Tentang Standar Internasional

Internasional. Standar internasional.

Saya bertanya-tanya, apa iya kita pernah sejenak merenungkan apa makna kata “internasional” disitu?

Kolam renang berstandar internasional. Apakah ini? Kalau sebuah lembaga punya kolam renang berukuran kolam yang biasa dipakai untuk lomba di ajang internasional, apakah sudah cukup bekal yang dia punyai untuk mengatakan “kami berstandar internasional”?

Bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Apakah ini? Kalau dosen-dosen dan mahasiswanya sudah berkomunikasi, ngobrol, bahkan pisuh-pisuhan dengan bahasa Inggris, apakah sudah layak perguruan tingginya mengatakan “kami berstandar internasional”?

Nah, maka pergilah saya ke Bandung, ke ITB, menghadiri seminar seorang profesor dari University of Leeds. Dia menyampaikan buah pikirannya tentang maraknya gejala latah “kami berstandar internasional” yang sedang mewabah tanpa ada obatnya di negeri ini.

Menurut dia, orang yang mengatakan dirinya berstandar internasional harus punya keperdulian terhadap hal-hal yang juga menjadi keprihatinan dunia internasional. Hal-hal itu sebenarnya sudah terangkum dalam MDG (Millenium Development Goals), yang ternyata banyak berkaitan dengan pemerataan pendidikan, kualitas kesehatan ibu, rendahnya angka kematian pada saat kelahiran, pendidikan yang setara untuk wanita dan pria, pembangunan berwawasan kesehatan lingkungan, kesehatan, dan sebagainya.

Nah, ternyata bukan hanya masalah bahasa Inggris dan ukuran kolam renang, tapi menyangkut dimensi lebih luas yang bertalian erat dengan pembangunan manusia dan pemeliharaan planet Bumi ini.

Jadi, kalau ada orang yang masih gembar-gembor mengatakan bahwa lembaganya sudah berstandar internasional semata-mata hanya karena sudah bisa ngomong bahasa Inggris dan punya perlengkapan/fasilitas yang mewah, maka saya akan tertawa terbahak-bahak. Tragisnya, sekitar seratusan orang sudah mengatakan hal yang sama, dan saya pun sudah tertawa terbahak-bahak seratus kali pula menertawakan kebodohan mereka.

Menurut hemat saya, kok lebih baik mengatakan “kami punya sumber daya dan kekuatan budaya lokal, namun kami tanpa ragu akan mengerahkan upaya untuk mencapai cita-cita dunia internasional”. Ini rasanya lebih membumi, lebih realistis, tidak terkesan upaya mau merengkuh bulan dengan sekali lompat kemudian terbang terbawa angin entah kemana. . . .

3 Comments

  1. 🙂 apakah kita sudah siap menjadi manusia internastional??? hummmp..

    kakak.. permisi berbagi kabar baiknya ya…

    Urgently Required
    Easy Speak, A fast-growing National English Language Consultant, is hunting for
    English Tutors
    Qualifications:
    1) Competent, Experienced, or Fresh Graduates
    2) Proficient in English both spoken & written
    3) Friendly, Communicative, & Creative
    4) Available for being placed in one of the following cities:
    a. Batam 0778-460785
    b. Pekanbaru 0761-7641321
    c. Balikpapan 0542-737537
    d. Palembang 0711-350788
    e. Samarinda 0541-273163
    f. Denpasar 0361-422335
    g. Makassar 0411-451510
    h. Semarang 024-3562949
    i. Bandung 022-76660044
    j. Banjarmasin 0511-7069699

    If you meet the qualifications above, please send your resume to: easyspeak.recruiting@gmail.com.
    Or contact our branch offices mentioned above to confirm prior to sending your resume.
    Deadline: July 30, 2011.
    Visit http://www.easyspeak.co.id for further information.
    Make sure that you won’t miss this golden opportunity as the day after tomorrow might be too late for you to compete for this position

  2. Nah, ini saya setuju sekali….. Indonesia itu terkenal dengan latahnya, belum dikaji sedalam mungkin udah dengan bangga mengikutinya….. belum nanti kalau salah, terjebak dalam malu, dan belum kapok untuk mengikuti yang lain lagi dengan cara yang sama…. saya juga tidak tahu mengapa… satu hal yang saya tahu, yang Universitas di Indonesia katakan bahwa mereka berstandar internasional adalah cuma tentang bahasa pengantar, kualitas perlengkapan dan bangunan, kualitas internet bandwith, dll. Untuk kualitas nilai-nilai sosial dan moral??? saya tak tahu menahu masalah itu…. tentang kualitas bagaimana mempertahankan budaya lokal untuk tidak terlibas dengan globalisasi??? apalagi masalah ini…. menjadi Internasional adalah dengan mempertahankan ciri khas kelokalan kita dan berusaha menghargai nilai lokal orang lain, dan bukan dengan menghapuskannya dan berusaha untuk menyamai nilai lokal orang lain yang kita anggap “internasional”…..tak cuma masalah standar internasional, masalah universitas berbasis entrepreneur juga muncul dimana-mana….. beyuhhhh!!!! atau besok perlu kita buat Universitas berbasis teknologi informatika, Universitas berstandar global, universitas berstandar surga??? hakakakakak…. harusnya kita sadar bahwa ladang kita yang terutama adalah negara kita sendiri setelah kita lulus, dan bukan negara lain….. hemmmm…. what a crysis……

  3. Persisss! Persis dengan apa yang saya pikirkan. Latah berat bangsa kita ini. Dulu waktu penelitian sedang jadi primadonna, banyak yang ngakunya “Research Unversity”, sekarang b egitu kewirausahaan marak, langsung ganti slogan “Entreprenuerhsip University”. Gak usah jauh-jauh, universitas gak pake bra di jl. veteran itu lah contoh kasus yang paling jelas. Ini gejala sakit jiwa nasional.

Leave a Reply