Aku di Mata Sang Mentee Itu . . .

“My mentor, lecturer and academic advisor”

Saya tertegun lama membaca link di atas yang ditaruh oleh seorang mentee saya di blognya. Link itu membawa pembaca ke blog saya. Bukan, bukan blog saya itu yang membuat saya terpana, tapi tulisan itu . . .

Kita kadang lupa bagaimana orang lain memandang diri kita. Kita kadang-kadang menjadi terlalu merendahkan diri, atau justru terlalu mengagungkan diri, sampai kita melihat bagaimana orang lain memandang kita sebagai satu pribadi dalam kehidupan mereka. Sedikit banyak tulisan link di atas menyadarkan saya bagaimana mentee saya ini memandang seorang Patrisius.

Saya boleh dibilang agak keras terhadap mentee yang satu ini. Karena dia adalah mahasiswi saya di Prodi Inggris, tanpa sadar saya menyimpan harapan tinggi kepadanya. Saya ingin dia berbicara dan menulis bahasa Inggris dengan baik dan benar. Kesalahan sekecil apapun, entah itu pilihan kata, pengucapan, atau grammar, saya jejaki seperti seorang agen CIA membuntuti korbannya, dan tanpa sungkan langsung saya koreksi. Jangankan di ujian akhir, bahkan status FB nya atau sms nya pun tidak luput dari koreksi saya kalau memang salah.

Seandainya saya yang menjadi mentee, mungkin saya tidak mau repot membubuhkan link itu ke blog mentor saya. “Ngapain juga nge link ke blognya mentor cerewet?” mungkin demikian pikir saya.

Tapi ungkapan sang mentee di ujung atas bisa bermakna banyak. Mungkin juga si mentee ini tidak punya pikiran seperti yang tertulis di atas; mungkin link itu dibuatnya asal jadi, tapi mungkin juga . . . . seperti itulah dia memandang saya: seorang guru, penasihat akademik, sekaligus mentor . . . .

Dosen. Dosen PA. Mentor. Ketiganya mensyaratkan pribadi yang cakap, teguh, responsif, tidak emosional, stabil, bijaksana, dan layak jadi panutan. Nah, sekarang saya yang jadi merinding sendiri: sudahkah saya seperti itu?

Sms dari mentee yang satu ini kebanyakan berupa pertanyaan seputar tata bahasa. Sepayah apapun dan sesibuk apapun, saya usahakan selalu menjawabnya. Di kelas, saya punya perhatian ekstra kepadanya. Bukan, bukan karena potongan rambutnya yang baru, tapi lebih karena saya selalu mengatakan dalam hati: “Ok, now let’s see how you perform. You gotta be good, because you are my mentee! If you don’t do well, let me help you.”

Kembali pada rasa tergetar tadi menerima ketiga predikat di atas: mentor, dosen PA, guru. Bagaimana kalau suatu ketika saya ketahuan cacadnya? Bagaimana kalau suatu ketika saya harus marah dan sedikit kehilangan kendali? Bagaimana kalau saya juga sedang susah dan menampilkan wajah menyebalkan? Bagaimana kalau tindakan mereka melukai perasaan saya dan saya ingin benar-benar memintanya pindah ke mentor lain?

Well, mentor pun manusia juga. Bisa sakit, bisa tersinggung, bisa marah, bisa kecewa, bahkan oleh menteenya sendiri. Yah, dinamika hidup. C’est la vie, kata orang Madura. Link sederhana dari sang mentee itu cukup untuk menyadarkan saya bagaimana harus bersikap sebagai seorang yang dianggap sebagai guru, dosen PA, dan mentor.

Semoga begitu . . .

10 Comments

  1. Kalo menurut saya, hanya senior2 dan mentor2 yang kejam dan tega lah yang bisa menghasilkan mentee yang berkualitas. Saat saya pertama kali masuk ke industri advertising dulu, saya sengaja memilih mentor yang menyiksa jiwa dan raga. She was so unbelievably & unreasonably demanding. Belum lagi komentar2nya yang menyakitkan hati jika hasil pekerjaanku tidak memenuhi standarnya. Dengan darah dan airmata, I survived her for 2.5 years. But the periods after her were much easier to conquer, and I have to admit she was the one behind the awards I won, although I did not work with her anymore. I hated her in one way, but loved her in many more ways. So, you should be grateful if you are considered a toough mentor.

    Saya mau daftar jadi mentee nya bapak, dong? Gimana caranya, pak?

  2. Fiona, terima kasih ya, your experience with your mentor is really an eye-opener! In a way i agree with you: justru tempaan keras seorang mentor akan menjadikan mentee yg tangguh.

    Jadi mentee saya? Waduh, I dont mind at all, tapi jadi mentee virtual aja, ya, soalnya kan gak bisa bicara langsung, unless you are my student:)

    Patrisius

  3. Sebaiknya para junior memang mencari mentor terbaik, seperti nasehat orang Papua, “Learn only from and work only with the best!”

    Pak, I think I will seriously need you as a mentor because I am now thinking seriously of taking my Master degree. If everything goes as planned, I’ll need your assistance, on professional base of course. Need to figure out how later… :))

  4. yiaaa…
    saya senang kok.
    bagaimana mungkin tidak sennag kalo ada seorang mentor yang 24 jam siap mengoreksi grammar saya..
    ^^

    terima kasih pak atas perhatiannya.
    terimakasih telah berharap tinggi kepada saya.

    oia,
    bagaimanapun cacatnya bapak,
    ketika suatu hari nanti saya mengetahuinya,
    apakah menurut bapak saya lantas akan membenci bapak??

  5. Bio,

    Ya, thanks you heed my attention.

    Tttg pertanyaan kamu di akhir komenmu itu, nggak tahu, terserah kamu. Pertanyaan itu sama dengan yang diajukan seorang mentee saya yang lain. May be it’s time for me to re-think again and again whether I deserve to be hated for my weaknesses.

    Patrisius

  6. Wah, Feli, sudah ditutup daftarnya:)

    Would be good to have an outspoken person with critical ideas like you. Mentoringya virtual aja deh.

    PID

    • That would still be great. How might I contact you in need? FB message perhaps?
      Do not worry as I would not send a barrage of complaint messages XD

  7. saya rasa enggak pak…
    kecuali yang bapak lakukan itu kelewatan..
    misalnya emosi tingkat tinggi terus jatuhnya pengen menyiksa saya denagn 30 halaman soal grammar.. ^^

Leave a Reply