Persahabatan Abadi (?)

Friendship lasts forever. Mmm, . . . siapa bilang? Nggak juga tuh.

Hidup tidak senantiasa indah dan manis. Bahkan yang semula tampak manis pun bisa jadi getir, lalu akhirnya pahit dan membuat mual. Demikian juga dengan hubungan baik persahabatan. Ada kalanya seorang yang sudah berteman sangat baik dengan kita mendadak berubah, dan perubahannya membuat kita heran, lalu sebal, akhirnya jengkel dan marah.

Seseorang mengeluh kepada saya mengapa dia menjadi makin imut (=ingin mutah) melihat kelakuan mantan teman dekatnya. Dia sebal, bahkan muak, sekalipun dia mengatakan tidak membencinya. Dia bertanya kepada saya, apa yang harus dia lakukan. Jawaban saya lugas saja: “jauhi dia sejauh-jauhnya. Nggak usah menyapa, nggak usah berusaha bicara, nggak usah berupaya mendekatkan hubungan yang sedang retak itu. Biarkan mendingin.”

“Lha kalau hilang gimana Pak?” tanyanya.

“Ya sudah, mau hilang ya hilanglah sana. Itu artinya sudah takdir kamu tidak menjadi temannya,” jawab saya.

Humm . . . orang itu tercenung.

Kala saya masih jauh lebih muda daripada sekarang, wadaw, dunia ini saya pandang masih ideal. Kalau ada dua sahabat berselisih paham, saya akan mengatakan “mari lakukan upaya memperbaiki hubungan yang retak itu. Ayo bicara dan saling mengalah.” Ah, tapi dunia bukan taman Eden, bung! Semakin lama saya hidup di dunia sialan ini, semakin saya sadar bahwa kadang kala sahabat pun harus berselisih jalan dan akhirnya menjadi dua orang asing. Ya, kalau memang sudah berbeda prinsip dan setiap upaya malah saling menyakiti, ya sudah, kenapa harus diperjuangkan lagi? Mungkin sudah suratan nasib bahwa persahabatan itu harus berakhir. Ya nggak papa. Kan masih banyak orang lain, siapa tahu di antara mereka ada yang kemudian masuk ke dunia Anda dan menjadi sahabat baru Anda.

“Dua orang yang dulunya bersahabat kemudian saling mendiamkan itu sedang penuh dengan prasangka dan pikiran negatif tentang satu sama lain,” kata saya kepada orang itu. “Kamu akan berpikir, ‘oh, dia sedang menyusun rencana untuk menjahati saya’, dan dia juga berpikir yang sama! Mungkin kamu suatu saat tergerak untuk memulai menyapa dan berbaikan kembali, tapi ternyata egomu terlalu besar untuk memulainya. Kamu takut jatuh gengsi karena menyapa duluan. Nah, dia juga merasakan hal yang sama! Akhirnya memang, jalan satu-satunya adalah berpisah; hear no evil, see no evil!

Dia merenung lagi agak lama, mungkin kaget seorang mentor bisa memberi nasehat seperti itu. Ya, gimana ya, kan sudah saya bilang, semakin lama saya hidup di dunia fana yang kadang-kadang palsu ini, semakin realistis cara pandang saya.

Sesi mentoring yang menggetarkan itu terputus karena kami harus kembali bekerja. Tapi saya teruskan di posting ini, karena saya yakin dia pasti membacanya. Yang ingin saya katakan adalah bahwa jalan hidup kadang-kadang memang penuh kelokan. Ada kalanya kita memang harus menyerah pasrah kepada hidup ini, mengalir saja, ikuti saja kemana sang hidup ini membawa Anda; nggak usah berontak, nggak usah protes, nggak usah sok ilmiah, nggak usah sok baik, bahkan nggak usah berpikir. Mengalirlah saja, biarkan, kemanapun sang hidup ini membuai Anda. Nanti, kala sang nasib memang ternyata menghendaki persahabatan itu terjalin kembali, maka mendadak entah gimana caranya Anda dan dia masuk pada suatu situasi yang begitu saja terjadi, dan sontak Anda dan dia menemukan momen yang sangat pas untuk saling menyapa, saling berbicara, dan akhirnya merontokkan es beku yang sudah bertahun-tahun memisahkan kalian berdua itu. Jangan heran kalau itu bisa terjadi bertahun-tahun, bahkan bisa puluhan tahun dari sejak Anda berdua saling berselisih paham.

