Terbang dan Kagum (2): Ja-Im Padahal Takut

Komentar Fiona dan reply saya di bawah ini membuat saya gatal untuk menulis lagi tentang naik pesawat.

    Fiona:

“Waaaahhhpak, makasih banget buat penjelasan teknis yg begitu mendetail tentang pesawat & seluk beluk take-off & landing… coba tulisan ini dalam bahasa Inggris, kan bisa saya pake untuk bahan mengajar hahahaaa….

Kalo saya sih sampe skrg masih katrok soal naik pesawat pak, soalnya pasti ketakutan sepanjang perjalanan. Apalagi pas take-off… waduhhh tersiksa banget, pikiran ini jadi begitu negatif membayangkan kalo gagal wuiiihh… trus kalo dah stabil di atas langit, tetep aja ketakutan, saya suka memandang penumpang2 lain di sekitar saya, sambil bertanya2 dalam hati “Are they gonna be the last persons I see?”…. pokoknya kacau deh pak…”

    Jawaban saya:

“You are welcome, Fiona. Tidak saya sangka posting ini bisa laris dibaca. Saya kira hanya posting mellow-mellow agak gelap gitu yang laris, ternyata yang teknis seperti ini juga laris:)

Ya, rasanya semua penumpang juga punya pikiran yang sama. Tapi karena pesawat itu dibantu oleh doa sekian ratus penumpang, makanya kebanyakan pesawat selalu lepas landas dengan mulus!”

==========================================================================

Dia bilang dia paling takut kalau take-off. Saya punya pengamatan lain. Ketika take-off atau landing, saya kadang-kadang melihat ke penumpang sekitar. Mereka-mereka terutama yang berjenis kelamin pria ‘luar biasa’ gayanya: cuek, cool, dan penting banget (karena sedang membaca harian ‘the Economy’ atau “Weekly News’ atau apalah). Wah, hebat sekali gayanya pria-pria sok macho ini. Padahal saya tahu benar mereka juga takut, tapi karena gak mau ‘jatuh image’, mereka pura-pura tenang, ha ha ha! Pria memang makhluk paling tidak menarik di muka bumi ini . . .

Jadi ingat ketika masih di NZ dulu, naik pesawat dari Auckland. Di pesawat, ada pria usia 25 tahunan yang tekun sekali membaca novelnya. Begitu tekunnya sampai-sampai pramugari yang menawarkan bantuan diacuhkan begitu saja. Makin mendekati take-off, makin gila dia membaca bukunya. Wah, intens sekali! Begitu pesawat naik, kok ya ndilalah ada sedikit goncangan yang agak mengayun ke kiri dan ke kanan. Saya lihat pria itu menangkupkan bukunya ke mukanya, dan tiba-tiba wanita tua disebelahnya memeluknya. O alah, saya jadi paham: pria itu histeris karena ketakutan!

Saya rasa kebanyakan pesawat akan take-off mulus karena dibantu oleh doa dari sekian ratus penumpangnya. Ya, mungkin juga. Lha tapi kalau naik pesawat China Airlines yang hampir semua penumpangnya ndak percaya Tuhan terus gimana ya??

Anda pernah melihat mesin pesawat yang letaknya menggantung di bawah sayapnya? Perhatikan: kalau bentuknya agak penyet, itu berarti pesawatnya baru, buatan 2003 ke atas. Tapi kalau bentuknya masih tidak penyet dan cenderung memanjang, itu berarti pesawatnya model lama, yang kayak gini nih:.

Pesawat lama berarti jam terbangnya sudah banyak, dan kemungkinan mengalami apa yang disebut metal fatigue (kelelahan rangka). Jadi ya resiko trouble agak lebih besar daripada yang masih baru. Itu mungkin yang membuat saya selalu agak ngotot naik Garuda, karena saya lihat mesin jetnya penyet semua . . . kayak gini nih:

Pernah gak masuk ke kokpit pesawat? Nggak pernah? Dasar katrok, soalnya saya juga belum pernah, ha ha ha!! Nah, di kokpit pesawat itu ada yang namanya “no go items”. Ini maksudnya instrumen-instrumen yang harus berfungsi sempurna; kalau dia macet atau mati atau agak ngadat, itu berarti sebenarnya pilotnya harus “no go” (tidak terbang), sebab kalau dipaksakan, resiko kecelakaan lebih besar. Nha, bayangkan deh mobil Anda suatu ketika lampu riting kanannya mati, dan remnya agak macet. Ini sebenarnya ‘no go driving’ kalau buat mobil. Nah tapi kan kadang-kadang kita menganggap sepele peringatan-peringatan kayak gitu: “ah, ntar kalau mau belok melambai pakai tangan aja dari jendela”, dan “kalau ngerem mobil masih jalan , ya gak papa lah ngerem pake kaki sekali-sekali!”. Kalau sikap kayak begini diterapkan di dunia penerbangan, akibatnya bisa fatal. Pesawat jadi seperti berjudi dengan maut: kalau pas mujur ya selamat, kalau pas sial ya celaka! Ada beberapa kasus kecelakaan yang berawal dari sini. Maskapai-maskapai di Indonesia yang sekarang sudah tutup sebagian besar karena memaksakan diri terbang padahal sudah ada “no go items” kayak begitu.

