Jangan-Jangan Saya Memang Harus Kuliah!

Saya mau menggugat posting saya sendiri yang berjudul : “Jangan Jangan Kampus Bukan untuk Saya”. Sejujurnya, setelah membaca ulang posting ini, saya heran dan kecewa sendiri bagaimana mungkin seorang Profesor bisa menulis posting seperti itu? Kampret. Buat saya tegas saja pilihannya: Anda kuliah, atau mbambung (=jadi gelandangan), atau jadi begundal (=preman, bajingan yang merampas harta benda orang lain). Sudah, itu saja. It’s that simple.

Ini jaman susah. Bukan hanya susah, tapi juga rumit. Jaman Bapak saya dan saya dulu, jaman juga susah, tapi kami tahu jaman bakal lebih susah kalau kami tidak belajar tekun, mengasah otak dan kemampuan, dan terjun ke masyarakat dengan bekal ketajaman analitis, kemampuan prediksi dan merancang solusi, dan membangun sistem yang bisa diandalkan, efektif, dan fair serta transparan. Bukannya saya sudah dan sedang menikmati buah-buah dari kerja keras itu sekarang ini?

Jaman millenium kedua dan seterusnya, jauh lebih rumit dan menakutkan. Kita di ambang kiamat, tidak tahu apakah besok atau minggu depan atau nanti malam ada gunung meletus atau gempa skala besar atau asteroid menabrak bumi. Di negara yang kocar-kacir ini, modal asing menyerbu dan sekarang pesaing kita bukan hanya rekan sebangsa, tapi juga para ekspatriat dan orang-orang terdidik dari daratan Asia jauh, India, Australia dan lain-lain. Kalau dulu dengan kecakapan berbahasa Inggris saya dan generasi Bapak saya sudah bisa menjadi orang, di jaman depan kita belum dianggap orang kalau belum bisa berbicara bahasa Inggris DAN Mandarin dan/atau Spanyol, Korea, atau Jepang. Di sisi lain, hidup jauuuh lebih mudah berkat kemajuan dahsyat teknologi informasi. Dulu kalau mau menulis paper, saya dan generasi Bapak saya harus antri di perpustakaan, mengubek-ubek buku sampai mabuk hanya untuk mendapatkan referensi. Sekarang, kita tinggal tanya Google di laptop kita, langsung keluar berjuta-juta sumber, tinggal pilih untuk di copy dan di paste kan ke lembar paper kita yang masih kosong. Paper bisa selesai dalam hitungan menit! (=walaupun dengan resiko otak kita jadi menyusut karena nggak pernah dipakai mikir sendiri).

Kalau toh kita mau nuruti Julia Roberts yang nggak mau sekolah itu, lha mbok coba dipikirkan dulu konsekuensi-konsekuensi berikut:

1. Bagaimana kita mau bersaing dengan lulusan-lulusan kampus yang sudah terasah daya pikirnya, kemampuan analitis dan prediktifnya, serta kecakapan berbahasa asingnya?

2. Bagaimana kita mau meyakinkan potensi kita kepada calon pemberi kerja, bahkan calon mertua sekalipun, hanya dengan mengatakan : “saya ini tidak selesai kuliah karena menurut saya kuliah itu tidak ada gunanya.”

3. Seandainya kita toh punya modal milliaran dolar berkat warisan atau hibah orang tua, bagaimana kita mau membuat perencanaan yang sistematis untuk usaha kita? Bagaimana kita mau merekrut pekerja-pekerja dengan keyakinan bahwa kita akan menempatkan the right man in the right place at the right time, kalau kita tidak pernah belajar psikologi, tidak pernah tahu bagaimana mengelola sumber daya manusia? Bagaimana kita mau membangun networking dengan orang dari luar negeri, kalau berbicara bahasa asing saja tidak lancar atau bahkan tidak bisa sama sekali?

4. Sudah, jangan lagi terpesona dengan kisah sukses masa lalu dari orang-orang tenar yang saya sebutkan di posting pertama itu (Bill Gates, Steven Jobs, Julia Roberts). Sekarang gini aja: temui teman atau kenalan yang sudah memutuskan untuk keluar dari kampus dan merintis kisah suksesnya sendiri. Kalau dia bisa memberikan kiat-kiat sukses tanpa pengalaman studi di perguruan tinggi, baru Anda bisa mendebat posting ini. Kalau ternyata kisahnya penuh dengan ‘inspirasi’ (alias jadi pengangguran gak jelas sehingga terlalu banyak melamun), ya lebih baik Anda teruskan membaca posting ini.

