Terbang dan Kagum

Saya selalu menikmati perjalanan dengan pesawat terbang. Rasanya seperti anak kecil yang sedang terkagum-kagum dengan kehebatan teknologi aerodinamis yang membuat sebuah pesawat berbobot puluhan ton itu bisa mengudara dan terbang dengan kecepatan tidak kurang dari 800 km/jam. Ini yang saya sempat pelajari dari pengalaman terbang dengan pesawat:

1. Bentuk sayap pesawat: bentuknya khas, melembung di atas, cenderung datar di bawah. Ketika pesawat melesat di landas pacu, udara yang mengalir di bagian atas sayap bergerak lebih cepat daripada yang di bagian bawah sayap. Akibatnya, daya angkat di bagian bawah sayap yang datar tadi menjadi semakin besar, dan pada titik tertentu daya angkat inilah yang membuat pesawat take-off dengan mulus. Pada sayap mobil F1, ini dibalik: bagian bawah sayap lebih cembung daripada bagian atasnya. Akibatnya jelas: begitu mobil melesat, daya tekan roda ke tracknya menjadi semakin gila, sehingga tidak heran mobil F1 bisa berbelok dengan kecepatan 150 km/jam! Kalau mobil saya atau mobil Anda dipaksa belok dengan kecepatan itu, niscaya sudah munting gak karuan!

Nah, di foto saya itu ada ujung sayap yang melengkung ke atas. Itu fungsinya untuk mengurangi pusaran udara di ujung sayap. Karena pusaran berkurang, hambatan juga berkurang, sehingga pesawat bisa terbang lebih cepat dan menghemat bahan bakar.

2. V1.. Ini adalah kode kecepatan pesawat ketika meluncur di runway untuk lepas landas. Sebelum V1,  dia masih bisa dihentikan mendadak (misalnya karena pilotnya mendadak ingat belum mengupdate status FB nya); tapi begitu sudah V1, itu sudah the point of no return (pake istilah Inggris yah biar saya dianggap pinter) alias harus lepas landas, tidak bisa lagi mengerem atau berhenti (ya bisa aja sih, tapi resikonya kecelakaan!). Berapa kecepatannya ketika itu? 300 km/jam, bahkan lebih!

Ketika pilot mengatakan “rotate!”, dia akan menarik kolom kemudinya untuk menaikkan hidung pesawat, dan pesawat pun lepas landas. Mesin digas pol, dan sirip pesawat disetel untuk menambah daya angkat raksasa berbobot setidaknya 80 ton itu!

3. Kecepatan jelajah. Ini adalah kecepatan ketika pesawat Anda mengudara di atas awan dan pramugari sudah sibuk membagikan makanan. Kecepatan minimum 480 km/jam, dan maksimum bisa sampai 840 km/jam. Kurang daripada itu pesawat bisa stall (kehilangan daya angkat, alias jatuh).

4. Tampang sayap ketika landing: teringat pengalaman konyol ketika saya masih katrok dulu umur 25 tahun, naik pesawat ke Wellington, New Zealand. Ketika mendarat, saya perhatikan sayapnya dan mendadak jantung jadi serasa mau lepas begitu saya lihat keping-keping sayap pesawat pada mencelat keluar! Saya pikir sayap pesawatnya ambrol! Ternyata itu adalah  spoilernya (pake Inggris lagi yah biar saya dianggap keren). Ketika mau mendarat, keempat spoiler dikeluarkan dari sayap pesawat untuk menciptakan hambatan angin yang menahan laju pesawat. Makanya, begitu pesawat menyentuh landasan, spoilernya  makin keluar tegak lurus sampe kelihatan jerohan kabel sayapnya. Mesinnya yang dahsyat itu disetel reverse thrust, sehingga semburan jetnya yang tadi dari moncong ke ekor dibalik menjadi dari ekor ke moncong. Gunanya apa? Ya untuk ngerem pesawat, dodol! Bayangkan, Anda tuh landing dengan kecepatan 245 km/jam dan harus segera berhenti di landasan yang panjangnya hanya 800 an meter! Itu kerja gila! Makanya kalau sedang landing doanya jangan berhenti, justru harus makin kencang, soalnya itulah saat-saat paling menegangkan dari sebuah flight.

