Ayo Menjadi Tuhan lewat Buku ‘The Secrets’

Buku “The Secrets” oleh Rhonda Byrne sangat populer di kalangan anak muda. Intinya menggetarkan: Anda semua punya kekuatan dalam diri dan pikiran yang memampukan Anda untuk meraih apa pun yang Anda inginkan. Itulah rahasia yang selama ini tersembunyi dan tidak disadari. Sekali Anda menemukan rahasia itu dan menggunakannya, abrakadabra, luar biasa! Anda menjadi manusia bahagia, manusia super, yang mampu meraih apapun yang Anda inginkan. Salah satu ajaran yang diberikan buku ini adalah: apapun yang Anda letakkan di depan kata ganti “saya” adalah komando untuk seluruh alam semesta ini. Katakan “saya sukses,” maka alam semesta pun menuruti perintah itu dan membuat Anda sukses. Katakan “saya bahagia”, maka alam semestapun menurutinya dan membuat Anda bahagia. Katakan “saya populer,” “saya menguasai pangsa pasar”, “saya menemukan cinta sejati”, “saya menang”, “saya kaya raya”, “saya berkuasa”, maka alam semesta pun seolah berkomplot secara kompak untuk menjadikan semua itu bagi Anda. Katakan “saya INGIN kaya”, “saya INGIN pintar,” atau “saya INGIN mendapat pacar”, maka alam semesta pun menurut: Anda akan ingin, ingin, ingin, dan ingin terus sampai akhirnya Anda jadi tua dan mati!

Such is the power of the Secrets within us! . . .

Belasan tahun yang lalu di awal usia saya ketigapuluh satu, saya sudah mempraktekkan resep ini dari buku lain dengan tema sama dengan The Secrets. Pada awalnya saya skeptis, tapi lama-lama saya mulai percaya betapa luar biasanya pembentukan realita melalui pikiran-pikiran sugestif semacam itu. Dengan takjub, saya melihat dan mengalami sendiri betapa hampir semua yang saya harapkan pelan-pelan mewujud dan akhirnya menjadi sangat nyata dalam hidup saya!

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya usia dan pengalaman hidup saya, saya merasa ada sesatu yang kurang beres dengan daya pikir semacam itu. Mengapa lambat laun saya merasa bahwa saya sedang menggeser peran Sang Maha Kuasa dari alam pikiran dan perasaan saya? Nggak nyaman rasanya. Ya memang betul, melalui sugesti mental tak henti-hentinya dengan pernyataan dan pola pikir seperti itu, relatif hampir semua yang saya impikan menjadi kenyataan. Lho, tapi, dengan usia semuda ini dan ego serta emosi yang kadang-kadang seperti kuda liar lepas kendali, siapa bisa menjamin bahwa saya tidak tersesat jauh di lembah hitam nan gelap dengan semua perwujudan keinginan itu? Dengan bahasa yang lebih sederhana: jika seorang pendosa seperti saya diberi kemampuan menciptakan realita apapun yang diingininya, apa jadinya hidup ini??

Begitulah, karena merasa terganggu dengan bisikan nurani seperti itu, saya menghentikan cara berpikir tersebut. Saya merasa lebih nyaman menjadi manusia biasa: manusia yang diberi akal budi, talenta, tapi juga sarana intrsospeksi untuk senantiasa menyadari kelemahannya dan tak henti mencari jalan menuju Tuhan sang Raja Damai.

Tentu, saya masih punya seribu keinginan, seribu harapan dan ambisi. Tapi saya tidak pernah mau lagi bermain-main dengan pola pikir menciptakan semua itu menjadi realita seperti yang diresepkan oleh buku “The Secrets” dan buku yang saya baca tahun 1998 itu. Saya lebih suka berserah diri kepada Tuhan saja. Caranya sederhana: setiap pagi dan malam saya melantunkan doa yang sama kepada Nya: Tuhan yang baik, saya ingin menjadi seperti ini, saya punya rencana seperti itu, saya berambisi menjadi ini, saya ingin yang itu. Jika di mata Tuhan dan sesama itu baik adanya, mohon bantu saya untuk meraihnya. Amin”. Udah, itu saja. Jadi perkara nanti saya berhasil mencapainya, atau gagal total, ya sudah. Buat saya yang polos dan lugu ini, kegagalan itu artinya sederhana: Tuhan tidak atau belum berkehendak, atau punya rencana yang jauh lebih mulia untuk jiwa saya. Titik.