Sekarang tentang hal-hal pamali (tabu) kalau mau naik pesawat. Suatu kali, sekali lagi karena masih kampungan, ketika melihat pesawat yang lagi parkir di bandara, saya nyeletuk: “eh, maskapai pesawat yang mau kita naiki ini rekor jatuhnya sudah berapa kali ya?”. Kontan teman saya yang lebih modern menyahut: “HUss! Ya jangan ngomong begitu lah!”. Saya baru sadar bahwa ungkapan katrok itu sama seperti mengharapkan pesawat itu jatuh . . .

Nah, dalam penerbangan ke Surabaya jam 10 malam kemarin, entah karena sudah ngantuk atau capek, saya terkejut setengah mati mendengar instruksi pilot ketika mau mendarat: “flight attendants, . . . crashing position, please!”. Haah?? Kok crashing? Gila tuh pilot! Saya lihat teman-teman tenang-tenang saja. Wah, gimana ini, saya baru nyadar ternyata listening comprehension saya agak buruk: yang pilot itu bilang adalah “landing position”, dan bukannya “crashing position”.

Ok, thank you for flying with machungaiwo air. Have a nice and safe flight always!

4 Comments

  1. Terima kasih sekali lagi, pak… kali ini karena telah mengingatkan untuk tidak berpikiran negatif karena itu berarti sama dengan mengharapkan pesawatnya jatuh (tapi ya ngga janji deh pak, ntar kalo naik pesawat lagi pasti begitu lagi *sigh*) ….

    Tapi dulu (sebelum saya kenal dengan seorang pilot di sekitar thn 2007) saya nggak se-takut sekarang lho, pak… Setiap naik pesawat ya cuek aja gitu, malah kalo perjalanannya jauh lebih dari 5 jam (yg terjauh adl 24 jam dr Jkt – Chichago) saya pasti minum sesuatu yg bisa bikin tidur, terus ya gitu deh amblas sampai tujuan heheheee….

    Nah, sejak kenal sama pak pilot itu dan beliau bercerita bahwa periode paling rawan dalam penerbangan adalah take-off & landing…. saya jadi parno dehhh… dan makin kesini makin menjadi-jadi… Makanya sekarang saya ogah ke luar negeri kalo gak pentiiiiing banget… perjalanan antar kota pun sebisanya naik kereta atau mobil… makanya saya paling pinter nih pak cari2 alasan untuk naik kereta dari Jkt-Sby … biar gak katrok2 banget saya biasanya pura2 bawa satu atau dua botol yg isinya cairan yg dianggap orang “agak keren” … seperti misalnya wine (pdhl saya bukan penikmat wine) …. waktu lain, saya pura2 bawa ramuan sinshe yg paling mujarab untuk saudara yg harus dibawa dalam bentuk cairan sudah direbus…. hahahaaa… repot benerrr

    Ketakutan memang selalu memenjara manusia dalam penderitaan

  2. Wah, ternyata rumit juga ya urusan takut naik pesawat itu, Fiona. Wah, tapi itu pilot kemana tuh? Baik sekali ya pilotnya, mau membagi kisah dengan Anda:)

    Sejauh ini, pengalaman saya naik pesawat ya biasa-biasa aja . Tuhan senantiasa melindungi. Hal paling membuat jantung berdetak ndak karuan adalah ketika . . . menerima tagihan kartu kredit untuk biaya tiketnya, bwa ha ha haaaaaaaa! 🙂

    Good comments, Fiona, saya benar-benar menikmati respons Anda terhadap posting2 saya di blog ini. Xie xie ni!

    Patrisius

  3. “Pria memang makhluk paling tidak menarik di muka bumi ini . . .”

    mau tdk mau sy bnr2 hrs setuju dgn statement di atas..hahaha.. lucu bgt baca tulisan ini….

    jujur,kl sy paling takut saat periode take off, saat udah stabil d atas, sm periode landing….a.k.a semuanya… saat paling senang pas pengambilan bagasi,,hehe…
    Biasanya sy jg py gaya yg “super cool” buat nyembunyiin rasa takut,,mulai dari boarding sy lgsg make earphone, nyetel musik, merem sambil goyang2 kepala,,pokoknya hrs keliatan “cuek, bosan dan gak peduli sm sekitarnya”, padahal dalam hati takut setengah mati..sampe2 sering ditegur mbak mugarinya nyuruh copot earphone krn hrs dengerin prosedur evakuasi….hehe…
    makanya sy tdk bs membayangkan kl hrs naik pesawat jarak jauh yg lamanya 3 jam k atas..selama ini paling jauh baru 2 jam an k KL, dan itu bnr2 “perjalanan paling lama dan menderita yg pernah kurasakan”…gila,gila,,, 🙂

    y mudah2an nanti suatu saat ada yg nyiptain alat transportasi udara yg ketinggian terbangny ckup 10m dari permukaan tanah,..wkwkwkkkkk..

    sukses selalu buat anda..
    keep blogging y pak..
    regards
    ferdy

  4. Hi Ferdy,

    Thanks komennya.

    Jadi kuncinya,kalau naik pesawat harus tenang dan setengahnya pasrah, ya? Bukankah like energy attracts like energy? Kalau terlalu cemas malah pesawatnya be-te dan akhirnya ngadat:)

    10 meter dari muka tanah? Layang-layang aja nggak segitu, ha ha haa! Ya, 10 meter diatas tanah, baru juga jalan 10 meter sudah gdubrak nabrak tiang listrik:)

    Regards
    Patrisius

Leave a Reply