Mengapa Wanita Smart Kepincut Pria Ndak Karuan

Forkomil saya kali ini bertopik: “Mengapa Wanita Smart dan Baik-Baik Kepincut Pria Ndak Karuan”. Yang datang kebanyakan wanita-wanita muda yang dari paras dan gerak tubuhnya menandakan bahwa mereka setidaknya bergelar S2, banyak yang dari luar negeri, dan sedang bekerja keras meniti karirnya. Smart-looking and good-looking as well.

“Berkat kemajuan teknologi dan gerakan emansipasi wanita, jaman sekarang makin banyak wanita muda usia akhir 20-an sampai pertengahan 30-an yang mempunyai aspirasi untuk memajukan karirnya, menerapkan ilmunya semasa kuliah, dan memamerkan kapasitas intelektualnya jauh sebelum mereka memutuskan untuk membina hubungan asmara dengan seorang pria dan kemudian menikah,” demikian saya memulai.

“Namun, hal seperti ini ternyata bertentangan dengan naluri alamiah,” saya melanjutkan. “Semakin kencang seorang wanita muda mengejar karirnya, semakin tinggi kadar cortisol dalam dirinya; nah, kehadiran si cortisol sialan ini memicu stress yang makin lama makin tinggi.”

Saya meneguk minuman sejenak. Tebbzz, tea with shocking sodaaa. Mata para hadirin mulai kelihatan penasaran. “Lha terus gimana, Pak?? Mestinya gimana?” akhirnya seorang wanita di baris depan tak tahan untuk tidak menyela.

“Nah,” saya lanjutkan, “ini beda dengan wanita yang menuruti basic instinctnya dengan menikah lebih dulu, hamil, melahirkan, menyusui dan merawat anak. Pada wanita seperti ini, hormon serotoninnya bekerja lebih dominan daripada cortisol. Serotonin tuh membuat nyaman, tenang, dan yang paling penting: membuat wanita merasa menjadi wanita seutuhnya. Sementara dia merawat rumah tangga dengan aliran serotoninnya, suaminya dan para pria lainnya menuruti lecutan hormon testosterone mereka untuk bekerja keras di luar rumah mencari nafkah, mencari uang, kekuasaan, dan simbol status (money, power, and prestige). Cocok.”

“Ok, Pak, minumnya entar dulu!” sergah seorang hadirin ketika melihat saya menyentuh botol Tebzz saya lagi. “Teruskan dulu. Terus gimana dong dengan wanita yang tipe smart women tadi??”

“Nah, para smart women tadi menderita kekurangan serotonin dan kelebihan cortisol. Karena tuntutan karir, persaingan kerja, ambisi, friksi, dan sebagainya, mereka stress, walaupun kebanyakan tidak menampakkannya. Untuk mengurangi stressnya, mereka mulai mengkonsumsi banyak lemak, glukosa, dan karbohidrat. Dengan bahasa yang lebih sederhana: mulai menggasak pizza, snack, coklat, ice cream Haagen Dasz dan nasi empal! Kenapa? Anda tahu kenapa??”

“Karena kadar glukosa dan karbohidrat memang menurunkan stress!” sahut seorang wanita berblazer coklat.

“Persiiiss!” jawab saya. “Jadi, karena serotoninnya hilang dan cortisolnya melonjak, mereka stress; karena stress, mereka mulai sering makan, karena mereka mendapati bahwa kadar glukosa menurunkan stressnya.”

Saya melirik seorang hadirin berukuran XL manggut-manggut. Mmm, mungkin dia menyadari sekarang kenapa makin sulit mencari baju yang ukuran S atau M buat dirinya . . .

Belum juga dua detik saya mengambil napas, seorang wanita di baris tengah langsung memberondong: “Terus, Pak, teruskan! Apa hubungannya sekarang antara wanita smart itu dengan pria ndak karuan??”

