Surat tentang Hati Yang Pilu

Dear Xxxxy,

Kita tidak pernah bicara soal ini. Yang aku dengar, akulah yang salah. Tahu nggak? Aku berusaha berkali-kali menelponmu, untuk minta maaf kalau memang itu salahku. Tapi sudahlah, . . . aku tidak mau menghabiskan waktumu.

Aku tak bisa berbohong: aku tetap mencintaimu, namun aku sudah sampai pada titik dimana aku sudah tidak tahan lagi. Ada sesuatu yang membuatku terhenti manakala aku melihat pandang matamu yang sulit kulukiskan.

Sebenarnya, masih ada jalan dimana kita bisa mencoba. Sama seperti yang pernah kita lakukan dulu berkali-kali. Namun, mengapa, Xxx, mengapa kamu tetap mengatakan semua kebohongan itu kepadaku?

Masih ingatkah kamu tentang semua itu?

Rasanya tak ada lagi jalan untuk berbaikan kembali. Kamu sudah terlalu sibuk mengurus dirimu sendiri.

Pun ketika aku menulis semua ini, aku masih merasa bahwa kamu sebenarnya bisa datang kepadaku. Kamu bisa menceritakan semuanya kepadaku, dan mari kita lihat betapa jauh jarak antara kita berdua sekarang ini.

Benarkah itu, Xxx, bahwa masih ada jarak yang sebenaranya bisa kita lenyapkan, namun sekarang jarak itu kelihatan menjadi terlalu jauh bagimu. Ingatkah kamu akan hal ini?

Betapa lama waktu yang kita perlukan untuk menyadari semua ini. Tapi kita nampaknya sudah tak punya waktu lagi. Selalu saja ada hal yang lebih penting untuk dilakukan; selalu ada saja hal yang lebih penting untuk diomongkan.

Aku akui, aku tetap mencintaimu. Tapi kita tahu sekarang, semua sudah terlambat.

Semua sudah berakhir. . . .

Masih ingatkah kamu?

*****
Apa kaitan surat sendu di atas dengan perasaan saya hari ini? Ha ha ha, tidak ada hubungannya! Itu adalah terjemahan dari lirik lagu “Do You Remember” yang dinyanyikan oleh Phil Collins di tahun 1990. Saya kebetulan kehabisan ide untuk posting, lalu tiba-tiba terpikat lirik yang sedang dia nyanyikan ini dari CD saya. Mmm, pikir saya, bagus juga liriknya. Lugas, tapi sendu, dan pasrah. Maka jadilah surat nakal di atas itu, ha ha haa!

Tiba-tiba seorang mahasiswi menelpon:

M: “Pak, apa-apaan tuh postingnya? Ha ha haaa! Ya elah, sendu banget. Lagi patah hati tah, Pak?”

P: “Huss! Sembarangan ngomong! Ha ha haaa! Kena kau ya? Kamu kira saya lagi brokenhearted ya?”

M: “Ya, tadi sempat ikutan mellow juga nih saya. Nggak biasanya Anda begitu, Pak! Saya pikir pasti sedang marahan sama kekasih. Ha ha haa!”

Telpon itu akhirnya menjadi ajang saling ledek ditingkah derai tawa saya. Well, mengapa tidak? Sore ini mood saya begitu nyaman, riang dan damai. . . .

3 Comments

  1. I was a bit taken aback when reading it XD

    Btw, Pak, kalo suka terinspirasi from lyrics, you can try listening to Japanese songs. The lyrics are often so beautiful *depends on whose songs you listen to*
    And I really like the Japanese way of writing lyrics, plus how they sing.
    Once again, depends on who you listen to 😛

  2. Thanks, Feli. Saya tahu kamu suka sekali lagu bahasa Jepang. Saya akan coba lain kali mendengarkannya. May be not so much into the music as it is into the lyrics that you said. Bisakah kamu sarankan satu lagu yang pas untuk seorang pria 43 tahun, married, dan blogger, yang kadang2 harus bergulat mati-matian dengan kelemahannya, dan kadang-kadang bertanya-tanya what we are here for, plus harus senantiasa menjaga hubungan garis paralel dengan lawan jenisnya?

    PID

  3. Wah susah juga ya… I wonder if I know one song that contains all that hahaha
    One song usually speaks of one topic or so, right?

    What if I suggest something that says about one of those you mentioned for starters??
    Or more like… “something the older people would like”? hee hee 😛

    Here a soundtrack to a drama “Propose Daisakusen” lit. meaning “Big Proposing Strategy”

    The title to the song is “Ashita Hareru Kana” lit. meaning “I wonder if the sky will be clear tomorrow” which actually means “I wonder if everything is going to be okay tomorrow.”

    Here’s a link to the song

    (the Indonesian trans is not bad at all, but too stiff in some sense)
    Here’s a link to the lyrics, though I have to say, the translation is too stiff too =,.=z

    Bet the Indo translation somewhat fits better.

Leave a Reply