Bencana Tgl 26, Sinterklas, dan Selamat Ulang Tahun!

natal kali ini terasa beda, justru karena menjelang natal suasananya tidak seperti natal. natal tahun lalu dan sebelumnya terasa meriah; penjaga-penjaga toko melayani pelanggan dengan bertopi santa claus, membuat saya keheranan sekaligus nelangsa. tahun ini santa claus tidak datang karena terjebak badai salju di negara asalnya sana. tinggal satu sepatunya nyanthol di kaca jendela kantor mbak devi dan mbak roza. setidaknya dua mahasiswa saya, susilo dan dina sutanto, yang juga merasa natal ini sudah berbeda dengan natal sebelumnya. dosen-dosen pada sibuk menjaga uas dan menghabiskan liburan dengan koreksi paper sa’gudang melebihi dokumen wikilieaks. lagu-lagu dari pc saya adalah dari linkin park dan keane dan maroon 5, atau kla project jadul. saya tidak koreksi UAS karena sudah saya selesaikan hanya sepuluh menit setelah murid-murid mengumpulkan paper UAS nya.

kemarin, hanya dua hari menjelang kelahiran bayi Yesus, salah seorang yang dekat dengan saya mengatakan bahwa dia belum bisa percaya adanya Tuhan. ketika saya tunjukkan fakta-fakta bahwa dia hidup sehat, mapan, punya teman dekat, bisa belajar di universitas, dan segala macam yang menunjukkan bahwa Tuhan selalu berkarya di dalam hidupnya, dia balik bertanya: “apakah itu semua fakta bahwa Tuhan atau Yesus ada?”. Baiklah. Saya tidak mau mendebat lebih jauh. Dia masih sangat muda, sementara saya sudah kenyang mengalami jatuh bangunnya hidup dan merasakan sendiri kasihNya. Suatu waktu dia pasti akan percaya juga dan bersyukur. Dialog saya tutup dengan “kamu mau nggak percaya atau percaya sama Dia, Dia tetap mengasihimu.” Bagaimanapun, untuk seseorang seperti ini, saya menyayanginya dengan cara melepas dia menjalani kehidupan ini dan menemukan sendiri panduan dan bimbingan kasih Nya. Saya nggak perlu kecewa, marah dan kemudian mendesak-desak dia supaya percaya saat ini juga. Percuma. Setiap manusia punya jalan sendiri untuk mengenali Nya dan kembali kepada Nya . . . . suatu kali, entah kapan. . . itu urusan Tuhan dengan dia, saya hanya bisa memberi saran dan mensharingkan pengalaman pribadi.

Tanggul lumpur Lapindo jebol dan arus lalu lintas ke Surabaya tamat sudah. Dari seorang teman, saya dikirimi peringatan bahwa bencana besar selalu terjadi tanggal 26. Kisah-kisahnya sudah banyak terekam. Tanggal 26 adalah tanggal dimana Sang Empunya Alam menggoyang bumi dan seluruh isinya. Itu ada di Kitab Haggai di Kitab Suci, katanya. Saya terpesona, tapi sempat juga usil berkomentar: “Kok kayak Gusti kurang kerjaan aja, ya? Main goyang bumi setiap tanggal 26?”. Ada gempa sesaat ketika saya menjaga UAS hari Senin, atau Selasa. Hanya ada seorang mahasiswa yang masih mengerjakan papernya di kelas. Saya bilang, “eh, gempa!”. Dengan tenang dia menjawab, “Iya, Pak”. Kemudian kami kembali lagi menekuni pekerjaan masing-masing sambil menikmati goyangan gempa itu dari lantai 2 Bhakti Persada . . .

Ini menjelang Christmas Eve. Hari pertama liburan panjang. Saya renang sendirian di Atlas. Lalu setelah capek, mengetik postingan ini di kafenya yang masih tutup semua sehingga saya tidak bisa menikmati kentang french fries dengan mustard yang enak itu.

Besok Natal. Saya mau ke gereja jam 6 pagi.

