Tentang LOVE

Menurut saya, satu kata yang terlalu sering diucapkan sehingga maknanya jadi ajur-ajuran dan akibatnya tidak lagi terasa manis adalah : LOVE. Bukan, bukan CINTA, tapi LOVE. Kalau ndak percaya, coba katakan “I love you” dan bandingkan dengan “Aku cinta kamu”, nanti kan terasa bahwa yang pertama terasa lebih sweet. Bener?? Ha ha haa!

Nah, kembali pada pokok tulisan di atas: LOVE terlalu sering diucapkan sehingga makna aslinya jadi makin kabur dan akibatnya hampir setiap orang punya definisi yang berbeda-beda tentang makna itu.

LOVE sejatinya adalah tindakan yang membahagiakan, tapi kenapa banyak orang yang sakit hati, patah hati, bahkan sampai merasa hidupnya percuma, lalu bunuh diri, karena LOVE? Kenapa juga dunia sepakat bahwa kata yang tepat untuk mendadak cinta adalah “jatuh cinta” atau “falling in love”, dan bukannya “flying with love” atau “rising in love” ?

Sampai-sampai seorang twitter bernama DamnItsTrue mengatakan: “The hardest profession is a LOVER. I dont get paid but I often get hurt”. Beh! Menohok sekali tweet itu. Diamput tenan! Ha ha haa!

Paulo Coelho, novelis terkenal yang saya kagumi itu mengatakan: “Cinta adalah kekuatan sejati yang melebihi kekuatan individu. Ketika semua cinta di dunia ini disatukan, maka cinta itu akan berakhir pada satu muara sungai yang kemudian menjadi hujan dan membasahi bumi dengan berkatnya”.

Kali ini saya kurang setuju dengan Pak Coelho. Menurut saya, selama manusia masih mengartikan LOVE secara berbeda-beda, LOVE itu tidak akan mengalir menjadi satu kekuatan yang dahsyat, apalagi sampai membasahi bumi dengan berkatnya. Ya, kalau masih ada yang sakit karena LOVE, bukannya hujan air tapi hujan air mata, bahkan darah . . .

Jiddhu Krisnamurti mengatakan dengan elok tentang apa yang bukan LOVE: keinginan mengekang, keinginan untuk dilayani, keinginan untuk dibahagiakan, kecemburuan, BUKAN LOVE. Satu nyanyian rohani yang sering saya dengar di gereja melantunkan: Cinta itu murah hati; cinta itu lemah lembut; cinta itu tidak memegahkan diri; cinta itu kerelaan untuk berkorban”.

Apa yang Anda sebenarnya maksudkan ketika mengatakan “I LOVE you” kepada seseorang lawan jenis (homo dan lesbi tidak termasuk-Red)? Apakah itu berarti (a) Aku mencintaimu, dan aku harap kamu juga mencintaiku, (b) Aku menginginkanmu, dan kamu ndak boleh ingin orang lain, (c) Aku mencintaimu seperti apa adanya engkau, dan kalau kamu bahagia—entah dengan siapapun itu—aku juga ikut bahagia. Nah, yang mana? Yang (a), (b) atau (c)?

Di Amerika, ada seorang istri yang melindas suaminya yang telah menikah dengan wanita lain. Sambil melindas si pria, dia mengatakan: “Maaf, tapi aku masih mencintaimu”.

Pertanyaan: does she really LOVE the man?

Seorang penggemar burung memelihara seekor burung kecil dalam sangkar. Setiap hari burung itu diberinya makan dan minum, vitamin segala macam, sangkarnya dihiasinya dengan dekorasi alam, supaya si burung betah. Setiap hari disapanya dan diajaknya si burung bercengkerama. Si burung pun tumbuh makin besar, makin kuat.

Lalu sampailah pada suatu pagi. Si pecinta burung ini membuka sangkarnya, dan mengatakan kepada si burung: “Engkau sudah kuat sekarang. Aku bahagia bisa merawatmu dan membuatmu tumbuh besar. Sekarang terbanglah engkau ke alam bebas, sebab disanalah duniamu sesungguhnya. God bless you, my lovely birdie”.

Si burung terhenyak. . . .

3 Comments

  1. akhir – akhir ini saya mempertanyakan apa itu cinta.

    saya ini selingkuhan.
    tidakkah bapak ingin tahu, kenapa saya mau dijadikan selingkuhan?
    sesungguhnya, kalau bisa. saya juga ingin mendapat jawaban atas pertanyaan itu dari diri saya. tapi, makin dipikir, makin kabur rasanya jawaban itu dari benak saya.

    tak ada alasan. saya bahagia bersama dia yang mengatakan “je t’aime” (I love You dlm bahasa Perancis) kpd saya. sekalipun. saya tahu, baru kemarin dia bersama kekasihnya. seperti kehilangan akal sehat, saya sempatkan datang ke kotanya yg terbilang tidak dekat, untuk bersamanya, untuk memeluknya.

    semua indah. hingga akhirnya bulan ke-4 datang. saat seorang teman bertanya, “kamu ini selingkuhannya?” , itulah pukulan telak bagi saya. semenjak itu, mulai rasa cemburu hinggap di hati saya. tak hanya hinggap, kecemburuan juga memaksa saya untuk memuntahkan teriakan dan tangisan. seketika itu, saya bertanya-tanya, “adakah cinta saya telah habis masa berlakunya?”

    apa cinta namanya, kalau saya cemburu seperti ini? kenapa cemburu datang di bulan ke-4? apa ini yang namanya akal sehat, yang tak mengijinkan saya untuk menerima hanya setengah dari hatinya? saya ingin tahu, apa perasaan seperti ini juga dirasakan oleh wanita kebanyakan, terutama mereka yg dijadikan simpanan. saya ingin tahu, apa yg membuat Heidi, istri terakhir alm.Soekarno akhirnya memintai cerai. saya ingin tahu.

    saya mau kesempurnaan. kesempurnaan dalam cinta. cinta itu memberi. dan memberi adalah kebahagiaan. satu-satunya yg menghalangi kebahagiaan itu adalah keinginan untuk dibalas.

  2. Waow! Anda luar biasa jujur! Saya tahu lho siapa Anda. Kok bisa ya begitu terus-terangnya?

    Ya, wanita manapun, lepas statusnya pasangan resmi atau, maaf, selingkuhan, ndak rela prianya membagi hati dengan orang lain. Kalau pun mau, ya pasti terpaksa, atau dengan diam-diam menangis dalam hati.

    Ya, betul sekali: ego kita yang membuat cinta jadi semacam rasa tai kucing (tai beneran maksudnya). Begitu ego sudah bicara, maunya dipuaskan, dimanja, diperhatikan, diberi; lupa dah bahwa mencintai pada hakekatnya bukan DI – tapi ME – (memberi, memperhatikan, memahami, dll).

    PID

Leave a Reply