“Kenapa bisa begitu lama?” demikian dia mungkin bertanya.

“Ya, karena manusia berubah dalam perjalanan waktu,” saya akan menjawab. “Kamu yang sekarang ini, dalam beberapa hal, sudah berbeda dari kamu beberapa belas tahun yang lalu. Demikian juga kamu pada usia tiga puluhan nanti, sudah berbeda dari kamu yang sekarang. Kamu akan menjadi lebih matang, lebih rendah hati, rela mengalah, dan lebih tidak impulsif. Demikian juga sahabatmu itu.”

Hmm . . . .

“Dan kamu tahu kenapa pada akhirnya kamu akan saling berbaikan kembali?”

“Hmm, nggak tahu saya , Pak. Tapi untuk saat ini, rasanya tidak mungkin kami berbaikan kembali. Sudah patah arang rasanya”.

Baiklah. Kali ini saya akan diam. Memang ada saat dimana seorang mentor harus diam.

“Oke, jalani saja hidupmu sekarang,” kata saya dalam hati. “Perjalanan yang masih amat panjang itu akan mengajarkan kepadamu bahwa karena kita semua ini sejatinya SATU jiwa, permusuhan itu tidak akan pernah abadi. Suatu saat kamu akan menjabat tangannya, bahkan memeluknya dengan kangen, dan mengatakan “welcome back, my best friend. I love you!”

9 Comments

  1. Wah bener banget tuh pak, bahwa semua manusia akan selalu berproses sepanjang ia masih hidup… kadang dalam proses itu kita berpapasan dengan orang lain, merasa cocok, merasa sayang, dst. sehinggalah kita menjalin hubungan yg lebih dekat dengannya… tapi siapa yg bisa menebak & mengendalikan berapa lama kondisi itu akan bertahan? Jika waktunya tiba, maka periode papasan itu pun berlalu… dan kita kembali mengambil jalan & belokan masing2… Akhirnya kita memang harus mengalir saja, go with flow…

    Melabeli seseorang sebagai sahabat sejati tentu butuh waktu & tempaan, but somehow I believe there’s a true friendship… because I’ve got mine and it’s been a loooong time… I hope such a friendship can last till my last breath or my best friends’ last breaths… dan yang saya tahu, persahabatan akan bertahan selama kita tidak memiliki motif apapun di dalamnya…

  2. Pak, dalam hati saya kadang berkata, “Koyok e aku durung nemu sahabat sejati, abadi, dll. Opo pancen gak onok yo?”. Kebanyakan teman-teman yang saya temui banyak sekali yang dalam berteman itu tidak tulus. Adapun yang tulus kadang masih terhambat dengan jarak yang memisahkan ataupun kesibukan sehingga pertemanan pun jadi renggang.

    Mungkin dua hal yang bisa menjadi jalan untuk mendapat sahabat yang sebenar-benarnya, yaitu JUJUR dan MENERIMA. Kita BENAR-BENAR jujur pada sahabat kita tentang segala hal. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Kita mengatakan apa yang kita rasakan apa yang kita lihat pada sahabat kita tersebut. Kita menyampaikan apa yang menurut kita kurang pas di mata kita atau mungkin di mata orang lain tentang sahabat kita tanpa ada niatan untuk mendeskreditkan orang lain di mata sahabat kita. Saya rasa inilah alasan pertanyaan tentang keberadaan sahabat sejati dalam hidup saya, saya BELUM JUJUR akan segala hal tentang diri saya bahkan kepada diri saya sendiri, saya BELUM JUJUR akan apa yang saya lihat pada sahabat saya.

