Menjadi Dipercaya

Alkisah, ada seorang anak lelaki disuruh memanjat tangga oleh ayahnya. Sampai di atas, ayahnya berkata: “Lompatlah dari situ! Ayah akan menangkapmu!”. Si anak agak ragu-ragu. “Tapi, Pa,” katanya, “Ini lumayan tinggi lho! Apa benar Papa mau menangkapku?”. Sang Papa meyakinkan: “Percayalah pada Papa! Papa akan menangkapmu, dan kamu tidak akan jatuh!”.

Sang anak pun melompat. Dan gubraak! Dia jatuh membentur lantai. Sang Papa bergeming tidak bergerak sama sekali.

“Itulah pelajaran pertama dalam bisnis, Nak!” ujar Papa sialan itu. “Jangan pernah percaya pada siapa pun!”

Peh! Saya kagum tapi juga setengahnya skeptis terhadap cerita itu. Apa iya sebegitu sadisnya? Lha kalau kita tidak pernah percaya sama orang lain, apa ya bisa jalan bisnis kita?

Atau . . . on second thought . . . pelajaran dari kisah di atas ada benarnya juga. Kalau kita mudah percaya ke orang lain, kita akan gampang ditipu. Termakan bujuk rayu dan penampilan meyakinkan, kita akan menyerahkan investasi puluhan juta untuk diputar dan dijadikan lebih berlipat ganda. Tapi apa lacur? Ditunggu sebulan, dua bulan, setahun, ternyata uang puluhan juta itu raib dilarikan orang yang kita percayai tadi. Sudah berapa kali kasus seperti ini terjadi di dunia nyata? Sudah banyak!

Cerita di atas juga mengajarkan saya untuk jadi orang yang bisa dipercaya. Sedikit banyak juga diperkuat oleh istri saya. Dia ini sangat sebal dan kecewa kalau ada orang , entah rekanan bisnisnya atau muridnya, yang tidak bisa dipercaya. Antara omongan dan kenyataannya beda jauh. “Masak kemarin dia bilang harganya sekian ribu, begitu barangnya sampai di rumah, dibilang harganya naik karena alasan inilah, itulah! Ini orang gak bisa dipercaya!”, demikian istri saya ngomel kalau ada orang seperti itu. Kalau sudah begini, orang itu pasti akan masuk black list nya dan nggak pernah lagi dia ajak kerja sama.

Dalam episode hidup yang lain, saya pernah satu deret bangku dengan seseorang di bis Patas. Dia cerita bahwa dia baru dapat proyek lumayan besar dari seorang etnis Tionghoa (catatan: dia sama seperti saya, suku Jawa). Yang menarik dari ceritanya adalah pendapatnya tentang etnis ini: “Orang Tionghoa itu memang terkesan eksklusif, hanya nyaman bergaul dengan sesama Tionghoa. Tapi kalau mereka sudah merasa enak dengan kita dari etnis lain, mereka akan sangat percaya dan cenderung murah hati. Nih lihat, alat ini (dia menunjukkan sebuah instrumen yang entah apa namanya, tapi yang pasti mahal) kan mau saya kembalikan tadi; tapi klien saya itu bilang : “wis, bawa aja dulu! Gampang itu nanti!”. Kalau saya punya niatan gak baik, kan bisa saya bawa lari alat ini, wong harganya aja lho pasti sudah puluhan juta.”

Saya manggut-manggut. Ooo, gitu ya ternyata? Ya, kalau saya jadi dia, saya pasti akan mempertahankan kepercayaan itu sekuat tenaga. Tidak mudah lho dipercaya orang, apalagi dari kalangan yang konon eksklusif. Tapi sekali dipercaya, kita wajib menjaga kepercayaan itu.

Ketika masuk ke suatu perguruan silat ternama di daerah Puncak Tidar, saya diberitahu oleh salah satu suhunya: “Orang-orang yang mendirikan perguruan silat ini semuanya pengusaha besar. Mereka agak asing dengan yang namanya kontrak , MOU, kesepakatan kerja segala macam, karena sebagai pengusaha mereka mengandalkan kepercayaan saja. Mereka bisa dipercaya, dan bekerja sama dengan orang-orang yang juga sangat bisa dipercaya. Makanya kalau mereka percaya bahwa Anda akan menjadi suhu silat yang baik, Anda juga harus menjaga kepercayaan itu, bahkan kadang-kadang tanpa surat kontrak segala macam!”

Hmm, good lesson!

Post note: Mbak Putu benar. Sekalipun saya bilang “bubar jalan!” di posting sebelum ini, ternyata tangan saya guataall untuk tetap menulis posting di blog ini. Enjooyy!

11 Comments

    • Ada tah tionghoa asli? Yg totok itu kah? Wah, saya gak tau ya; pengalaman saya bergaul dengan banyak etnis Tionghoa, ternyata tdk mudah membedakan mana yg asli dan mana yang the so-called ‘babah’ / campuran.

      Thanks, Ella.

  1. saya ambil jalan tgh aja dech pak. kita percaya sama org laen, tapi tetep waspada. bukan asal percaya. wkwkwkkwk. dan bener komen bapak, kepercayaan yg diberikan itu jangan sampai dilanggar (aduh jadi inget salah satu dosa saya >.< harus segera minta maap). Btw aq malah dikasi tahu, sekali kita melanggar kepercayaan 1 konsumen, bisa bisa kita kehilangan kepercayaan semua konsumen.

    Terus emg chinnesse itu dianggep eksklusif yah? baru tau ai. @.@

  2. well,, menerut saya,, percaya sama orang boleh2 saja.. tapi nggak berarti kita lengah.. kadang pun kejahatan ada krn kesempatan.. krn kebetulan org itu lg kepepet dan kitanya ud terlanjur percaya 100% sama orang itu,, khilaf dech akirnya… Jadi menurut saya yg terbaik adalah kita menunjukkan niat baik bahwa kita mau bekerja sama dgn jujur dan tulus…. dengan dasar hukum yg kuat gt,,, tp juga jgn pasang tampang polos2 gt hahahaha,, mancing org buat ngibulin kitaa… selalu sedia plan B wwkwkwkwwk… rumit ya?? makanya saya males jd bussiness woman hehehe

  3. Setuju, Shanty! Mestinya dengan prinsip itu, kamu gak usah takut jadi pengusaha wanita, eh, salah, wanita pengusaha 🙂

  4. Perguruan Silat wkwkwkwkwkwk
    Saya ini belajar silat tah di tempat itu, Pak? XXXD

    Btw, actually there’s no biological difference in totok or babah, so far I know.
    It’s just a matter of “birthplace”.
    Babah are those born in Indo, “asli” are those born in China and migrated to Indo. We don’t have those a lot nowadays, right? Except the VERY old people, my granddad for example is “asli”.
    I believe almost all younger Indonesian-Chinese you know are Babah.

    And “totok” is not the same with “asli” 😛

    …..
    Or so I know…
    hahahah 😀

  5. Thanks, Feli. That adds to my knowledge about the ethnic Chinese.

    O, iya, Feli, bukankah kamu pendekar silat di perguruan itu dengan pedang samurai dan lagu Jepang, ha ha haa! 🙂

    Patrisius

Leave a Reply