Pak Handiyo dan Hatinya untuk Mentee

Masalahnya seperti ini: “Anda sedang bersiap-siap memberikan Ujian Akhir Semester. Mendadak, ada seorang mentee yang ingin curhat kepada Anda. Dia begitu putus asa, sampai mau bunuh diri. Anda tidak mungkin meninggalkan mentee itu, tapi Anda juga tidak boleh datang terlambat ke kelas, karena Anda terkenal sebagai seorang yang selalu konsisten mendidik murid-murid untuk selalu tepat waktu. Bagaimanakah tindakan Anda?”

Suatu dilema. Peraturan mengatakan: “Dosen harus datang tepat waktu”. Tapi pedoman mentoring juga mengatakan bahwa mentor wajib mendampingi menteenya yang sedang dalam kesulitan besar, apalagi kalau menyangkut hidup matinya.

Beberapa orang yang hadir di sesi workshop Ethical Judgment itu mencoba mengemukakan pendapat. Mereka berupaya keras untuk senantiasa mematuhi peraturan tapi juga tetap menolong mentee tersebut.

Lalu majulah Kaprodi saya itu. Dia mengutarakan suatu jawaban yang sungguh membuat terkesan:

“Kasus seperti ini tidak bisa didekati dengan peraturan,” katanya, diakhiri dengan jeda yang membuat semua hadirin terpana.

“Yang seperti ini kuncinya ada pada hati,” demikian beliau melanjutkan. “Kalau kita mengandalkan hati dan perasaan sebagai manusia, kita akan tahu apa yang harus kita lakukan dalam suasana dilematis seperti itu”.

Saya terkesan sekali dengan jawaban yang sungguh bijak itu. Terus terang, tidak pernah terpikir di benak saya bahwa kuncinya ada pada hati. Saya pun, sama seperti rekan-rekan lain yang menjawab lebih dulu, masih berusaha keras mematuhi peraturan itu sambil entah bagaimana caranya tidak meninggalkan mentee itu. Tapi, yah, . . . . ternyata tidak selamanya manusia harus bersikap sesuai kaidah dan regulasi. Ada beberapa kasus dimana kepatuhan pada peraturan justru membuat kita semua seperti robot tanpa perasaan. Kalau ini sudah melekat pada seorang mentor, ya betapa memprihatinkannya.

Bapak Kaprodi saya itu sudah berusia senja. Usianya sudah hampir dua kali lipat usia saya. Ya, pantas lah dia bisa begitu bijaksana mengambil sikap. Beruntunglah mahasiswa yang menjadi menteenya.

Itu adalah sekedar contoh kasus yang dilontarkan oleh panitia dari Direktorat PKK. Untungnya saya tidak pernah mengalami hal seperti itu. Mungkin belum? Ya, semoga enggaklah. Betul bahwa beberapa mentee saya juga kadang-kadang mengalami masalah, tapi saya tidak yakin mereka sampai pada titik mau bunuh diri. Ya, masalahnya sederhana saja: bagaimana mereka mau bunuh diri sementara di dunia ini ada seorang mentor yang sangat perhatian kepada mereka? Wah . . . ., kok jadi agak ngawur gini nih kalimatnya, ha ha ha!

Lagipula mentee-mentee saya, terutama yang sudah sangat dekat, adalah mentee-mentee nekad. Kalau sedang suntuk, tidak perduli jam berapapun mereka akan menghubungi saya untuk sekedar berkeluh kesah. Karena mereka nekad, saya pun juga ikutan nekad. Mentoring lewat FB atau sms pun saya layani, bahkan ketika mata sedang cermat melihat pada lembar-lembar laporan beasiswa mahasiswa, dan tangan kanan sedang menulis draft seleksi pejabat. Tidak jarang ada beberapa kali saya mau menulis di wall FB mereka tapi entah gimana FB sialan itu menolak. Terpaksa, saya nekad menuliskannya di wall FB saya sendiri dengan menyebut namanya. Begitulah, pendekatan dengan hati memang tidak selalu harus mematuhi jalur komunikasi yang lumrah.

5 Comments

  1. Hoping I can be a teacher too, then a lecturer, then a mentor, and eventually a mentor with a heart… sounds like a long long way to gooo….. but it’s indeed worth the effort 🙂

    By the way pak, memang ada gitu mentee mau bunuh diri bilang2 dulu ama mentornya? Setau saya, someone with suicidal intention tends to neatly cover their anxiety. Seorang teman akrab saya berhasil bunuh diri, tanpa ada tanda2 apapun sebelumnya, bahkan ia masih sempat berpura2 bikin janji dengan saya untuk jalan2 bareng keesokan harinya. Or was I too blind to see? But I don’t think so, not now not then…

  2. Wah, jadi bangga punya Kaprodi seperti itu Pak. Mungkin itu rahasia orang-orang yang masih mau terus mengabdikan dirininya untuk membagi ilmu. Kuncinya ada pada ‘hati’ . Hati yang ikhlas. Hati yang rela. Hati yang legawa.

  3. Fiona, thanks for the additional info. You are right. Sometimes a suicide act goes undetected. No signs at all, and suddenly, bang! Kasus di atas itu fiktif, jadi kayaknya nggak mendekati sebenranya:)

    PID

  4. Yay… Itu jawabannya memang Pak Han bangeeettttt…. Kurang ‘suka’ peraturan. 😉
    Kalo ijin datang terlambat karena ada perlu, Pak Han jawab “Iya, ndak papa”.
    Kalo ijin sakit “jangan kesusu masuk, istirahat dulu” resposnnya.
    Kalo dicurhati soal anak- anak saya Pak Han kasi komen- komen lucu tapi bijak (walo mungkin dalam hati mikir “ini anak baru berap tahun juga jadi ortu udah ngomel melulu”).
    Kalo ditanya soal ilmu Pak Han jawabnya praktis tapi mengena (bisa jadi sambil mikir, ini SS beneran bukan siy, gitu aja pake nanya).
    That’s why I miss him alot now. Kayaknya saya ini informal mentee-nya kayaknya…
    Belum lagi si bapak suka bawain kue2 enak dan traktir makan siang.
    And that’s what makes me miss him even more…. hehehehe….

Leave a Reply