    Hal yang kedua memang sangat sulit untuk dilakukan menurut saya. Menerima segala kekurangan orang dan menganggap orang tersebut ‘pas’ di hati kita bisa dikatakan tidak mungkin. Saya pribadi setiap melihat ketidakpasan seseorang dengan hati saya pasti akan muncul suatu ketidakpercayaan. ketidakpercayaan inilah yang menghalangi kita untuk jujur kepada sahabat kita. Namun ketika kita bisa menerima rasa saling memiliki akan muncul dan kemudian rasa saling membutuhkan juga akan muncul.

    Bah, kok saya rasa tulisan saya ngelantur ya Pak?

    Hehehehehe

    • Barda, apa yg kamu katakan memang benar. Tapi itu ideal sekali; pada prakteknya pun kita masih sering berpura2 terhadap sahabat kita sendiri, and even to ourselves! Yes, so you really make a point here! Sahabat ideal memang seharusnya spontan, jujur, tanpa perlu harus sakit hati. Bertengkar ya iya, tapi sudah itu ya kembali berbaikan lagi. Yang kayak gini jarang juga ya?

      Patrisius

  3. Wah, sepertinya persahabatan yang setelah tengkar kemudian rujuk kembali itu jarang Pak. Adapun yang da itu bagaikan tulisan bapak tentang naksir, jatuh hati, sayang atau cinta itu Pak. Mungkin sahabat sejati itu SAYANG pada kita atau mungkin ada juga yang merasa CINTA, setelh tengkar akhirnya jadi sahabat lagi. Tapi ya itu Pak, mungkin ‘one in a hundred of friendships’.

    • Iya, Barda, life is sometimes nasty. Though maybe it’s not without reason, too. Maybe it’s what is meant to be.

      Mungkin karena jarang itu menjadi manis ya kalau terjadi sungguhan:)

      PID

  4. punya sahabat,sepertinya mudah saja,biasakan bersikap manis berjiwa Pramukalah singkatnya pasti kita akan banyak kawan,tapi teman yang se-benarbenar teman yang dikirim Allah buat menemani kita ,membimbing menuju kepadaNya,itu jarang kita dapatkan,dalam 50 tahun usia kita belum tentu kita bertemu lebih dari sepuluh orang dalam kehidupan kita di dunia yang fana ini.Tapi kalau boleh berkata jujur memang sulit kok mempertahankan pertemanan yang sejati ini,jika jiwa kita masih di penuhi dengan segala sifat keduniawian,justru itu berteman juga harus dipilih mana yang sekiranya dapat diajak bekerjasama dalam kebaikan dan jauhi jika teman kita tidak bisa menerima kita apa adanya ,daripada memaksakan diri akan menambah sakit hati.

  5. persahabatan yang abadi ,sepertinya memang sudah diatur Allah sedemikian rupa,karena orang yang baik pasti brtemu dengan yang baik,ternyata semua itu bukan omong kosong di kenyataan hidup manusia, sepertinya ada magnit yang menghubungkan antara jiwa yang satu dengan yang lainnya,lihatlah kehidupan orang tua kita yang mengajar kita supaya berbuat baik pada sesama manusia,tidak usah pandang bulu berilah saja pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan sesuai dengan kemampuan kita,mereka ajarkan bahwa semua yang kita miliki ini hanyalah pinjaman dari Allah semata,dan dengan demikian kita kembalikan pada jalan Allah,menolong sesama ini tabungan buat anak cucu sehingga di kehidupan mereka tidak pernah mengalami kesulitan ,karena ada saja orang lain yang menolong jika kita mengalami kesulitan bahkan jika kita hidup di perantauan. jadi kesimpulannya kita akan memetik buah dari tanaman yang berupa kebajikan,percayalah Allah Maha Adil ,jadi jangan berkecil hati jika ada orang yang berbuat tidak adil pada kita, bersabarlah dan kasihani orang tersebut ,niscaya kita akan mendapat jawaban atas kesabaran kita pada sesama.Karena apa yang nampak buruk buat kehidupan kita belum tentu bagi Allah yang telah menciptakan dengan segala kesempurnaanNya,

Leave a Reply