“Nah, ini,” lanjut saya, “Wanita tipe ini mudah menemukan penangkal stressnya pada pria-pria macho yang cenderung agresif, sedikit liar, posesif, dan celakanya, kebanyakan juga bukan pria baik-baik. Sekalipun mereka sangat pandai bermain kata dan memuja si wanita, dan secara fisik memang kelihatan seperti kuda Sumbawa, tegap dan kokoh, mereka kebanyakan memperlakukan wanita sebagai obyek belaka; mereka sangat dominan, beberapa berkepribadian sulit, egois, atau paranoid . . .”

Hadirin terdiam sejenak. Jlebz rupanya.

“Tapi herannya, mengapa wanita -wanita smart ini seperti gak bisa lepas dari kekasih parah macam itu?? Ya, karena tanpa sadar, mereka memang membutuhkan figur pria seperti itu. Otak dan pikirannya yang smart itu mengatakan “ini pria keliru!”, tapi tubuhnya yang haus serotonin dan penuh cortisol tadi mengatakan sebaliknya: “ini yang mampu meredakan stressku!”. Naah, loo!”

Hadirin diam tapi terbelalak seperti melihat hantu sawah.

“Buat wanita seperti ini perjuangan keras, bahkan penderitaan, sudah menjadi elemen utama bukan hanya dalam karirnya, namun juga dalam hubungannya dengan pria macam begini.”

“Yah, kalau gitu mengapa tidak mencari pria mapan yang baik-baik saja?” sergah seseorang.

“Sederhana aja jawabnya,” kata saya. “Karena pria macam ini pasti tidak suka istrinya berkarir di luar rumah. Karena mereka udah mapan, ya wajar kalau mereka menuntut istrinya untuk tenang damai sejahtera saja di rumah, membesarkan anak dan merawat rumah. Wanita karir, smart dan ambisius kayak Anda apa mau dibegitukan? Hayooo, piye hayoo!?”

“Jadi, wanita smart pasti belum mau buru-buru mengikatkan diri dengan pria mapan seperti ini, ya?” tanya seseorang.

“Persiiiisss!” jawab saya. “Pria mapan identik dengan ketenangan, gaya yang konvensional, tertib, serba teramalkan dan teratur, . . . yang lama-lama . . .membosankan karena datar. Nah, pria ndak karuan, sekalipun pendominasi dan abuser, beberapa malah nggak jelas karir atau masa depannya, mampu memberikan cita rasa yang lain: lebih exciting, lebih punya passion, mungkin penuh kejutan, jadi yaah, begitulah. . . lebih menggairahkan memang.”

“Makanya sulit lepas, buset bener!” gerutu seorang hadirin, disambut senyum dan tawa kecut yang lain. “Terus, advis Anda apa dong untuk wanita?”

“Mmm, mungkin menuruti panggilan alam lebih baik ya. Lebih baik menikah di usia muda, melahirkan dan menyusui anak, merawat anak; itu kerjaannya hormon serotonin semua tuh. Lalu, setelah anak mulai besar, baru kuliah lagi, bekerja, mengejar karir; atau, kalau emang nggak mau terlalu kencang di karir ya nggak apa-apa toh? Kan emang kodrat wanita merawat generasi penerusnya?”

“Ooh, jadi dengan begitu, kemungkinan untuk bertemu dan terperangkap dalam hubungan dengan pria ndak karuan jadi semakin kecil, ya?” tanya seseorang dari ujung kiri.

“Persisss!” saya membenarkan.

Saya perhatikan seorang wanita di baris belakang mendadak menjadi merah padam mukanya. Saya tahu wanita ini aktivis gerakan emansipasi wanita. “Hmmh!” dia mendengus. “Sia-sialah RA Kartini berjuang. Ternyata ujung-ujungnya ya cuma dapur dan ranjang saja tempat kita ini sebenarnya!”

“Yah, semua ada harganya,” saya menanggapi. “Mengejar karir dan mecoba berdamai dengan cortisol dan mentolerir perlakuan pria ndak karuan, atau menikah dulu, settle down with a real husband and father figure, baru kemudian mengejar karir, atau tidak sama sekali.”

Semua hadirin tercenung.

