Sukses adalah Proses, atau Hasil?

Saya tertegun membaca tulisan di poster yang tertempel di dinding Li Zheng Dao itu: “Sukses adalah Proses, dan Bukan Semata-Mata Hasil”.

Lebih ternganga lagi waktu membaca salah satu status di FB: “Sukses ada pada proses, dan bukan pada hasil”.

Apa maksudnya yaa?

Sekilas terbersit pikiran usil: “Kalimat itu pasti ditulis oleh orang-orang yang sudah bekerja keras, bersusah payah untuk mencapai keberhasilan, tapi belum kesampaian juga. Daripada patah semangat, dia berusaha menghibur diri sendiri dengan memindahkan definisi sukses dari hasil menjadi prosesnya. Yah, maksudnya supaya nggak kelihatan kacian amat gitu mungkin.”

Ha ha haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa . . . . .!

Eh, tapi kok saya jadi berpikiran negatif? Mungkin juga kalimat itu ada benarnya, apalagi di jaman sekarang di mana beberapa sukses diraih dengan cara instan: jadi Profesor karena nyogok sana-sini, atau memanfaatkan koneksi dengan pejabat tinggi; Akreditasi dapat A karena nyogok asesor; lulus skripsi karena beli dari penjual jasa pembuat skripsi, dan sebagainya. Itu semua memang sukses, kalau dilihat secara sempit dari hasilnya saja. Tapi dengan proses yang bejat dan pasti melanggar nurani seperti itu, apa ya bisa dikatakan sukses?

Kalau menurut definisi itu, usaha saya untuk menjadi seorang Profesor pasti sudah sukses dari dulu. Lha gimana tidak, wong saya sudah mulai membuat karya ilmiah dan sebagainya itu sudah sejak tahun 2001! Berpikir, merenung, membaca, merefleksi, menggali data, menulis, kadang kecewa karena tulisan ke jurnal ilmiah ditolak mentah-mentah, bangkit lagi, nulis lagi, neliti lagi, mengajar sampai bercucuran keringat. . . ya, pokoknya semua upaya saya lakukan, sampai jadi botak gak ketulungan kayak gini! Kalau sukses terletak pada proses, maka antara kurun waktu 2001 – 2009 itu adalah sukses saya sebagai Guru Besar! Dan SK Mendiknas yang saya terima kemarin hanya puncaknya saja, hanya pengakuan secara resmi dari Pemerintah saja. Bukankah begitu?

Menurut definisi itu, maka semua rekan saya sudah sedikit banyak menikmati sukses. Setiap hari mereka bergelut dengan bidangnya masing-masing untuk meraih sesuatu. Bikin rencana, keluar modal, turun ke lapangan, berjualan, promosi, nulis karya ilmiah, meneliti, bikin proposal . . . seribu satu cara mereka lakukan untuk mencapai tujuan, dan murni usaha sendiri, tidak ada kong kali kong, supa sana sini, intimidasi sana-sini. Maka itu adalah sukses! Benar yah?

Semoga demikian. Sekalipun masih terasa agak aneh, saya terima dulu saja definisi baru tentang sukses itu. Memang saya tahu, ada banyak orang yang masih berpikiran bahwa sukses itu adalah hasil; prosesnya mah pada upayanya itu, dan itu bukan sukses, tapi JALAN menuju sukses.

Piye iki? Hmmm . . . .

2 Comments

  1. Sir, the meaning probably can be intrepreted as:
    1. At the end, only good process always brings a good result.
    A good example probably is how industry “damages” the environment in the name of short-term profit (RESULT). They neither have willingness nor have ability to see the thing thoroughly and comprehensively. As a consequence, they (and all of us) have to pay the price now, that is even ten times higher than the profit made, shared and enjoyed before. The case would have been totally different, if they really had concerned to the minimizing environment damage effort (good PROCESS). Despite not as big as the short-term profit, they will get more profit finally, since the damage cost will be much lower too (good PROFIT). That’s why we have the term, “sustainable development” right now.
    2. “Success is rather a journey than a destination”
    A success should not make us arrogant, indulgent nor uncontrollably ambitious (kacang lali karo lanjarane). A success will challenge us to change it from personal one to more public one, from physical one to more spiritual one. Thus, it is so true that “a failure is a mother of success, and a success is a mother of another success!”

    What do you think Sir?

  2. Pak Dani, thanks for the opinions. I agree with you. The way I see it, which may be misleading, is that some people may start striving for the process and not care much about the result. I know that’s a little extreme, though. I’d say that in the end, we should look at the quality of the result, then try to seek what process has been undergone to get to the result. If the process is good and the result is equally staisfactorily, then they deserve praise, indeed.

    Patrisius

Leave a Reply