Tentang Hidup

Topik mentoring saya pagi ini adalah tentang hidup.

Hidup. Yah, apakah sebenarnya hidup ini?

Beberapa orang pemikir mengatakan bahwa hidup adalah salah satu cara yang dilakukan Tuhan, sang Maha Pencipta, untuk mengenali diri Nya sendiri. Aneh ya? Ya, tapi setelah saya renung-renungkan, mungkin ada benarnya juga. Bagaimana Tuhan bisa tahu bahwa Dia adalah Tuhan jika tidak ada kesadaran tentang Tuhan? Maka, kesadaran itulah yang melahirkan semua yang kita kenal di dunia ini: baik, buruk, jahat, manis, sopan, kasar, mulia, jahanam, kaya, miskin, diberkati, dikutuk, cinta, patah hati, miskin, kaya, lapar, kenyang, cahaya, gelap, dan sejuta macam konsep lainnya.

Maka memang sekarang saya bisa melihat kebenaran dalam ungkapan-ungkapan pemikir ini, yang mengatakan bahwa Tuhan itu sejatinya ya ada di dalam diri kita sendiri. Kalau kita dengan sepenuh hati mau menyelam masuk, masuk, dalam, dalaaaaaaammmmmmmmmmmm sekali ke inti hati kita, maka disanalah kita temukan Dia bersemayam.

Ah, tapi itu terlalu religius, Sekarang versi yang lebih tragis.

Hidup adalah sia-sia. Makanya bayi menangis waktu lahir karena dia tahu dia harus berjuang di alam yang fana ini. Berjuang cari makan, cari cinta, berjuang untuk bangkit lagi setelah terpuruk, berjuang melawan musuh-musuhnya, perasaannya sendiri, setan-setan jahat dalam dirinya, dan sebagainya.

Beberapa orang sampai pada titik membenci semua yang hidup; maka diambilnya sepucuk senapan semi otomatis dan ditembakinya semua orang yang dia lihat di jalan, sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri. Yang seperti ini sering kan terjadi di Amerika?

Beberapa orang, nah yang ini termasuk saya, sejatinya tidak suka melihat dan mengalami hidup, apalagi kalau dunia sudah menjadi terlalu sesak dan penuh, lengkap dengan segala kompleksitasnya yang makin lama makin rumit. Kalau dibiarkan, mereka akan menjadi si putus asa yang saya gambarkan di atas itu; tapi tidak, pada satu titik dalam hidupnya, ada kekuatan lain yang menguatkannya dan memberi harapan. Lalu mereka ini tak henti-hentinya berintrospeksi, mencoba terus-menerus memperbaiki kualitas dirinya. Pada saat yang sama, mereka yakin bahwa hanya Tuhan yang lembut dan penuh kasih yang mampu menguak tabir gelap kehidupan dan menggantinya dengan terang dimana-mana. Orang seperti ini biasanya mengidolakan Bunda Theresa, yang salah satu ajarannya adalah: “jika kamu berbuat baik dan semua orang masih juga membencimu, tetaplah berbuat baik. Karena, pada akhirnya, masalahnya bukan antara kamu dengan mereka, tapi antara kamu dengan Tuhan.” Lalu satu lagi dari Ibu ini: “Seberapa banyak kasih yang mau kamu berikan ke hidupmu pada hari ini?”

Hidup adalah sadar. Tapi kita juga bisa hidup tanpa kesadaran, menggelinding begitu saja pokoknya makan, minum, kerja, dan bercinta, terus tidur, makan lagi dan begitu seterusnya. Di lain pihak, kita bisa dengan sangat sadar menanyakan kepada diri sendiri: “siapa aku ini? mengapa aku disini? kemana tujuanku?”, lalu bertekun dalam penghayatan hidup beserta segala kompleksitasnya, dan menjadi makin tahu bagaimana menikmati dan mensyukurinya.

2 Comments

  1. iya pak kita ga ngerti untuk apa hidup dan buat apa kita hidup..
    saya cm mikir hidup ya gt dijalani tanpa perlu bertanya karena kalo kita nanya pasti ga nemu jawabannya. emang hidup ga semudah dilihat disinetron.. hidup pasti ada masalah kalo uda sampai pada 1 titik pasti kita pengen sendiarian untuk berfikir.

  2. Merrie, thanks komennya. Iya, beberapa orang menjalani hidup tanpa mau repot2 merenungkan maknanya. Pokoknya hidup ya sudah hidup aja. Nah, kalo sudah sampai pada masalah, ya benar yg kamu katakan: kita kadang2 perlu menyendiri.

    Patrisius

Leave a Reply