Niat Ingsun Jadi Mentor

Menjadi mentor membuat saya lebih seimbang. Selama ini saya sudah berusaha keras di bidang akademik, dan itu semua rasanya sudah terbayar dengan gelar dan segala macam embel-embel lainnya. Saya memerlukan ajang yang memaksa saya untuk juga bagus di sisi non-akademis, dan mentoring menjadi sarana untuk itu.

Di bidang akademis, saya bisa dengan mudah membuang sebuah artikel yang tidak bermutu, atau dengan lugas mengatakan “Ditolak” untuk sebuah naskah yang akan dimuat di sebuah jurnal dimana saya menjadi editornya. Tapi dalam mentoring, saya harus mau mendengarkan curhat mentee-mentee saya, apapun itu. Beberapa membuat saya kaget dengan intensitas dan keparahan masalahnya, tapi ya saya harus dengan tenang mendengarkan, berpikir jernih dan runtut untuk membantunya menguraikan masalahnya. Kadang-kadang saking parahnya, problem itu tidak akan selesai setelah curhat berjam-jam atau ber pulsa-pulsa (karena beberapa dari mereka suka sekali curhat via sms); tapi ya tidak mengapa. Bahwa ada seorang mentor yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian dan empati itu saja sudah penghiburan tersendiri buat para mentee yang sedang bermasalah. “Bersabdalah saja, maka aku akan sembuh”, demikian doa di agama yang saya anut. Ya tapi itu mah doa buat Yesus; kalau saya mah bunyinya begini: “Bercurhatlah saja, maka aku akan mendengarkan”.

Saya bersyukur punya mentee hanya 7 orang. 7. Tujuh. Angka keramat. Tuhan menciptakan alam semesta dalam 7 hari, dan pada hari ketujuh di bulan tujuh tahun dua ribu tujuh Ma Chung tercipta. Apa gak keramat tuh?

Dengan hanya 7 orang mentee, saya bisa mencurahkan perhatian yang lebih intens ke mereka. Karena saya juga menjadi dosen dari keempat di antaranya, saya dengan mudah memperhatikan perilaku dan prestasi mereka di kelas.

Grup mentoring Curcuminoid sudah bubar. Saya banyak menimba pengalaman dan pelajaran disitu. Saya jadi tahu kapan harus mendengarkan, kapan harus berbicara, kapan harus menyapa dan sedikit menyelidik, kapan harus melepas mereka, bagaimana menegur, bagaimana memuji.

Pada saat Curcuminoid bubar (tepatnya: berantakan), saya menilai diri saya sendiri : B plus lah. Lalu saya hitung rata-rata skor yang diberikan para mentee saya: 45! Inna lilahi, . . . sesak rasanya napas. Tapi okelah, saya harus menerimanya dengan lapang dada. Itu berarti sebagai mentor saya masih punya banyak hal untuk diperbaiki.

“Pak, saya baru ketemu si D. Dia bilang tidak mau pindah mentor karena merasa sudah banyak mendapat bimbingan dari Bapak sewaktu di Curcuminoid”, demikian sms salah satu mentee saya.

“Saya juga akan tetap di kelompok mentoringnya Bapak. Bapak baik,” lanjutnya.

“Pak, kenapa jatah menteenya hanya dikasih 10? Kalau saya gak kebagian gimana? Saya nggak pindah mentor, lho, saya tetap jadi mentee nya Bapak,” yang lain menimpali.

Baiklah. Seburuk-buruknya saya sebagai mentor semester lalu, ternyata ya masih ada yang suka. Cukup sudah tiga pesan itu menyemangati saya untuk tetap menjadi mentor di semester ini. Semoga saya bisa menjadi mentor yang baik untuk ketujuh insan muda ini.

11 Comments

  1. It sounds really good to be a senior lecturer, because you can contribute as a mentor at the same time… Kapan ya saya bisa seperti bapak? *berharapcemas*

    Oh ya, tanpa seijin bapak, saya telah mengkopi posting yg berjudul “20 vs 40* dan saya share kepada teman2 saya yg sudah berusia 40 tahun. Karena posting itu, menurut saya, sungguh indah & highly reflective, maka saya yakin pasti akan bermanfaat untuk mereka. Dan kelak, saat saya tepat berusia 40 tahun, saya akan membaca kembali posting itu hehehe… Dan kelak, saya juga ingin membaca lanjutannya yang berjudul “20 vs 40 vs 60”. Jangan lupa nulis lagi kalo saatnya tiba, ya pak?

  2. Fiona,

    Kapan Anda bisa seperti saya? Ya, kelak kalau sudah seumur saya:)

    Well, different life paths, ya; you may be a mentor, may be not; but as a teacher, you have every moment to be a mentor/role-model for your students.

    Yaah, kenapa musti minta ijin segala hanya untuk mengcopy? Blog saya ini ada copyrightsnya, yaitu: everyone has the rights to copy, ha ha haaa!

    Wah, entar let me know ya how your 40 ish friends react to my posting.

    Salam,
    Patrisius

  3. Here are their comments:

    J.A.H: Fi, thanks buat note 20vs40 … Ternyata being 40s is more interesting and in a way make me feel more attractive … Cheers!

    S.Dj: I will never trade anything to get back to my 20’s…haa…haa…those are absolutely true…I feel happier, smarter, wiser, richer, fuller, deeper, prettier than when I was young and stupid…haa…haa…thank you mister PID…whoever and wherever you are…cheers…

    A.J: Hahaha, we are – it’s good to be 40’s. Btw, who is PID?

    And I answer: PID is an inspiring person out there ha ha ha…

  4. Fiona,

    Wow! So many thanks for sending me their feedback. I’m glad my posting means something to them. And it’s good that you keep my identity unrevealed. They’d be very curious as to who created that note. 40 rocks! 🙂

    Patrisius

  5. Bio,

    Ya enggak lah; dari dulu saya sudah committed untuk menjadi mentormu. Iya, oke, make the remaining 2 years one of the best in your life.

    Bio, apa sih artinya T.T ?

    Patrisius

  6. haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………………….
    bapak gak tau???????????????????????????????????????

    waahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………….
    guuuuuaaawaaattttt iniii..!!!
    pdhl bapak sudah lama menyelinap di dunia maya..

    itu artinya…
    jreng…jreng……………….

    emoticon dari “menangis” pak..
    hahahahahahahahahah

  7. Pamela, emang dulu saya kira tanda tangan. Kamu kan juga sering menulis tanda itu di sms mu. Cupu ya saya, ha hah haa!

    Patris

Leave a Reply