Keong Racun, Shinta Jojo dan Kita

Keong Racun. Shinta dan Jojo. Grrrrrr! Minggu-minggu terakhir ini mereka benar-benar jadi bintang. Hampir semua orang tahu siapa Shinta dan Jojo dengan lagunya “Keong Racun”. Yang menarik adalah fenomena tanggapan yang sempat saya dengar:

“Murahan! Hanya lip sync begitu sudah jadi bintang?” tukas seseorang dengan ketus. “Apa ya sudah separah itu ya selera bangsa kita ini? Itu kan picisan! Apa sulitnya melenggak-lenggok di depan kamera terus pura-pura menyanyikan lagu ‘Keong Racun’? Apa bagusnya??!”

“Tidak kreatif!” kata seorang lagi lewat Facebook. “Kalau hanya begitu mah semua juga bisa!”

“Ya, betul” batin saya. “Tapi celakanya hanya mereka berdua yang jeli menguploadnya di Youtube. . . “

Untuk menguji selera anak muda terhadap Keong Racun, suatu ketika saya mengomentari foto mereka yang sudah babak belur dicaci-maki oleh para Facebookers muda seusia anak saya yang sulung. Saya tulis begini “wih, apiiik!”. Apa yang terjadi? Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, datang belasan replies beruntun di bawah komen saya itu. Nadanya tunggal: mereka heran mengapa saya bisa-bisanya memuji Shinta – Jojo sebagai sesuatu yang apik. “Kayak gitu dibilang apik? Payah deh loe . . “ tulis seseorang, yang pasti tidak tahu bahwa yang dia sebut ‘loe’ adalah papa temannya sendiri.

Orang-orang ini lebih gusar lagi ketika Shinta dan Jojo dengan gayanya yang menyebalkan itu malah jadi bintang iklan. Plus berita bahwa mereka mendapat kesempatan kuliah gratis di suatu lembaga pendidikan. Saking sebalnya, seorang wanita diberitakan tidak mau lagi membeli produk ‘So Nice’ hanya karena produk itu diiklankan oleh kedua cewek tengil itu. Wadaw, sampe segitunya!

Fenomena “Keong Racun” itu kemudian membuka mata publik bahwa situs Youtube sudah bisa menjadi alat self-marketing. Kalau dulu calon artis mesti datang ke studio rekaman untuk dicasting, sekarang yang merasa berbakat jadi artis atau seleb tinggal merekam penampilannya lewat handy cam, kemudian menguploadnya di Youtube dan membiarkan semua orang menontonnya. Kalau ada produser atau pencari bakat yang tertarik, mereka bisa langsung mengontak bakat-bakat ini untuk ditawari rekaman atau diorbitkan jadi artis beneran. Jason Bieber! Masih ingat kan? Nah, ternyata dia juga mengawali promosi dirinya lewat Youtube!

Hebat! Dunia sudah menjadi makin mudah. Tinggal goyang-goyang kepala kayak ayam ayan, sambil lip sync lagu orang lain, mengupload ke Youtube, dan . . . holka polkaaa . . . . jadilah mereka artis!

Saya ingat seorang murid yang sedang menulis makalah untuk membahas fenomena Shinta dan Jojo. “Kamu mau selesaikan kapan makalah itu?” tanya saya. “Ya, sekitar dua tiga bulan lah. Saya mesti mengumpulkan data pendapat dari banyak orang supaya paper ini benar-benar matang!” katanya.

“Walaaah, lha kok suwi temen?” tanya saya setengah tertawa. “Keong Racun memang keong, tapi percayalah, kedua artis sialan ini juga pasti akan segera lewat dilibas artis-artis dadakan lain. Orang mah udah akan segera lupa!”

Yaa, begitulah, mumpung orang masih geram akan Shinta Jojo dan Keong Racunnya, saya tulis posting ini.

5 Comments

  1. Wkwkwkwk ga segampang itu kali, Paak XD

    Berhubung aja ini Indo, makanya mrk bisa eksis.
    Yang marah2 sih mgkn orang-orang yang at least agak lebih pinter. Nyatanya byk jg yg suka Shinta Jojo kan? Mgkn krn itu mrk bisa dijual.

    Bentar lg juga org2 lupa.

    Ahh jd inget Manohara goblok satu itu XD
    Muka cantik, otak kaya gumpalan dung.

  2. Funny about this country… siapa aja bisa jadi chef terkenal tanpa harus bisa masak, bisa jadi penyanyo terkenal padahal bersiul aja sumbang, bisa jadi aktor top kalo punya tampang lumayan, bisa jadi calon presiden padahal pelanggar HAM… so it must be alright if I hope to live a lavish life without having to be rich, right? Wrong!

Leave a Reply