“Tapi, FYI, ini adalah hasil studi sosiologi wanita modern di Amerika,” saya mencoba menenangkan. “Kulturnya juga khas Amerika. Kalau kita di Indonesia mungkin tidak segampang atau serendah ini, karena kita semua punya Pancasila, kita ini dari budaya Timur dan kita semua beragama. Betul demikian?”

Sepi. Tak ada yang menjawab. Semua hadirin membisu, mata menatap setengah melamun ke layar.

“Bukankah demikian??!” saya ulang lagi, mengharapkan jawaban serempak: “Iya, betul! Kami tidak semudah itu!”.

Tapi tetap sepi. Wanita-wanita muda yang kelihatan cerdas, enerjik, trendy bahkan sedikit angkuh tadi hanya menatap dengan mata setengah melamun . . . seolah -olah tidak yakin dengan sesuatu.

“Saya ulang: benar bukan bahwa kajian ilmiah ini tidak berlaku untuk Anda, wanita-wanita smart yang memegang teguh adat keTimuran, agama dan Pancasila!!??”

Tak ada satupun yang menyahut atau mengiyakan.

D-a-m-n! saya jadi merinding . . . !

14 Comments

  1. Wew, lumayan bikin merinding Pak bacanya. tapi sebenernya sich emang kya gt… kadang2 wanita juga suka tantangan… ngrasa lebih asyik jalan sama pria yang bikin penasaran, rada nakal, sok cool, gag dewasa n slebor daripada pria baik-baik yang sepintas terlihat membosankan. well, kecuali kalo wanitanya tipe2 cinderella yg butuh prince charming buat mengubah hidupnya hahaha. Tapi pak, katanya malah kesalahan-kesalahan seperti ini yang dikarenakan seorang wanita terlalu mengikuti perasaannya dan akhirnya salah pilih lah yang jadi daya tarik mereka. sehingga pria-pria lain bisa melindungi dan menjalankan peran mereka sebagai kesatria berkuda alpart hahaha… sementara kalo wanita itu jadi terlalu logis, tenang, manis dan keliahatan baik-baik saja (maksudnya memilih kehidupan dengan baik, jadi ibu rumah tangga yang baik, mengurus rumah dan anak2 dengan baik) sang pria jadi bosan karena perannya sebagai kesatria di tengah hujan jadi hilang… lha terus gimana hayooo heheheheh

  2. senang sekali membaca tulisan ini … akhirnya ada juga yang mendukung prinsip konvensional saya. Saya sangat ingin menikah dengan pria manis, baik hati dan mencintai saya (mupeng mode on) … dan berharap dia juga mendukung saya untuk berkarir di rumah ^^ (para wanita sadarlah bahwa kita bisa santai tapi dapat income double … yg satu dari hsl krj santai di rumah, yg satu ‘sangu’ dari suami …) xixixixi

  3. Shanty, untungnya wanita juga terbagi jadi dua tipe, seperti katamu itu. Wanita muda yang dari sejak kecil merindukan father figure yang kalem, pelindung, mapan dan jauh dari kesan urakan ternyata juga banyak. Tapi itu untuk posting berikutnya saja:)

    Ksatria ber Alphard bosan dengan istri yang kalem dan tidak neko-neko? Kok rasanya gak ada ya. Men are big babies; mereka justru suka dg wanita tenang yng mampu memusatkan perhatiannya kepada dia sendiri, pria lain dianggap homo aja, ha ha ha!

    Ella, semoga terkabul apa yang kau impikan. Gak jadi smart career women gak papa, asal dapat pria yang baik seperti itu.

    Patrisius

  4. Kerenn pak tulisannya…lbh keren lagi klo saya hadir di Forkomilnya Bpk lbh keren lagi ya…sambil bisa lgs liat gayanya Bpk klo presentasi yg ada mbanyol2nya…
    Anyway keren pak…
    Sebenernya harus gimana ya pak, krn skr banyak wanita yg sudah menyalahi kodratnya sbg wanita. Mereka lbh suka mjd wanita karir, yg seolah2 sdh ngak butuh pendamping hidup krn mereka merasa sdh bs mencukupi kebutuhannya tanpa hrs ribet dg urusan suami & anak. Tp untunglah sy bukan tipe2 cewek spt itu. Saya lbh suka menjadi istri & Ibu RT yg bisa bekerja dirumah…kayaknya setipe dg Lala Sien deh.

