Sang Waktu

Ketika dua orang bertengkar dan saling mendiamkan, setelah beberapa lama, beberapa bulan atau bahkan tahun, mendadak mereka menemukan momen untuk saling berbaikan kembali.

Tidak ada sedih atau senang yang abadi. Ketika saya sedih atau marah kemarin Jumat, hari ini saya bangun dengan perasaan lebih enteng, dan hari Senin saya bahkan ingin melonjak kegirangan. Kalau Anda jatuh hari ini, beberapa bulan lagi Anda akan melihat kesempatan untuk bangun. Pada beberapa hal, kebangkitan itu seperti terjadi begitu saja pada Anda.

Kalau saat ini seseorang sedang patah hati berat, pada suatu saat, entah beberapa tahun kemudian, akhirnya heran sendiri karena lukanya itu sudah tidak terasa lagi.

Orang yang sedang kasmaran pada seseorang yang bahkan tidak tahu dia sedang diingini, pada suatu saat akan mengatakan, “Ngapain juga yah aku seneng sama orang itu?”, dan pada saat itu semua perasaan sukanya yang mengharu biru tadi mendadak lenyap.

Tidak ada hal yang kekal di dunia fana ini. Lembaga sekuat apapun, kalau dia pernah lahir, pada suatu saat dia akan punah.

Apa yang menyebabkannya?

Waktu.

Time is the greatest healer, kata orang bijak. Maka orang yang bermusuhan pada suatu saat akan mengatakan: “ah, ngapain juga yah diam-diaman seperti ini. Ayo kita buang ego masing-masing dan berbaikan kembali”.

Time is the greatest healer. Maka orang yang hatinya patah juga akan berangsur pulih.

Time is the greatest healer. Maka orang yang putus asa pun akan mendapatkan harapannya seiring dengan bergulirnya sang waktu.

Tapi kadang waktu pun terasa kejam. Begitu cepatnya melesat. Ini sudah November 2010. Saya sering ogah beranjak, dan mengatakan “Mohon Tuhan hentikan sejenak waktu ini, saya belum puas menikmatinya”. Doa itu tak digubris. Waktu tetap melesat. Dan saya hanya bisa menatap foto-foto di album FB saya untuk menikmati kembali momen-momen menyenangkan yang telah membeku itu . . .

2 Comments

  1. Ini dia salah satu topik favorit saya …WAKTU… dan sehubungan dengan topik ini, saya pernah berdiskusi dengan seorang guru spiritual. Wacana yg beliau suguhkan sungguh mencerahkan, jadi minta ijin sharing disini ya, pak … saya copas dari komunikasi saya dengan beliau melalui email…

    “Waktu yang dikalibrasikan dengan bandul jam, atau getaran quartz dalam arloji, saya namakan itu ‘waktu objektif’, atau ‘waktu khronologis’, karena diukur dengan gerak benda-benda secara objektif. Waktu objektif tidak akan saya bahas lebih lanjut, karena memang sudah begitu adanya.

    Namun ada waktu lain yg ingin saya bahas, karena penting berkaitan dengan kesadaran kita sebagai manusia. Waktu itu saya namakan ‘waktu psikologis’. Waktu psikologis adalah kesadaran kita tentang waktu. Ajaibnya, waktu psikologis ini bisa menjadi cepat, bisa menjadi lambat, bahkan bisa berhenti! Waktu terasa lambat saat menunggu, contohnya saat remaja dulu kita menunggu pacar, rasanya lamaaa sekali padahal mungkin baru 15 menit. Tapi begitu ketemu pacar, mungkin nonton atau jalan bareng, waktu rasanya cepat sekali padahal sudah 3 jam!

    Nah, ternyata, waktu psikologis ini bisa berhenti! Kapan waktu psikologis berhenti? Ia berhenti ketika pikiran berhenti sama sekali, dan orang berada dalam keheningan total.

    Apa artinya waktu berhenti? Artinya orang berada pada SAAT KINI terus-menerus! Tidak ada masa lampau, tidak ada masa depan. Dan oleh karena itu, tidak ada waktu sama sekali. Dalam bahasa Inggris ini disebut ‘timeless’, berarti ‘abadi’. Tapi ‘abadi’ ini bukan berarti “hidup terus, tidak pernah mati” (eternal/immortal). Di dalam keabadian tidak ada waktu; tidak ada masa lampau, tidak ada masa depan. Yang ada hanyalah apa yang ada.”

    Nah lho… susah dipahami? Atau mudah? Sebenarnya penjelasan beliau panjang lebar, lebih detil. Kalo dimuat semua, wah ngebek-ngebeki blog nya pak Patris hehehe…

    Cheers!

Leave a Reply