Jadi pesannya sederhana saja: kalau mau hidup lebih terarah menuju sukses, ya teruskan belajar sampai setinggi mungkin! Tahan rasa bosan dan jenuh; nggak usah sok cengeng dan sok manja dan sok demokratis, menuntut kebebasan ini itu padahal belum karuan juga kita mau bikin apa dengan kebebasan sebegitu banyak. No pain no gain. Nggak usah juga terhanyut dengan tulisan-tulisan di blog seperti posting saya sebelumnya itu. Tetap fokus, tetap semangat, tetap berusaha dan berjuang.

Jia you!

10 Comments

  1. Pak, just want to share my thought…

    Saya kira kuncinya bukan pada kuliah atau tidak kuliah. Tapi lebih pada mau belajar ato nggak, either belajar di perguruan tinggi atau di tempat kerja. Saya bayangkan kalo Bill Gates dulu dipaksa nyelesaikan kuliahnya, mungkin ya nggak ada Microsoft yang bisa menyediakan jutaan lapangan pekerjaan kayak sekarang.

    Theresia, istri saya termasuk di golongan yang “nggak mau kuliah”, karena dia ngerasa nggak terlalu baik di kemampuan scholastic (semacam verbal dan aritmatik). Kalo dipaksa kuliah 4 tahun demi gelar sarjana pasti akan merana lahir-batin. Tapi sense of art-nya tinggi. Alih2 masuk perguruan tinggi, dia belajar desain dan chinese language.

    Terakhir yang saya tahu, penghasilan dari usaha mandirinya lebih baik ketimbang pegawai lulusan S1 yang bekerja di kantor dari jam 8 sampe jam 5… Dan potensi ke depan, sepertinya gaji suaminya (yang kabarnya calon profesor itu) akan dengan mudah dilewatinya. 🙂

    Mungkin lain waktu saya akan posting tentang kisah wirausahanya. 🙂

  2. Saya lebih setuju dengan posting bapak sebelumnya… kuliah itu pilihan, atau lebih tepatnya bisa menjadi basic survival kit… banyak orang2 yg tidak kuliah lalu menjadi kepepet oleh karenanya, nah bagi yang tidak malas & manja, situasi kepepet akan menjadi pemicu & pemacu terbaik bagi kesuksesan… orang yg tidak berhasil dalam hidup hanyalah orang malas sebetulnya, bukan karena faktor lain

  3. Dua komentar berbobot dari Windra and Fiona, dua orang yang memang saya tahu berwawasan luas dan smart!

    Thanks Pak Windra dan Fiona untuk pencerahannya. Anda menelisik sisi lebih dalam yang tidak saya lihat dalam posting yang terkesan hitam putih itu. Salut!

    Patrisius

  4. He he thanks for the compliment, pak…

    Kayak Gayus itu kan juga koruptor yang sukses karena dia tidak malas alias rajin korupsi… (jadi pengen nampol gayus dehhh)

  5. then i questinoed myself, abis denger cerita pak windra. apakah suara hati harus selalu diikuti? atau suara hati bisa dikalahkan oleh keinginan pihak yg lebih berkuasa drpada kita- alias orang tua?
    i questined myself deeply…

  6. Vania, tidak ada seorangpun yang bisa memastikan kelak kita akan jadi apa. Ortu itu begitu karena mereka sudah pengalaman dan berkaca apda pengalaman yang nota bene sudah masa lalu. Suara hati ya bisa salah bisa bener, tergantung seberapa jauh kita mempercayainya. Banyak org yangtidak menuruti nasheta ortunya untuk kuliah, dan ternyata sukses; dan sebaliknya. So it’s a mystery, no pattern, no formula.

    Patrisius

  7. Vania, yang bisa saya suggest ya do what you love and love what you do. Dengan cara itu kita bisa punya lebih banyak ketekunan. Katanya Malcolm Gladwell di bukunya The Outliers, resep untuk kita bisa diakui profesionalitasnya secara internasional adalah dengan cara fokus berlatih di suatu bidang selama 10ribu jam. Yang sering jadi kendala, gimana kita bisa tahan berlatih 10rb jam kalo itu bukan sesuatu yang we love to do?

    Kalo kita udah diakui secara internasional profesionalitasnya, orang tua mana yang nggak bangga? 🙂

  8. Pak Windra,

    Yep, I agree. That’s a good principle. 10 ribu jam yah? Wah, saya udah nggak ngitung berapa jam dulu saya latihan nulis blog:)

    Patrisius

  9. In term of Bahasa Inggris, bapak pasti udah lewat 10rb jam… Udah sampe di tahap diakui profesionalitasnya secara internasional… That what “Prof” stands for ya pak… 🙂

  10. Iya,Pak Windra, rasa-rasanya memang betul kalau yang itu. Strange, it takes someone else for me to realize that fact:)

    Patrisius

Leave a Reply