Ahli Kitab

Ahli Kitab. Bah! Ini julukan sinis dari kami—para team leaders di Ma Chung—untuk orang-orang yang biasanya disebut pakar dan sering bicara panjang lebar mengenai macam-macam topik tapi belum tentu bisa kalau disuruh melakukan apa yang mereka ceramahkan. Setidaknya ada HK yang sering bicara tentang pemasaran, branding segala macam, terus ada MT yang sering muncul di Metro TV. Masih banyak lagi.

“Kita tidak butuh ahli kitab,” demikian seorang dari kami pernah mengatakan. “Yang kami perlukan adalah orang-orang yang gak usah berbicara panjang lebar tentang teori-teori segala macam, namun langsung pada pelaksanaannya, dan make things happen!”

Saya tentu saja seribu persen setuju dengan pendapat itu. Nyatanya, semua yang saya capai di Ma Chung ini juga bukan modal mulut; saya termasuk tipe “algojo”: orang yang sangat pendiam, bahkan terkesan cuek, namun lebih suka langsung bertindak dan membuat perubahan.

Maka sadar atau tidak, ternyata kami di lembaga ini telah mendidik mahasiswa-mahasiswa supaya mereka tidak hanya menjadi Ahli Kitab. Bicara teori boleh, berceramah tentang pengalaman boleh, memberi kuliah tentang nilai ini nilai itu silakan, tapi jangan terlalu panjang dan jangan hanya itu. Action! Itu yang lebih penting.

“Ahli Kitab tentang marketing itu,” demikian kolega saya pernah bercerita, “ternyata kedodoran ketika diminta benar-benar menangani marketing di suatu perusahaan berskala nasional yang tersohor.”

Maka jangan heran kalau melihat dosen-dosen dengan style Anti Ahli Kitab seperti ini makin banyak. Sedikit berceramah, sisanya untuk membuat mahasiswa mengalami sendiri apa yang diteorikan tadi, kerja kelompok, simulasi, studi kasus, kunjungan ke luar kelas, dan macam-macam lagi. Bukankah generasi Y juga memang tidak betah mendengarkan uraian panjang lebar sampai berbuih-buih dan lebih suka melakukan aktivitas nyata?

Ahli Kitab, ha ha ha! Benar-benar menohok. Makanya jangan banyak bicara atau nulis segala macam teori; Anda lebih dilihat karena hasil nyata yang Anda lahirkan.

Selesai menulis posting ini, saya menghadiri undangan di kelas Carotenoid. Ada acara seminar mahasiswa. Dua orang mahasiswa, pria dan wanita, menyambut dengan senyum ramah di depan pintu sambil menyodorkan kotak snack.

“Selamat pagi, Pak Ahli Kitab,” sapa mereka.

“Haaahh??!!” saya tersengat. “Eh, berani-beraninya Anda mengolok saya Ahli Kitab??!”

“Loh, kan memang benar, Pak?” mereka kelihatan kebingungan.

“Benar gimana??! Saya tersinggung loh kamu bilang saya ‘ahli kitab’!”

“Lho, Bapak kan yang punya blog machungaiwo to? Lha posting-posting Bapak yang ratusan biji itu kan juga cuma teori, nasihat dan prinsip tertulis segala macam; tapi apa iya Bapak sudah melakukannya seperti itu di dunia nyata?”

Kontan saya tersekima, eh, terkesima.

Dhiengng!! Jangkriik, . . . dia benarr!!

4 Comments

  1. Pak, ini mungkin komentar dari saya sebagai praktisi, memang sih saya paling malas baca teori. bahkan saat saya masih kuliah paling malas dengarkan dosen ceramah pasti di jamin saya ngantuk.Tapi ndak bener kalau teori tidak penting untuk seorang praktisi, seorang praktisi tanpa teori NGAWUR, ada kejadian lucu saat saya kerja, saya paling malas itu nyatet kuliah ,saya termasuk mahasiswa Xerox (sebab selalu foto copy catatan teman itu pun mendekati UAS hehee) suatu saat pada saat saya kerja ,saya dihadapkan dalam suatu permasalahan yang sulit, setelah gogling sana sini ujug ujugnya ada solusi nah solusi itu memaksa saya untuk membaca teori duaaasssar dari suatu bahasa pemrograman dimana itu diajarkan pas kuliah dan matakuliahnya adalah matakuliah teori yang bisa ditebak saya malas itu kuliah hehhhe.Untungnya saya ada teman cewek yang jadi dosen, dan seperti biasa cewek paling lengkap catatan kuliahnya, dan untungnya lagi bu dosen itu masih menyimpan catatan kuliah. demi melaksanakan tugas saya ya saya minta tolong untuk dikirimkan fotocopy catatannya itu. Dan alhamdulillah setelah menyabarkan diri membaca RTFM (ini istilahnya orang IT pak singkatannya maaf ya pak, kasar “Read the Fu**ing Manual”) dan diterapkan di implementasi, malah lebih efektif. sejak saat itu saya malah lebih banyak baca referensi teori sebelum implementasi, dan lebih efektif kok. jadi tidak selamanya teoritis itu omdu tetap semangat pak.

  2. Matur nuwun sanget, Pak Supri. Memang benar, praktek thok tanpa teori ya padha karo goroh:) Terima kasih sekali lagi untuk menyempatkan diri memberi komentar berbobot. PLease continue RTFB (Read The F***ing Blog) XD XD 🙂

Leave a Reply