Blog ini dan Komentar Masoook!

Ibarat banteng gemblung dengan kecepatan 200 km/jam, seperti inilah blog ini berlari. Kecepatan postingnya mencengangkan, setidaknya 2 kali posting dalam seminggu, bahkan bisa lebih. Yang lebih mengerikan adalah topiknya. Semua diterabas tanpa sungkan: perguruan tinggi, acara TV, rumah sakit, dunia panggung, politikus, hubungan terlarang, bahkan sampai ke tempat-tempat sakral dan agama. Namanya juga banteng gemblung, mana ada rikuhnya??

Sampai akhirnya datanglah seseorang super waras yang mengenal sang banteng lewat browsingnya di dunia maya.

Komentarnya singkat tapi membuat sang gemblung langsung sadar dan menginjak rem sekuat-kuatnya sampai berdecit-decit bak tikus sekarat.

Dengan halus namun sangat tepat sasaran, sang komentator, sebut saja inisialnya F, menunjukkan kepada sang blogger bahwa isi posting-postingnya terlalu “advanced dan terlalu dewasa” untuk pembaca seusia mentee-menteenya, kepada siapa sebenarnya blog ini ditujukan. “Akan lain halnya kalau Bapak menulis buku diary,” katanya lagi.

Masuk sudah. Blezz! Ibarat matador, si F menghunjamkan pedangnya ke jantung sang banteng dan membuatnya terkapar.

Ya, gimana ya, saya tahu blog ini dibaca banyak orang. Feedjit nya merekam pergerakan seismik yang makin lama makin tinggi ; hits nya dalam satu hari bisa rata-rata 30 an, bahkan minggu lalu mencapai 55 pembaca hanya dalam waktu satu hari. Tapi saya tidak akan berhenti atau merubah gaya saya kalau tidak ada yang komentar, bahkan mengkritik. Karena semua pembaca itu rata-rata hanya membaca, kemudian pergi begitu saja untuk rasan-rasan di balik punggung sang blogger, ya sudah. Sang blogger tetap saja menulis, seenak hatinya, seenak perutnya, apapun yang sedang dia rasakan dimuntahkan begitu saja ke blognya.

Untung ada F. Untung juga dia sangat berani memberikan komentar pendek lugas nan tepat sasaran itu.

Sepi sesaat. Ada empat ide muncul di kepala. Instink blogging langsung menuntun ke notebook. Tapi ah, sebentar, kayaknya yang ini terlalu spontan, yang ini terlalu ekspresif, yang itu terlalu sarkastis, yang satunya terlalu mendayu-dayu. Ah, gak jadi posting, ah. Batal semua. Bahkan posting berjudul “Kalau Saya Jadi Mahasiswa” pun akhirnya ditutup menjadi private, karena hanya sehari setelah diluncurkan, posting itu malah memicu masalah gawat yang nyaris berakhir menyedihkan . . . .

2 Comments

  1. Ternyata jadi guru itu suliiiit sekali ya pak… apalagi jadi mentor… saya saja yg baru beberapa hari mengajar dan bertemu murid2 dari berbeda-beda background, sudah merasa tercengang-cengang dengan kenyataan bahwa seorang guru harus sangat berhati-hati terhadap ucapan, pendapat, sudut pandang serta physical gestures.

    Saya yang sudah berbelas tahun sebelumnya bisa menjadi diri sendiri 100% dalam 24 jam karena bekerja di sebuah industri yg cukup “bebas”, kini “tertuntut” terus menerus & setiap saat menjadi orang yg lebih considerate, which is actually not me at all, trust me.

    Kini saya pun berpikir, apakah saya harus kehilangan diri sendiri… ataukah ini adalah sebuah proses evolusi menjadi a much better me? Only time will tell… but yeah, definitely students are looking at a perfect figure for a teacher/a mentor, while on the other hands teachers are only humans, right…? Mungkin itulah sebabnya guru diberi julukan pahlawan tanpa tanda jasa, oleh karena pengorbanannya yang tak sedikit.

    Wah pak…. posting berikutnya tentang SELUK BELUK SEORANG GURU/DOSEN/GURU saja bagaimana?

  2. Hallo Fiona,

    Wah, ternyata sedrastis itu ya perubahannya? Ya, memang, dua dunia yang berbeda. Saya salut Anda mau terjun ke dunia yang penuh nilai mulia itu dan minim tanda jasa. Memang begitulah guru. People look up on you and expect that you become their role-model, but on the other hand you feel that you are only a human with strengths and weaknesses. Sebenarnya, guru / mentor yang baik juga nggak harus berpretensi jadi perfect; kalau pas marah ya marah aja, mau menyebalkan ya menyebalkan saja; tapi yang penting: care about the mentees/students. Nah, ini aja nanti titik tolak dari posting yang temanya Anda sebut di komen Anda:)

    Patrisius

Leave a Reply