Kitab Suci agama saya mengatakannya dengan sangat elok: “ Rencana Tuhan bukanlah jalanmu. Keinginan daging tidak senantiasa sama dengan keinginan roh. Apapun yang Tuhan rencanakan untuk umatnya senantiasa akan baik”.

Tahun 2007 saya menghadiri sesi presentasi seorang rekan dosen tentang betapa hebatnya buku “The Secrets” ini. Karena dia seorang motivator, saya maklum akan pilihannya tentang topik itu. Tapi tetap saja saya menggugat dalam hati, apalagi ketika melihat video clip promosinya. Mungkin saya yang sensi atau bagaimana, tapi hampir semua pembicara yang tampil di video itu berwajah dingin, jauh dari kehangatan atau kepasrahan yang ditampilkan seorang rohaniwan yang welas asih dan rendah hati seperti Mother Theresa. Sekalipun kata-katanya sangat membujuk, namun nadanya membuat nyali miris; istilah bahasa Inggrisnya “peremptory”: jangan dibantah atau diragukan, karena inilah yang benar!

Hiiiiih . . .! Merinding bulu kuduk saya. . . .! Apalagi melihat wajah-wajah mahasiswa dan rekan-rekan yang lebih muda di acara itu menjadi berbinar-binar seperti anak lapar melihat sebungkus nasi dengan empal dan kuah gurih!

Untung seorang rekan menepuk saya dari belakang, dan dia berbisik: “Pak, I know what’s running thru your mind. Saya juga berpikiran sama seperti Bapak kok: lantas dimana peran Tuhan kalau sudah seperti itu?”

Beberapa waktu yang lalu ada seorang muda usia menulis email kepada saya menceritakan betapa ajaibnya hidup dia setelah mempraktekkan “The Secrets”: “Pak, hebat! Buku ini dahsyat! Saya bisa menjadi lebih sukses dan lebih happy dengan mempraktekkan kiat-kiatnya!”.

Emailnya tidak saya balas sampai detik ini. Saya hanya berharap semoga dia, dengan segala kemudaan usianya dan kementahan emosi serta egonya, tidak menjadi keblinger, tidak tersesat, tidak membabi- buta dengan kekuatan itu. Semoga dia masih ingat bahwa masih ada Tuhan di atas kekuatan mental manusia yang paling dahsyat sekalipun.

Buku “The Secrets”, sementara itu , makin laris dan disusul oleh sekuelnya dengan judul “The Power”, masih oleh Rhonda Byrne. Buku ini pasti akan jadi best seller juga di kalangan anak muda, atau bahkan orang-orang paruh baya. Pesannya jelas: Andalah penentu semua jalan hidup Anda. Anda punya rahasia dan kekuatan luar biasa! Mereka pasti menyambutnya dengan gembira karena buku ini secara implisit menafikan semua yang membuat mereka mengharu biru selama ini : karma, takdir, suratan nasib, kehendak Tuhan, kepasrahan diri pada Sang Maha Kuasa. Jadi benarlah apa yang dikatakan seorang bijak berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika saya masih remaja: “akan datang jaman gelap dimana banyak nabi-nabi palsu bermunculan. Yang benar dan yang salah sudah tidak jelas lagi bedanya. Itu adalah jaman edan, dan siapapun yang tidak ikut edan tidak akan kebagian”.

Selamat datang di jaman millenium kedua. Gelap atau terang? Baik atau benar? Kutukan atau rahmat? Dosa atau suci? Nabi atau iblis? Menuju ke surga atau melesat ke neraka? Saya juga tidak tahu. . . . .

May God bless us all . . .

Post-note:
Saya sengaja tidak mencantumkan judul buku dahsyat yang saya baca di tahun 1998 itu. Saya tidak mau para mahasiswa atau bahkan anak-anak saya kemudian mulai mencarinya dan menjadikannya kitab suci edisi millenium.

11 Comments

    • Wow, Merry, sekali komen langsung jlebz. Mengena sekali. Iya, saya tdak melihat sisi itu ketika nulis ini.

      Thanks, ya Merry. Gitu dong, baca blog ini terus komen. 🙂

      Patrisius

  1. pak, sy tdk kepikiran akan kemungkinan ‘menuhankan diri sendiri’, sebelum akhirnya membaca postingan ini.
    tp yg saya yakini,
    manusia tak akan mndapatkan lbh dr apa yg telah Tuhan tetapkan atas dirinya, jika berperilaku layaknya tak butuh Dia yang Maha pemberi.

    membaca artikel ini, mmbuat sy sadar yg diberikan Tuhan sdh bgitu banyak, tak sebanding dgn rasa syukur sy.
    trims pak^^

  2. Thanks, Sasha. memang perlu perjuangan dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa masih ada Tuhan di atas segala kekuatan mental kita.