Happy Birthday, Jesus! Thank you for all the love and care you give to all of us thorughout the year. You are the only being who knows what real LOVE is. We pretend to know it; we rant and lament and shout about love on our FB statuses, but we know we don’t know what LOVE really is. Now that this is Christmas time, allow us to say thank you so much for all the blessings and care and peace . . .

4 Comments

  1. Bukankah sayang banget dan terkesan sekedar menghindar bahwa kesempatan emas seperti perjumpaan dengan orang yang disayangi seperti itu hilang begitu saja tanpa secuwilpun kata bijak yang ‘enlightening’ yang mungkin bisa mengubah jalan hidupnya? Apalagi hanya dengan cara “melepas dia menjalani kehidupan ini dan menemukan sendiri panduan dan bimbingan kasiNya”. Bagaimanapun juga situasi dan kondisinya sepertinya sangat kondusif untuk memberikan masukan yang jitu dan tepat yang mungkin dapat sungguh-sungguh memberikan pencerahan yang jelas amat dibutuhkan.
    Tentu saja untuk dapat memberikan tanggapan yang mengena dan inspiring (yang sebenarnya amat dinantikan in spite of the casual context), itu mengandaikan adanya kondisi dan situasi kebatinan kita (si-mentor) yang hopefully siap dan lebih lengkap dari penanya yang disayangi itu. Memang tidak perlu “kecewa, marah, mendesak-desak dia supaya percaya saat ini juga” namun sayang peluang untuk menyelamatkan satu “jiwa” menjadi hilang lenyap. Semoga kesempatan serupa kembali tersedia dan kesempatan memberikan tanggapan dan arahan yang mencerahi kembali tersedia.
    Soenardi

  2. Thanks for the advice, Sir! Actually that was an immediate response from me. On a second thought, I think it will be wiser to give this ‘lost’ person a patient and constant guidance to find the light of His love. This person reads this blog, too, and I hope your reminder serves a good purpose of bringing this person to an awareness that Jesus exists and is very much at work in our lives.

    PID

  3. Hmmmm…..pertanyaan ini menurut saya adalah ungkapan keinginan untuk justru ingin mengenal Tuhan lebih jauh, dan itu adalah anugerah, dan perlu dicari lebih jauh, berikut upaya konkritnya. Misalnya dengan mencoba baca kitab suci (agama apapun), dialog dgn pemuka agama, dst….any effort lah….mirip pengalamanku, curious juga awalnya, lalu aku mencari, membaca, bertanya, dan pelan-pelan dapet!
    Btw, ini sepertinya pertanyaanmu juga kan Tis? Yg seingatku sudah bertahun-tahun….tidak word by word, tp nature dan konteksnya sama. Juga soal gereja, dllnya itu, pergumulanmu jg selama ini, kan ya? Belum ada closure dan jawabannya tah? Soal gereja dan kotbah yg dull, dulu jg problemku, tapi aku cari tau, dan akhirnya paham bhw ke gereja itu is not for me, but for Him! Wah ya sudah, itu jawabanku, my closure. Cool!

  4. San,

    Iya, aku harap juga begitu: keraguan akan Tuhan sebenarnya mencerminkan kerinduan akan Dia. Tapi just as you did, maybe it takes time, and effort, of course. My task as a mentor is to show her slowly and surely the many ways she can recognize God’s love.

    Jawaban: sudah, tapi aku tidak tahu apakah itu akan ‘memuaskan’ banyak pihak atau tidak. Sedikit banyak, i have been scratching on the right path of spirituality, but at the same time I’m losing my grip on the organized religion. Lha, shocking kan? Maybe, as I said, it’s part of the process. .. .

    Gereja dan khotbah yang dull itu juga karena gereja Katolik memang sulit luar biasa untuk berubah. Padahal dunia ini dinamis. Ntar kalo udah terkesan kepepet, baru mau sedikit berubah, kayak akhirnya Paus menyatakan sesuatu yang terkesan agak melonggar terhadap penggunaan kondom . . .

    Thanks for comment!

Leave a Reply