Merapi, Mentawai dan Dogol-Dogol Seperti Anda

Bayangkan ini: Anda duduk dengan satu posisi. Setelah beberapa menit, Anda mulai merasa berat di satu sisi. Lalu Anda merubah posisi. Beberapa puluh menit lagi, Anda mulai pegal di sisi kanan. Maka Anda bergerak lagi merubah posisi.

Apa maknanya? Sederhana. Keseimbangan. Kala satu posisi mulai membebani satu anggota tubuh, Anda merasa ada sesuatu yang tidak seimbang, maka Anda bergerak, berubah, untuk menemukan keseimbangan itu.

Sekarang bayangkan Anda adalah Gunung Merapi. Atau laut Mentawai.

Sama saja. Keseimbangan. Pada sang gunung, setelah sekian puluh tahun diam, apa Anda pikir perutnya juga diam? Tidak. Tekanan demi tekanan membuat keseimbangannya berubah. Yang tadinya diam mulai menggeliat, mendesak, minta pindah karena sudah sesak, akhirnya meledak karena sudah sangat merindukan keseimbangan.

Tsunami. Mulanya dataran bawah laut bergeser (lagi-lagi karena juga sedang mencari keseimbangan), menyeret jutaan ton air di atasnya. Maka pantai pun mendadak surut seperti mimpi. Sampai di tengah, kubah air jutaan ton itu misuh-misuh karena tidak seimbang. Maka tak ayal lagi yang tadinya diambil dari tepi menyerbu kembali ke pantai, mbablas ke darat, ke jalan-jalan, ke perkampungan, saking rindunya pada keseimbangan. Hueekk, . . . byuoorrrr!

Lahar panas dan sapuan gelombang memicu proses nuklir yang dahsyat: solidaritas, kembalinya rasa kemanusiaan, menguatnya empati dan simpati, makin kerasnya makian untuk anggota – anggota DPR, melesetnya ramalan saintifik, ketakberdayaan, sampai pada perpecahan antar teman karena yang satu bersikeras mau menolong, yang satunya merasa cukup berdoa dan menyumbang ke dompet kemanusiaan. Ini neraka dalam arti sebenar-benarnya.

Alam sedang mencari keseimbangan baru, termasuk kita disini. Termasuk kita di kampung ini. Termasuk almarhum Curcuminoid mentoring group. Survival of the fittest. Yang sudah kepanasan segera angkat pantat dan nyemplung ke neraka baru. Yang masih teguh tinggal dan kokoh berlabuh sampai tak tahu mau kemana lagi.

Semua sedang mencari keseimbangan. Gasping for balance. . . . Dan para dogol sibuk mencari makna, mengeluh, meratap kepada Tuhan, tidak tahu bahwa yang sebenarnya terjadi hanyalah alam yang ingin seimbang.

May God bless us all.

5 Comments

  1. This is refreshing: berbeda dari tulisan2 yg sedang ramai beredar di mana2, dari komentar sotoy (sok tau, maksudnya) soal kematian juru kunci merapi, hingga komentar hipokrit mengutuk-ngutuk sesamanya sendiri yg dianggapnya telah sangat berdosa sehingga menyebabkan semua bencana ini. Betul sekali bahwa alam sedang mencari keseimbangan baru, termasuk Merapi yang sedang memperbaharui tingkat kesuburannya. Selama ini gunung yg kini gahar itu telah menghidupi warganya, dan mereka yg sabar menanti hingga usai proses mencari keseimbangan baru ini, pasti bakal merasakan manfaatnya yang lebih besar lagi. Survival of the fittest… Good things come to those who wait…

    Thanks Pak Patris karena request saya telah dipenuhi…. hmmm request selanjutnya apa ya? Japri aja deh nanti hehehehhheeee….

    • Thanks, Fiona.

      Eh, tapi soal judulnya yang sarkastis itu gimana? Should I change it or not? Saya lagi sebel sama beberapa rekan kerja di kantor, and I had them in mind when I wrote that:)

      Request? Lho, saya kan belum pernah memenuhi your request?

      Keep commenting, Fiona. We do like your comments, sometimes they are better than the original posting, ha ha haa!

      Patrisius

  2. Wah berarti bapak belum baca reply saya di email… saya kan request tulisan ttg bencana alam… hmm pake telepati kayaknya ya pak? hahahaaa…. Ah pak, saya kan cuma urun komentar, jadi ngga lah kalo lebih bagus dari original postingnya… no way, never… heheheee….

    Soal judulnya dah bagus kok pak, mereka yg menanggapi soal bencana diluar konteks ilmiah berarti kan berspekulasi alias sotoy alias berilusi (alias dogol jugaa)… apalagi yg menyangkut pautkan dengan dosa sesama, kayak yg komentar itu lebih baik aja kan? sama halnya dengan yang mengutuk mbah maridjan atau yang mengkultuskan sosoknya, pun sami mawon dengan yg bereuforia ttg 2012 armagedon… capek deeh :))

    Kenapa bapak nggak menulis kekesalan bapak ke kolega2 sebagai posting tersendiri? Jadi lebih spesifik dan seru menanggapinya. Guess I have requested for the next post 🙂

  3. Fiona, waah….telepati kayaknya nih, ha ha ha! Nice coincidence.

    Ya, saya orgnya pendiam di luaran tapi kalau sudah di blog lain cerita. Seperti split personality. Di alam nyata, saya dr. jekkyll, di blog saya mr. hyde. Ya, ide bagus nulis tentang kekesalan saya kepada beberapa kolega, tapi mungkin harus ati-ati juga soalnya ternyata blog sialan ini dibaca banyak org di lembaga tempat saya bekerja:)

    But if they are sensitive, they know that this posting is my venting of my bitter feeling toward them:)

    Patrisius

  4. Selama bapak tidak menyebut nama, tidak seorangpun berhak tersinggung apalagi protes, yang bisa mereka lakukan hanyalah introspeksi diri… so I’m waiting for the other side of you’s writing 🙂

Leave a Reply