    Patrisius

  3. I am trying to put your idea in my simple words, so correct me if I am wrong.
    You wrote that if you are successful, it is god’s good blessing upon you and when you fail, it means he has another path for you, is that correct?

    Then I have a question: all your success thru the years which you claim came from practicing what the book told you… does that not mean god wanted you to succeed and be happy and gave that power to you to make yourself joyful?
    I am thinking a lot about the correlation. I simply do not know what and how god thinks, but religious people state how they know the way god thinks all the time, so I am asking you in my humblest manner.

    And, it is unfathomable how you “regret” the joy people are getting from their very own hardwork.
    Surely all those achievements are no magic, right? There must be toil behind each.

    I do not think the powerful books are creating a negative impact to the world, such as what you have written.
    Even without them existing, there are already people who are faithless to the god.
    And I believe the book is humbly helping you to know that you are “limitless”, you have that power. Why try to limit yourself now?
    Are your mind and power not also god’s very own creation?
    And btw, remember that the author of The Secrets come from a country where religion doesn’t matter.
    I won’t blame the author haha =)

    This is a nice post btw, for brainstorming =D

  4. Feli, great comments; many many thanks! It’s just amazing a young person of your age can compose a very structured response about this issue.

    What you feel, Feli, about that limitless power of humans, is exactly how I felt upon finishing that very mind-provoking book back in 1998. Yes, simply stated, I felt that God is nothing else but ourselves. Much as God has the power to create, so we also have the similar power to create our reality, our wishes, because we are created in the image of God. That’s how I felt years ago. To some extent, I still feel that power within me. Yes, part of my successes can be attributed to me exerting that power of creating. I wrote about this in a very subtle manner that actually implies that belief in the power on my posting entitled “Mimpi Saya”. FYI, the dream that I had is now turning to reality: for Ma Chung, as well as for me.

    Until at one stage of my life I was struck with another challenge: with me still struggling against my ego and weaknesses, I dont simply feel secure with that immense power. I simply am afraid of misusing it, not to mention that in some cases, even the strongest desire or dream that I tried to make real with that power simply fizzled and failed. I was forced to yield, facing another reality that I despise, but then I found that this very reality has led me, or shaped me to become a beter person. So I conclude simply that much above the power I have, there is still a far greater POWER that seems to know what is best for me. Ok, I dont call it “God” if you feel uncomfortable with that. But that POWER exists, and it’s far from being ambitious, being egocentric, being emotional; it is far more patient, more constant, more . . . forgiving and compassionate, and at the end, it feels really soothing.

    So, yes, I acknowledge the huge power that we all have; it definitely comes or is granted to us by the so-called the Divine. The point I made on my posting is that, despite the huge power we harness, we should admit that we are also full of weakness and defects, and that’s why we have to ask for His guidance to lead us to His path, the path wehere time simply stops existing and we are in union with Him, the great Creator.

    The flaw with religious people is that they condemn people without religions, saying that God cannot enter their Godless domains, let alone help them prosper and grow well. What I witness with my own eyes is that God works with equal power of love to any human beings, ANY human being, regardless of whether they are atheist or religious or atheist-disguised- as religious or wacko religious or whatever. Huang Shi ru once told me: “I dont believe in God, but I have faith”. Even to this kind of person God expresses His love.

    Yes, Fel, this is good for a warm discussion on this spiritual matter. Thanks again for commenting.

    Patrisius

  5. Ah, I somehow got the idea that the book has some “bad” powers, eh?
    For starters, I never know that book. People were raving it, I thought it was bull though.. wkwkwk

    How should I put it… perhaps, the book gave explanations on realising your dreams through any means?
    And by “any”, I do mean “ANY”.. including not-so-good methods. Does it?
    I just somehow got your point clearer from the comment =)

    You know, I think there are way too many “less-thoughtful” people out there, plus less-considerate as well.
    That’s why your worry has just made sense to me hahaha XD
    I remember a saying that goes much less like this: absolute power is the start of absolute corruption.
    Oh well =P

    Yeah, being religious doesn’t mean one must be faithful. For instance, they say they believe that god is with them, but they freak out at the very first sign of a ghost’s presence. That’s not funny, that’s extremely annoying. You may think I’m exaggerating, but no, I really do hate people who talk about their god and religion all the time but freak out of ghosts.
    They’re simply fooling themselves and everyone else =,.=z

    Nah.. you’re welcome =D

Leave a Reply