  5. Lili, iya, thanks. Ya syukurlah kalau terinspirasi. Senang juga mendengar masih banyak yang lebih suka jadi wanita beneran, maksud saya, bukan wanita yang sembilan puluh persen karir dan sepuluh persen keluarga. Emang udah kodratnya kali ya? Tapi saya juga masih bisa respek sama wanita karir. Ibu saya sendiri memilih tipe yang kedua itu: married muda, punya anak, baru sekolah lagi untuk berkarir.

    Thanks.
    Patrisius

  6. Cool post 😀
    Though I have to say I hold some things against it XD

    Pak, kalau naturally emang ga mau get married and lebih suka kerja, apa hormon cortisol juga meningkat drastis?
    Iya I know pasti kerja itu ada stress-nya, but guys feel the same too, don’t they?
    And what hormone rises when they’re under stress?

  7. Feli, kenapa harus hold back your opinions? Just pour them out. I’d love to hear them, malah bisa bikin blog ini tambah seru!

    Iya, Feli, rasanya demikian. Cortisol akan meningkat, karena stress itu sudah satu paket dengan kerja dan karir.
    Iya, guys juga, tapi hormon mereka memang dipersiapkan untuk itu. Mereka punya testosterone dan androgen, yang memang disiapkan untuk mikir, stress, kerja keras. Hormon yang meningkat kalau mereka stress? Lha yang ini saya belum tau, harus tanya wolphram alpha dulu, ha ha ha!

    Forkomil? Iya, keren, tapi sayang cerita di atas cuma khayalan. Kalau Forkomil, saya bicara masalah bahasa, bukan wanita dan stressnya:)

  8. Umm, okay, I guess I’ll give it a try 😛

    Overall, I cannot agree with the conclusion of “going back to the old ways” stuff.
    How should I put it… women are (or used to be) VERY dependent on their males, right?
    Now that they have a chance to stand on their own feet, isn’t that a great thing?
    Moreover, today’s women are faced with doors to succession wide open, how can they just miss it now? 😛

    There is also a paragraph which mentions that women who “follow their basic instinct” which is to get married have lower cortisol and higher serotonin which manages their stress level.
    Oh well, yours a happy family, Mister 🙂
    There are so many terribly depressed women out there, oppressed by their marriage for a gazillion reasons 🙁

    As in regards to the main title of the post, I guess that does happen a lot, but maybe not that much 8D
    I dunno much about such a thing XD

    • Hi Feli,
      Thank you for such a smart response. Yes, today’s women should aspire higher than just being a housewife, and that’s good too. Economy somehow is greatly boosted by women in the workforce. But as I said in the posting, everything comes with a price. Such women have to trade off their nature-driven instinct with stresses and pressures typical in the career world. So, I guess we try to strike the balance by advising women to get married earlier and then pursue their career later. Of course this is a sweeping generalization; in some cases, it’s just not possible. Easier said than done, eh? 🙂

      Patrisius

  9. Hi, Mr Patris.
    hahah 😛

    Yeah, it’s not easy to do bcoz the husbands usually don’t agree with their wives outside the household 😛

    I don’t fret too much though, the world usually finds a solution, eventually 🙂

  10. I do agree with ce Lala Sien…if we can get money and pursue our career without leaving home, why not? I wonder myself 10 years from now sitting in my garden, with my son playing around me, and I watch him while typing some next-best-seller novel on my laptop… 🙂

    BTW Sri Mulyani can still pursue her international career without leaving her family, though 🙂
    Sooo……….it depends 😉

  11. Yeah, Umy, that would be ideal: making money and pushing yourself to the national stage without leaving your family and kids.
    Now, the challenge is: how to hone the necessary skills to be able to earn money and self-actualization like that.

    Patrisius

  12. Pingback: 2010 in Review of Machungaiwo « Machungaiwo – Ma Chung Cinta Akoe

Leave a Reply