Pendidikan Karakter Gagal?

Pendidikan Karakter Gagal?

Kemarin saya mengisi acara gathering karyawan dengan topik tentang bagaimana menulis tentang pendidikan karakter. Pada prinsipnya, saya bertujuan untuk menyemangati dan menginspirasi mereka untuk menulis sebuah karya ilmiah tentang bagaimana mendidik dan mengembangkan karakter anak didik.

Sayangnya alur itu agak dibuat membingungkan oleh pembicara kedua yang sejak awal sudah mengatakan ‘saya tidak percaya pada pendidikan karakter’. Lalu beliau menguraikan beberapa hal yang membuat dia skeptis terhadap pendidikan karakter. Saya akan menguraikannya satu persatu dan mengemukakan sanggahan saya.

Yang pertama tentang definisi. Dia katakan bahwa definisi karakter itu tidak ada. Untuk yang ini sanggahan saya jelas: ada! Di kamus ada, di google ya pasti langsung ketemu. Kan sudah saya katakan sebelumnya bahwa karakter adalah tindakan yang didasari oleh seperangkat nilai yang dipercaya sebagai kebajikan. Jadi kesimpulannya, karakter itu bisa didefinisikan.

Yang kedua, dikatakannya bahwa pendidikan karakter di Amerika sudah gagal. Sanggahan saya, ya, kalau sudah gagall disana, apakah terus kita mau menyerah begitu saja? Kalau cara pandang ini yang dianut, saya khawatir semua upaya lembaga ini untuk berkembang bisa dimentahkan dengan argumen sangat dangkal dan fatalis itu: ‘wong orang lain aja gagal masa iya kita masih mau mencoba?’. Kalau ini menjadi cara pandang kita, kita sudah tamat bahkan sebelum berbuat apapun. Tambahan lagi, kenapa mesti menengok Amerika? Bangsa itu besar badannya tapi dalamnya ada pengeroposan juga. Kenapa tidak menoleh ke pesantren, atau asrama, atau sekolah yang sudah terkenal berhasil mengembangkan karakter anak didiknya?

Yang ketiga, beliau mengatakan dengan gamblang bahwa dia sudah skeptis dengan pendidikan karakter. Nah, ini bisa gawat. Secara psikologis, orang-orang muda yang masih memandangnya sebagai figur yang bijaksana bisa kehilangan pegangan, atau minimal bingung.

Maka saya tetap pada pendirian saya: karakter itu bisa didefinisikan, bisa dikembangkan, dan bisa ditularkan.

Sent from my iPad

3 Comments

  1. Kebetulan saya sudah mendengar tentang isi presentasi di atas pada tahun pertama saya berkarya di kampus, kemudian saya menganggapnya sebagai tantangan. Semoga semangat saya masih bisa terus terjaga. Aminn 🙂

    Nampaknya memang presentasi yang bapak ceritakan di blog ini, di satu sisi dapat bersifat menegasikan, namun di satu sisi justru sangat menantang untuk disikapi dan dijawab. Kalau saya lihat presentasinya, premisnya itu masih berdasar literatur umum, dan ruang untuk menjawab satu persatu poin tersebut sangat terbuka luas.

    Mencoba menanggapi satu persatu secara sekilas : pertama definisi karakter , jelas ada definisnya, dan teman-teman di kampus bahkan sudah melakukan kajian mengenai karakter dari perspektif sejarah Universitas. Hasilnya terumuskan nilai-nilai berdasarkan semangat dan lokalitas, yang (diharapkan) menjadi karkater Universitas. Poinnya adalah karakter bisa terdefinisikan, bahkan dapat merepresentasikan semangat dan visi dari masyarakat.

    Kedua pendidikan karakter di Amerika gagal, ini bisa dilihat sebagai sebuah produk yang tersistemasi (kurikulum, sistem). Mungkin dibilang gagal karena justru karakter sudah sedemikian terintegrasi dengan mata pelajaran / mata kuliah, dan hukum di Amerika sudah cukup menjamin perilaku warga negara. Di Indonesia? ternyata karakter itu bertumbuh bersama kekayaan nilai budaya lokal dan negara mencoba menyatukannya lewat semangat pluralisme karakter luhur dalam Pancasila. Tentunya tugas perguruan tinggi adalah memfasilitasi mahasiswa untuk dapat mengenali dan menumbuhkembangkan kekayaan nilai tersebut dalam dunia akademik.

    Ketiga, skeptis dengan pendidikan karakter, rasanya kalau semua skeptis nda ada mimpi-mimpi dan usaha kita untuk membangun dan mengintegrasikan pendidikan karakter, sekurang-kurangnya di kampus tercintah. Ternyata usaha-usaha itu terus berjalan, hehehe, walau masih banyak kekurangan, tapi perlahan-lahan di tata dan maju terus kedepan.

    Mengutip pemikiran bapak Doni Koesoma, bahwa pendidikan karakter adalah menumbuh kembangkan nilai-nilai luhur dalam diri agar menjadi manusia yang mampu merepresentasikan nilai tersebut secara sadar bertanggung jawab dalam kehidupan. Yang menarik adalah, tugas kita di perguruan tinggi ternyata melanjutkan proses tersebut setelah 18 tahun kehidupan mahasiswa berjalan, sehingga titik mulainya sangat bervariasi dari setiap mahasiswa. Ada yang memang sudah berpotensi, ada yang mbletot, ada yang memiliki karakter unggul, ada yang ndak ngerti karakter, ya.. menjadi tanggung jawab semua pihak untuk menyadari dan menghadapi kenyataan tersebut.

    Skeptis dan Gagal bisa menjadi sangat relatif, karena subjek nya saja memulai dari titik yang berbeda-beda, namun tetap dikembangkan usaha secara terstruktur untuk mencapai suatu titik pencapaian tertentu, itulah yang kita sebut sebagai pendidikan karakter.

    Mungkin Bapak yang menyampaikan materi tersebut berusaha menyentil kita semua agar bisa ditanggapi secara kritis dan direspon. Maap tanggapannya panjang, lagi latihan menulis, hehe.

    Terima kasih atas apresiasi dan dukungannya terhadap pendidikan karakter . Manteb

  2. Pak Agni, terima kasih atas komennya yang panjang. Intinya, kita masih perlu pendidikan karakter. Yang saya cemaskan bukan respon org2 seperti pak Agni, tapi ‘rakyat jelata’ yg cenderung menuruti teladan para senior. Mereka bisa ikut2an skeptis.

    Patrisius

Leave a Reply