Menyenangkan sekali melihat pesawat mau mendarat: kecepatan harus sekitar 245 km/jam. Kurang daripada itu pesawat stall/ambles, lebih daripada itu pesawat akan sulit direm, apalagi kalau landasan pacunya basah kena hujan.

Untuk kondisi yang terakhir ini dikenal istilah hard-landing: pilot akan mendaratkan pesawat dengan agak keras di atas landasan basah. Kenapa? Ya supaya rodanya cepat mencengkeram tarmac (istilah untuk landasan pacu) dan tidak tergelincir kesana-kemari. Kalau nyetir becak mah asik tergelincir-gelincir, tapi pesawat? Amit-amit jangan deh!

5. Turbulensi: gejalanya seperti naik mobil di jalanan berbatu, atau seperti naik mobil mendaki kemudian mendadak turun! Perut terasa nggak enak. Itu menandakan pesawat sedang memasuki daerah turbulensi atau gangguan udara. Nun jauh di atas sana, ada beberapa daerah yang udaranya bergolak atau bahkan mendadak tipis. Ketika udara tipis, mesin jet tidak menyerap udara, sehingga fungsinya terhenti sekian detik dan pesawat pun anjlok tiba-tiba (tapi nggak sampai hancur di tanah karena dia masih 10 km di atas tanah!). Makanya kita harus tidak pernah melepas sabuk pengaman, karena kalau ada turbulensi ganas, badan Anda yang tidak terikat sabuk bisa melesat menghantam langit-langit pesawat! Pusing dong!

Ok! Have a nice and safe flight always!

6 Comments

  1. flight! XD dulu saya umur 2stgh tahun di bawa terbang k jakarta, slama bbrp tahun kedepan saya percaya jakarta di atas awan. ketika naik kereta ke jakarta, saya tanya k mama, ‘ma, jakarta udh g diawan lagi ya?” XD

  2. Vania, oh, so sweet memory of your childhood. Masih polos ya? Iya, Jakarta mah udah gak di atas awan, udah mau kleleb ditelan laut:)

    Patrisius

  3. Waaaahhhpak, makasih banget buat penjelasan teknis yg begitu mendetail tentang pesawat & seluk beluk take-off & landing… coba tulisan ini dalam bahasa Inggris, kan bisa saya pake untuk bahan mengajar hahahaaa….

    Kalo saya sih sampe skrg masih katrok soal naik pesawat pak, soalnya pasti ketakutan sepanjang perjalanan. Apalagi pas take-off… waduhhh tersiksa banget, pikiran ini jadi begitu negatif membayangkan kalo gagal wuiiihh… trus kalo dah stabil di atas langit, tetep aja ketakutan, saya suka memandang penumpang2 lain di sekitar saya, sambil bertanya2 dalam hati “Are they gonna be the last persons I see?”…. pokoknya kacau deh pak…

  4. You are welcome, Fiona. Tidak saya sangka posting ini bisa laris dibaca. Saya kira hanya posting mellow-mellow agak gelap gitu yang laris, ternyata yang teknis seperti ini juga laris:)

    Ya, rasanya semua penumpang juga punya pikiran yang sama. Tapi karena pesawat itu dibantu oleh doa sekian ratus penumpang, makanya kebanyakan pesawat selalu lepas landas dengan mulus!

    Thanks Fiona.

    Patrisius

  5. Ya moga2 memang begitu adanya, pak… doa sejuta umat bisa membantu penerbangan yg aman…

    I might need to talk to a shrink about this particular phobia of mine hehehee… Lha wong kalo mimpi buruk pun sering tentang melihat pesawat penumpang berjatuhan dari langit… kacau kacau….

  6. Fiona, wha, kok serem ya? Semoga mimpi Anda tidak menjadi kenyataan. Kayak Final Destination aja:)

    Phobia naik pesawat, apa yah namanya? Planophobia? Flyophobia? 🙂

    Kalau naik roller coaster takut juga nggak?

    Patrisius

Leave a Reply