once you cared so much about each other. Do you still care about each other now?

Seandainya ada wartawan kurang kerjaan yang mewawancarai saya dan bertanya hal itu, kemungkinan besar akan saya jawab, “Iya, masih sayang tapi sudah tidak kangen”.

Betul kan apa yang saya tulis di posting terdahulu? Sayang tidak berarti harus bersama-sama dan berinteraksi satu sama lain. Sayang bisa tetap ada—seabsurd apa pun bentuknya—bahkan ketika sama-sama sudah menjadi orang asing satu sama lain. Mungkin bisa terwujud dalam doa, dalam pengharapan nun jauh di lubuk hati akan kebahagiaan satu sama lain, dalam mimpi . . .

Samar-samar saya ingat baris-baris kalimatnya menjelaskan bagaimana semua ini dilihat dari sudut pandangnya: “Saya memang sengaja menjauh, tak akan setitik koma pun saya taruh di wall mu, atau di blogmu. Saya hanya menjaga reputasi Anda dimata orang lain, kolega dan orang-orang muda yang sekarang ada di tanganmu. You have reputation, you have a respectable position, and I take great pains not to screw it up.”

Butuh waktu lama sekali untuk saya yang dungu ini memahami apa makna perhatian yang dia wujudkan melalui tindakan seperti itu. Tapi sekarang saya mengerti. . . .

16 Comments

  1. sy prnah alami hal yg sama.
    prnh jd ‘dia’ dlm postingan ini.

    yg sy tahu, kita tk akn prnh jd orng yg sama stlh ad se2orng trlbh yg kita sayangi, prgi dr hdup kita.
    awalnya bgitu intens lalu tiba2 tdk sama skali, sungguh bkn hal yg mdh untk dihadapi.

    yg mmbuat sy brthan ato bisa diblng keras kepala, adlh janji kpd diri sy sndiri.
    sy brjnji pd diri sy, ‘i’ll nvr be the same, if we evr meet again’.
    dy tlah tnggalkn jjak dlm hati sy.
    apapun yg trjdi stlh sy tk prnh lg brtmu dngan dia, sy hrs jd pribadi yg lbh baik.

    brtrima kasihlah pd orng yg mninggalkan anda, krn dy tlh ajarkan kemandirian pd anda…

    • Wow, menyentuh sekali kisahmu. Sayang tulisanmu agak sedikit alay jadi agak males ngebacanya 🙂

      IYa, memang posting itu khusus dibuat untuk orang-orang kayak kamu.
      BTW, kamu ini sashanya ma chung atau dari mana?

  2. *glekh* Beneran?? Joking aja kan? XD

    Wuiih Sasha mangstab hee hee
    Keren2, I learnt something new, honestly.

    Keep commenting! *aneh XD*

  3. Feli, ok, period. Saya nggak bisa ngomong lebih jauh untuk hal yang satu itu.

    Tapi baris terakhirnya Sasha itu memang benar: ditinggal membuat kita jadi lebih tegar dan mandiri; tapi yah in a way it depends on the person juga sih. Ah, andai semua cewek seperti itu, dunia akan tegar, dan . . . blog ini gak akan laris dibaca lagi, ha ha haaa!:)

  4. Ckckck brati beneran ahahaha
    Saya rasa di daerah lain atau di negara lain, banyak juga kok wanita yg tegar gitu.
    Cuma di sekeliling kita (or maybe just mine) cewe2nya semacam tak berotak =,.=z

    Ditinggal cowo aja dunia kaya kiamat. Walaaah repot deh =,.=z

  5. Wadaw, you keep prodding:).

    Well, sometimes life is so twisted. You are bound, but you meet someone, and then something happens, and then you say goodbye and then . . . life goes on. . . .

    Wah, your last line is so jlebz. Kayaknya tegar banget ya kamu? Gak heran sih. . .

    PID

  6. perlu waktu, sampai akhirnya bisa menulis spt i2.
    klo sampai dibilang alay, y mngkin i2 salah satu dampak dr pngalman pribadi i2,.
    😀

    thanks 4 everything

    p.s.
    sprtinya saya bkn sasha yg dimaksud.
    tp sy, mmang ank ma chung^^

    • Belum, Sasha. Mau nyari di antara ratusan mahasiswa Ma Chung? Wadaw, saya gak punya waktu, ha ha ha!

      Hah? Kamu telpon? Terus, gimana jawabnya?

      PID

  7. failed!
    nampaknya, dia sdh enggan brurusan dgn sy. Meski, pd saat trakhr X brtemu dy blng msh sayang.
    i know he messing around.

    i’ve gotta be out my mind, 2 think its gonna work this time…

    ΛΛ

Leave a Reply